
Pintu menjadi gambaran utama dalam bacaan Yohanes 10. Yesus tidak hanya menyebut diri-Nya sebagai gembala, tetapi juga sebagai jalan masuk bagi domba-domba-Nya. Dua gambaran ini tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dalam tradisi Yahudi, banyak kandang domba tidak memiliki daun penutup. Maka, sang gembala akan berbaring di ambang masuk, menjadi pelindung sekaligus penentu siapa yang boleh keluar atau masuk.
Yesus menegaskan dalam Yohanes 10:9:
“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.”
Melalui-Nya, kita menemukan keselamatan dan perlindungan. Di dalam Kristus, ada rasa aman dari ancaman luar. Ia menjadi batas yang memisahkan kita dari bahaya. Kuasa kegelapan tak dapat menyentuh kita tanpa melewati-Nya. Di situlah kita menemukan damai dan pemulihan.
Ketika Yesus menyebut diri-Nya sebagai jalan masuk, Ia menegaskan bahwa setiap langkah hidup kita—baik ke dalam maupun keluar—perlu melibatkan-Nya. Di dalam ruang aman yang Tuhan sediakan, kita dibimbing dan dikuatkan. Dan saat kita kembali melangkah ke dunia luar, penyertaan-Nya tetap nyata.
Padang rumput, tempat kehidupan dan pertumbuhan iman, justru ditemukan saat kita menghadapi kenyataan hidup. Di sana, iman diuji dan diperkuat. Namun, kita tidak sendirian. Seperti dalam Mazmur 23, “gadamu dan tongkatmu itulah yang menghibur aku,” demikian pula Kristus senantiasa membimbing kita dalam dunia yang luas dan menantang.
Ketika penat dan letih menghadang, kita dipanggil untuk kembali. Tempat aman itu bukan sekadar ruang istirahat, tapi tempat penyembuhan dan penguatan. Di sanalah kita diingatkan bahwa dalam setiap perjalanan, arah dan keselamatan kita hanya ditemukan melalui Yesus, satu-satunya jalan masuk.
Dan dalam segala sesuatu, Yesus tetaplah pintu.
Amin.

