
Bacaan diambil dari Kejadian 17 : 1–7, 15-16; Mazmur 22:23-31; Roma 4 : 13 – 25; Markus 8 : 31 – 38
Semangat Juang yang Penuh Keberanian
Pdt. Andri Purnawan, penulis rancangan khotbah Minggu 25 Februari 2018, mengutip pernyataan terkenal dari Sir Winston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya di masa Perang Dunia II:
“I have nothing to offer but blood, toil, tears, and sweat.”
Artinya, “Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja keras, air mata, dan peluh.”
Kalimat ini disampaikan Churchill untuk membangkitkan semangat rakyatnya agar pantang menyerah dalam menghadapi situasi genting. Ia juga menambahkan:
“Kita akan mempertahankan pulau kita, walau berapa pun harganya; kita akan bertempur di pantai, di tempat pendaratan, di padang dan di jalan, kita akan bertempur di bukit. Sekali-kali kita tidak akan menyerah…”
Kata-kata itu mencerminkan sikap yang penuh keberanian dalam menghadapi tantangan besar.
Teladan Yesus dalam Menghadapi Penderitaan
Keberanian sejati juga tercermin dalam sosok Yesus Kristus. Dalam Injil Markus 8:31–32, Yesus secara terbuka menyampaikan kepada murid-murid-Nya bahwa Anak Manusia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para pemimpin agama, dibunuh, dan akan bangkit pada hari ketiga.
Pernyataan itu disampaikan-Nya dengan terus terang, sebuah sikap yang menggambarkan keberanian untuk menyatakan kebenaran, meski berisiko tinggi.
Di tengah tekanan penjajahan Romawi dan kuatnya dominasi pemuka agama Yahudi, pengajaran Yesus bisa dianggap membahayakan. Namun, Ia tidak gentar. Dengan penuh keberanian, Yesus tetap setia pada misi-Nya menyatakan Kerajaan Allah, bahkan hingga memberikan Diri-Nya secara total dan tanpa kompromi.
Keberanian Menyangkal Diri dan Memikul Salib
Yesus mengajarkan bahwa hidup iman bukanlah jalan yang mudah. Ia tidak datang untuk membuat hidup manusia lebih ringan, tetapi untuk membentuk manusia yang lebih mulia.
Karena itu, Yesus mengajak setiap pengikut-Nya untuk berani menyangkal diri, memikul salib, dan menghidupi iman dengan penuh keberanian.
Ia bahkan memperingatkan, siapa pun yang malu mengakui-Nya di tengah dunia yang tidak setia, akan mengalami penolakan serupa saat Ia datang dalam kemuliaan.
Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya (Markus 8:38).

