Bolehkah Merayakan Halloween?

Bolehkah Merayakan Halloween?

Pertama kali halloween masuk dalam agenda tema dekorasi berbagai mal di kota besar, seingat saya, sejak 2011. Saat itu saya melihat sosok wanita berkostum putih panjang menutupi kaki, rambut, dengan wig extension, terurai hingga pinggang dengan make-up bedak putih, plus krim merah seperti darah di kelopak bawah kedua mata dan sebagian menetes dari hidung, sambil menggendong boneka bayi, berjalan melintasi jembatan penghubung Mal Kelapa Gading dan La Piazza. Tak banyak yang paham makna Halloween, yang kebanyakan diketahui hanya sebatas pakai kostum plus dandanan seram.

Halloween berlangsung pada momen titik balik musim gugur atau autumn equinox; yang merupakan satu dari empat festival peralihan musim (spring equinox yang berdekatan dengan Paskah, summer solstice dan winter solstice atau yule yang berbarengan dengan Christmas). Dirayakan setiap 31 Oktober, sebagai momen pergantian tahun dalam kepercayaan masyarakat Celtic yang disebut Samhain. Itulah masa transisi bumi belahan utara memasuki periode gelap lebih lama, daylight saving time yang menambah satu jam pada musim semi, dikembalikan dengan mengurangi satu jam saat memasuki musim gugur.

Akar dari Halloween adalah paganisme dan witchcraft yang mirip animisme dan dinamisme pada masyarakat Celtic, penduduk Kepulauan Britania (Inggris, Skotlandia, Wales dan Irlandia) sebelum bercampur dengan Anglo-Saxon, Skandinavia, Gothic, Romawi dan etnis Eropa lainnya, dan sebelum Injil masuk ke Eropa. Memasuki abad 20, mereka mengklaim keyakinannya dengan sebutan wicca dan sebagian mulai menjadi organisasi formal. Para penganutnya disebut witch (wanita) dan wizard (pria) – yang mereka artikan sebagai ‘yang bijaksana’ dan menjadi asal-mula kata ‘wisdom’.

Ritual Samhain dipimpin oleh semacam shaman atau dukun yang disebut Druid. Di antaranya, menari mengelilingi api unggun besar hingga ada yang kerasukan setelah dilakukan upacara memanggil arwah, karena diyakini itulah momen dimana portal alam gaib terbuka dan terhubung ke bumi. Sesajen untuk leluhur disediakan dan orang-orang berkostum seram agar (katanya) tidak dikenali oleh para makhluk astral dan para arwah yang di malam itu boleh berbaur dengan kaum manusia hidup. Ada pula ritual dumb supper, yakni keluarga menyediakan meja dengan makanan dan sesajen, dimana yang hidup duduk semeja selang-seling antara kursi yang diduduki, dan kursi kosong untuk arwah anggota keluarga yang (katanya) berkunjung untuk reuni setahun sekali.

Konsep perayaan mirip Halloween juga bisa ditemui pada Malam Satu Suro di masyarakat Jawa, Qing Ming/Ceng Beng atau Sembahyang Kubur pada orang Tionghoa, atau dia de los muertos (hari orang mati) di Meksiko, dimana keluarga menyediakan ofrenda atau persembahan di depan foto anggota keluarga yang telah meninggal, biasanya makanan kesukaan sang almarhum/ah semasa hidup; yang dirayakan setiap 2 November yang masih merupakan rangkaian dari Hallowtide, seperti latar pada film animasi Walt Disney, Coco (2017).

Oleh Gereja (Katolik), Halloween diadaptasikan menjadi momen untuk mengenang dan mendokan mereka yang telah berpulang, baik para orang kudus (santo dan santa) maupun anggota keluarga, pada All Saints Day 1 November dan Hari Arwah 2 November. Yang masih hidup mendoakan arwah yang dianggap masih mengalami api penyucian (purgatory), sedang melewati hukuman atas dosa, agar kelak layak masuk surga. Inilah yang melatar-belakangi praktik menjual surat penghapusan hutang dosa (indulgensi) yang kemudian dikoreksi oleh Gerakan Reformasi yang dipelopori Martin Luther hingga mencetuskan tiga prinsip sola gratia, sola fide, sola scriptura.

Secara singkat, ketiganya berarti keselamatan didapat hanya karena anugerah atau kasih karunia, hanya oleh iman kepada penebusan dan kebangkitan Yesus; bukan karena usaha manusia melalui perbuatan baik atau amal ibadah untuk mengimbangi dosa hingga impas atau api penyucian sebagai hukuman penghapus dosa; yang bersumber hanya dari satu-satunya kebenaran, yaitu Alkitab; sehingga kalangan Protestan menganggap tidak perlu lagi mendoakan arwah.

31 Oktober yang menandai awal bangkitnya aliran Protestan pada 1517, bagi kalangan Lutheran, lebih condong diperingati sebagai Hari Reformasi Gereja, ketimbang Halloween. Doktrin purgatory dipertegas dalam dekrit dari Konsili Trente sebagai gerakan Kontra-Reformasi, meresponi kalangan Protestan yang merumuskan doktrin utama melalui Katekismus Heidelberg. Perdebatan mengenai “dosa dan keselamatan” antara kalangan Katolik — yang meyakini bahwa iman saja tidak cukup, namun harus juga disertai perbuatan, tetap mengerjakan keselamatan dan memeliharanya, pengakuan dosa dan pertobatan terus-menerus dan arwah harus dibersihkan melalui api penyucian sebelum layak masuk surga, serta kebenaran, selain bersumber dari Alkitab juga datang dari tradisi suci dan penafsiran, fatwa atau pendapat dari Magisterium (dewan gereja yang dirumuskan oleh Paus serta para Kardinal, melalui rapat akbar yang disebut Konsili) — masih berlangsung hingga kini dengan Protestan yang meyakini prinsip tiga sola tadi (Roma 3:23-24, Efesus 2:8).

Kembali ke Halloween, tradisi trick or treat muncul saat memasuki abad 20, dimana anak-anak berkostum seram mendatangi rumah-rumah untuk meminta treat berupa permen atau cokelat atau pemilik rumah bakalan kena trick dikerjai, misalnya, dinding rumah dicoret-coret atau bunga di kebunnya dicabuti hingga habis; memiliki akar sejarah dari ritual para druid yang pada petang hari Halloween, datang ke rumah-rumah meminta korban atau tumbal persembahan berupa hewan ternak, makanan, minuman atau harta benda kepada penduduk untuk ritual Samhain di tengah malam. Pemilik rumah yang menolak akan dikutuki mantra. Dari keyakinan untuk menangkal roh jahat, muncul icon khas Jack O’Lantern, yakni pumpkin atau buah labu yang terukir wajah menyeringai dan diisi lilin ditaruh di teras. Sekilas fungsinya mirip amulet atau jimat yang ditaruh di atas pintu, yang pada tradisi Tionghoa – katanya, supaya roh jahat tidak jadi masuk ke rumah, karena takut lihat wajahnya sendiri, dipasanglah cermin; atau kertas pat kua (gambar kepala macan mengigiit pedang).

Jadi, apakah boleh merayakan Halloween? Secara singkat dan sederhana, saya berpendapat: TIDAK.
Karena:

• Melalui pertobatan dan pertumbuhan rohani, tujuan kita adalah menjadi semakin serupa dengan Kristus, secara karakter. Lah, ini kenapa malah tampil nyeremin, mau jadi semakin mirip siapa?

• Arwah atau roh orang mati tidak bisa kembali ke dunia. (Pengkhotbah 9:5-6). Kita boleh mengenang yang telah meninggal dan melakukan ziarah; namun tidak perlu lagi mendoakan arwah karena iman semasa hidupnya yang menentukan keselamatan (versi Protestan) / juga boleh mendoakan arwah agar almarhum/ah semakin cepat melalui api penyucian dan masuk surga (versi Katolik).

• Firman Tuhan tegas melarang praktik ritual memanggil arwah, sihir, ramal, okultisme, jimat, dan sebagainya yang identik dengan Halloween atau latar budaya lainnya. (Ulangan 18:10-12, Imamat 19:31, 20:27).

Ada kuasa kegelapan dari iblis di balik itu semua. Untuk apa nanya ke arwah orang mati dan hasilnya belum tentu baik, padahal kita punya Tuhan yang hidup, yang maha kuasa dan senantiasa merancangkan masa-depan yang baik dalam rencana-Nya? Percaya dan andalkan Tuhan saja, jangan pakai jimat. Arwah jangan dipanggil karena yang datang justru roh jahat yang seharusnya diusir. Untuk mengusir setan, kita berdoa dengan menyebut nama Yesus yang berkuasa, bukan untuk dijadikan mantra, namun merupakan pelengkap dalam panggilan memberitakan Injil, disertai hidup taat, tunduk pada kehendak-Nya dan senantiasa memakai perlengkapan senjata rohani (Markus 16:15-18, Yakobus 4:7, Efesus 6:11-18)

• Terkait tradisi trick or treat, meski ini tidak atau belum secara luas ditiru di Indonesia yang baru sebatas memaknai Halloween sebagai pesta kostum seram; hal ini secara tak disadari, mengajarkan anak-anak untuk boleh melakukan tindakan vandalisme jika permintaan tidak dituruti (tidak diberi permen, boleh merusak rumah tetangga). Seharusnya, kita mengajarkan teladan untuk meminta secara sopan dan tetap bersikap baik meski permintaan ditolak. Ya, ini juga termasuk saat kita meminta kepada Tuhan. Jangan ngambekan lalu berhenti berdoa. Namun tetap tekun, beriman dengan disertai usaha juga hingga doamu terkabul. (YOD)

==
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. (Efesus 5:11)
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

==
oleh: YODI

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *