Bersyukur dan Berbuah dalam Kemurahan Allah

Bersyukur dan Berbuah dalam Kemurahan Allah

Menyadari Betapa Sukarnya Bersyukur

Untuk dapat melihat kebaikan dan kemurahan Allah yang telah kita terima bukanlah hal yang mudah. Apalagi untuk dapat bersyukur atas anugerah-Nya, perlu adanya kesadaran dan kerendahan hati. Sayangnya, sering kali alih-alih bersyukur atas berkat yang kita terima, kita malah memilih untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Dengan hati yang penuh iri dan tidak berbelaskasihan, kita bersungut-sungut atas kemurahan Allah yang tidak sesuai ekspektasi kita—kemurahan yang justru tak terduga dan luas bagi umat-Nya.

Pikiran yang Terbatas, Kasih yang Tak Terbatas

Pikiran manusia yang dangkal sering kali sulit menerima kasih Allah yang luar biasa. Kasih yang, dalam kemurahan-Nya, diberikan untuk mengampuni dan menyelamatkan orang berdosa. Ketika manusia menyesal dan berbalik kepada Allah, Ia mengampuni dan memberkati mereka.

Hal ini pula yang dialami oleh Yunus. Ia kecewa karena Allah mengampuni kota Niniwe. Bahkan ketika pohon jarak yang menjadi naungannya layu, Yunus marah. Allah lalu bertanya, “Layakkah engkau marah?” Yunus marah atas pohon yang bukan ciptaannya, padahal Allah—sebagai Pencipta—lebih layak menunjukkan belas kasihan kepada ciptaan-Nya yang bertobat. Itulah kemurahan Allah yang tak terduga.

Kemurahan Allah: Tidak Terduga dan Tidak Terbatas

Seperti disaksikan oleh Pemazmur, “kebesaran-Nya tidak terduga, kebaikan-Nya tidak terduga, kemurahan-Nya tidak terduga.” Sulit bagi manusia untuk memahami kasih, keadilan, dan kemurahan Allah.

Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur menguatkan hal ini. Semua pekerja, tanpa memandang jam kerja, menerima upah yang sama. Para pekerja pertama kecewa karena merasa tidak diperlakukan adil. Namun, Sang Pemilik kebun tidak pernah melanggar janji-Nya. Ia berhak menyatakan kemurahan-Nya kepada siapa pun Ia kehendaki.

Bukankah seperti itu juga Kerajaan Allah? Bukan tentang siapa yang lebih dulu datang, tetapi tentang kemurahan Allah yang memberi anugerah yang sama kepada semua orang (Yohanes 3:16).

Dipanggil untuk Berbuah dalam Kristus

Dalam hidup yang adalah Kristus (Filipi 1:21), kita dipanggil untuk menghasilkan buah. Buah yang membangun iman dan mendatangkan sukacita bagi sesama, agar Kristus dimuliakan. Maka selama ada kesempatan, mari bekerja menghasilkan buah yang kekal.

Buah seperti apa yang dikehendaki Allah? Buah Roh yang dihasilkan oleh hidup yang dipenuhi Roh Allah, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22).

Bersyukur: Akar dari Hidup yang Berbuah

Manusia dapat berbuah jika ia memiliki hati yang bersyukur. Bersyukur atas keberadaan dirinya sebagai ciptaan Allah. Ia sadar bahwa dirinya diciptakan segambar dengan Allah, dan karena itu harus menjaga citra Allah dalam dirinya melalui hidup yang taat dan setia.

Sebagai sahabat Allah, kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, dalam pengabdian, ibadah, dan pelayanan yang penuh kasih. Seperti Kristus yang taat hingga mati di kayu salib (Filipi 2:8), demikian pula kita dipanggil untuk percaya, menderita, dan melayani—bukan sebagai hamba, tapi sebagai sahabat yang mengerti kehendak-Nya.

Melayani dengan Kasih, Bersyukur dalam Anugerah

Melayani dengan kasih kepada Allah akan membuat kita mampu bersyukur atas anugerah-Nya—baik untuk diri sendiri maupun sesama. Maka dari itu, dalam hidup ini kita dipanggil untuk berbuah bagi kemuliaan-Nya. Bukan karena kekuatan kita, tetapi semata-mata oleh kemurahan Allah (2 Korintus 12:9).

His grace is enough for us all. So let us be grateful and be fruitful for the glory of our God. ♥ GLTS ♥

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *