Ibadah Pembinaan, 22 Juli 2018: Tanya-Jawab

Jawaban atas pertanyaan Artha

Sikap Paulus terhadap perbedaan budaya termasuk makanan untuk persembahan dalam 1 Korintus 10:27-33 adalah  menghormati.

Dalam ayat-ayat tersebut, kita diijinkan untuk makan apapun saat diundang oleh seseorang yang bahkan tidak percaya (tidak beriman Kristiani).  Dan ayat 33, “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka boleh selamat”. Bertemu dengan yang tidak seiman, Paulus mengajak kita menghormati keyakinan dan pemahaman mereka. Karena kita tidak dapat menggunakan pemahaman kristiani untuk menjawab pemahaman seseorang dalam keyakinan yang lain. Ketika kita bisa menghargai mereka, maka mereka punya kesempatan untuk bertanya akan sikap kita. Dan kita punya peluang untuk memberikan pemahaman kita tentang hal tersebut. Inilah cara kita untuk menyelamatkan dunia.

 

 

Jawaban atas pertanyaan NN

Penjelasan tentang usia Yesus ada dalam Lukas 2:42, “Ketika Yesus telah berusia dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.”

Yesus beserta orangtua dan keluarganya serta banyak orang Yahudi lain datang ke Bait Allah dalam menjalankan ibadah raya rutin tahunan.

Pada saat itu, Yesus hendak tinggal di Bait Allah (Lukas 2:49), “Jawabnya….. Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapaku?”

Namun orangtuanya tidak paham akan maksud Yesus sehingga Lukas 2:50 mencatat: …..”mereka tidak mengerti”….., meski tanda-tanda Yesus sebagai Anak Allah sudah dihadirkan sejak awal pemberitahuan malaikat Tuhan kepada Maria, bahwa ia akan hamil sebagai karya Roh Kudus, hingga peristiwa bintang besar di atas kota Bethlehem saat kelahiran Yesus. Karena orangtuanya belum paham, Yesus pun taat pada kehendak orangtuanya, sebagaimana catatan dalam Lukas 2:51, “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazareth”.

 

Dengan demikian, Yesus bersama keluarganya di Nazareth seperti yang disebutkan Lukas 2:51, hingga memulai karyanya pada usia sekitar 30 tahun, sebagaimana pernyataan Injil Lukas 3:23, “Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun….”

 

Tentang ketiadaan foto Yesus

Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

 

Jaman Yesus hadir dan berkarya di tengah dunia, belum ada kamera yang menghasilkan foto. Yesus adalah orang Yahudi, maka Ia berwajah dan berkarakteristik orang Yahudi. Kitab Sucilah sumber utama pengetahuan akan Yesus. Dan melalui iman sebagai anugerah Tuhan, maka kita dapat mengenali wajah Yesus sebagaimana yang dipersaksikan oleh manusia yang berganti-ganti hidup di dunia ini dan kesaksian Alkitab sendiri telah berumur ribuan tahun dan tak akan berubah. Bahwa Yesus berwajah Yahudi dan gambar Yesus yang kita kenal saat ini adalah benar wajah Yesus yang diimani oleh umat Tuhan dari dulu, sekarang hingga selamanya sebagai hasil kesaksian orang-orang beriman sepanjang masa.

TEMA: ANAK ALLAH

PERTANYAAN TERTULIS IBADAH PEMBINAAN:

 

  1. Mengapa Allah menggunakan istilah “Bapa – Anak”, apakah hubungan ibu – anak kurang penting?

JAWABAN:

Dominasi laki-laki dalam Alkitab disebabkan oleh budaya patriakal.Yahudi amat sangat patriakal bahkan sampai saat ini. Maka tidak heran jika hal itu mempengaruhi penulisan Alkitab. Namun Yesus menyebut Bapa kepada Allah dengan sebutan “Abba”,bukan sekedar budaya patriakal,namun karena relasi yang sangat dekat. Maka dalam relasi kita dengan Tuhan, apakah kita boleh menyebutnya sebagai Ibu? Saya rasa boleh saja.

 

  1. Mengapa Allah tidak “bersegera” berinkarnasi dan “menunggu” sekian lama (Perjanjian lama – Perjanjian Baru)

JAWABAN:

Allah memang panjang sabar. Mazmur 103:8 “Sebab TUHAN pengasih dan penyayang, Ia panjang sabar dan kasih-Nya berlimpah.” Allah begitu sabar kepada bangsa Israel yang tegar-tengkuk. Allah selalu membuka kesempatan bagi bangsa Israel untuk bertobat, namun ternyata siklus dosa tidak pernah berhenti. Sampai Allah yang menghentikannya sendiri bagi manusia.

 

  1. Sebelum Allah berinkarnasi, di mana pribadi Yesus? Apakah belum ada (dulu hanya 1 pribadi)?

JAWABAN:

Dalam Perjanjian Lama konsep Allah adalah Allah yang monoteis (monos= tunggal, Theos = Tuhan). Yesus baru dinubuatkan di Perjanjian Lama. Namun bukan berarti Trinitas belum ada. Trinitas sudah muncul sejak di Perjanjian Lama, namun sangat tersirat. Misalnya di dalam Kejadian 1:1-3 kita melihat rujukan-rujukan yang berbeda kepada Allah, yaitu Allah, Allah Firman dan Allah Roh. Dalam kejadian 1:26 Allah sesuai dengan keputusan kehendak-Nya sendiri, berbicara dalam diri-Nya sendiri, untuk membentuk manusia “dalam gambar Kita.” Dalam Kejadian 11:5,7 kita membaca bahwa Allah turun untuk melihat kota dan menara Babel, dan saat berbicara, Dia berkata, “Baiklah Kita turun.”

 

  1. Jika Allah Bapa dan Yesus adalah satu, mengapa Yesus perlu berdoa dan memohon kepada Allah? Kalau hanya karena relasi, bukankah relasi itu minimal antara 2 sosok yang berbeda? Kalau Allah berinkarnasi pada sosok Yesus, bukankah seharusnya keseluruhan Allah ada di dalam diri Yesus? Atau hanya “essence” nya Allah saja yang ada di dalam diri Yesus? Atau seperti membelah diri, jadi ada Allah dan ada Yesus? Bagaimana menjelaskan hal ini dengan logika yang masuk akal? Tapi dari penjelasan dikatakan Firman itu ada sejak awal dan bersama Allah, bagaimana menjelaskan kesatuannya?

JAWABAN:

Di dalam Yohanes 14:10 Yesus berkata, “…Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…” dan di dalam Yohanes 10:30 Yesus mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu. Ayat diatas lebih lanjut dipertegas dalam ayat :”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). Kesatuan dalam inkarnasi Allah adalah kesatuan yang utuh dan menyeluruh.

Soal doa Yesus kepada Bapa, didasari atas identitas Yesus sebagai manusia. Menariknya kita dapat melihat bagaimana Yesus yang sangat beriman. Wujud dari ketaatan dan keimanan Yesus adalah di dalam Doa. Bahwa sebagai manusia Yesus juga merasakan kelemahan, oleh karena itu Yesus berdoa kepada Allah yang memang ada di dalam dirinya sendiri. Jadi jika ditanya kenapa Yesus berdoa? Karena Yesus adalah manusia.

 

  1. Apa perbedaan antara “inkarnasi” dan “transubstansi”

JAWABAN:

Perbedaan yang paling mencolok adalah mengenai wujud nyata dari Inkarnasi dan Transubstansi. Dalam Inkarnasi, Allah benar-benar menjadi daging dalam manusia yang bernama Yesus. Sedangkan dalam Transubstansi Roti dan Anggur berubah menjadi daging dan darah Kristus hanya esensi atau hakekatnya, wujud aslinya tidak mengalami perubahan.

 

  1. Ketika Allah berinkarnasi di dalam diri Yesus Kristus, mengapa disebut Anak Allah? Mengapa tidak langsung disebut sebagai Allah saja?

JAWABAN:

Selain Malaikat Gabriel dan Iblis yang menyebut Yesus sebagai Anak Allah. Allah sendiri menyatakannya dalam Matius 3:17:lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Mengapa perlu disebut sebagai Anak Allah, karena Yesus adalah manusia. Allah memang sengaja memproklamirkan kemanusiaannya di tengah dunia.

 

  1. Banyak orang yang belum/tidak percaya Yesus bertanya pada saya: Jika Tuhan menjadi manusia, lalu bagaimana dengan keseimbangan alam semesta? Saya belum dapat menjelaskan dengan baik pertanyaan tersebut.

JAWABAN:

Alam Semesta sepenuhnya ada didalam kuasa Tuhan. Tuhan yang “maha” kuasa bersifat kekal dan tidak terbatas, maka tidak ada yang tidak mungkin dalam kuasa Tuhan untuk tetap menjaga keseimbangan alam semesta, di saat Allah juga menjadi manusia. Namun jujur ini adalah nalar saya, karena di Alkitab tidak dijelaskan mengenai istilah “keseimbangan alam semesta”

 

  1. Ketika dalam masalah, bagaimana kita dapat merasakan kehadiran Allah yang sedang mendekat?

JAWABAN:

Ini adalah pengalaman iman. Setiap orang mempunyai pengalaman serta rasa yang berbeda-beda saat merasakan kehadiran Allah. Namun jika ditanya bagaimana dapat merasakan, hal yang paling mendasar yang dapat kita lakukan adalah berdoa. Dengan berdoa kita seperti membuka pintu, hubungan kita dengan Allah menjadi terbuka dan “nyambung”. Dari pengalaman yang pernah ada biasanya orang merasakan kehadiran Allah yang mendekat saat sudah melalui masalah tersebut. Mereka berefleksi, dan mengingat rangkaian peristiwa yang ada, lalu menyadari bahwa Ternyata Tuhan ikut serta mengatasi masalah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *