MATA IMAN #955
Rabu, 9 November 2022
Bacaan: Markus 2:1-12
Nas : … lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring (ayat 4b)
SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT
Dalam sebuah Kebaktian Peneguhan dan Pemberkatan Pernikahan di GKI Kelapa Cengkir beberapa tahun lalu, Pnt. ENO mengatakan dalam sambutannya bahwa walaupun telah menikah puluhan tahun, dia tetap menemukan hal-hal baru pada istrinya. Saya tersenyum mendengarnya. Karena memang sesungguhnya sebuah pernikahan merupakan wadah untuk beradaptasi seumur hidup. Termasuk bersedia mengambil sikap yang tepat saat muncul perbedaan pendapat.
Atap rumah orang Yahudi di zaman Tuhan Yesus berbentuk datar yang terbuat dari jerami dan tanah liat. Bisa dibayangkan tingkat kesulitan yang dialami oleh empat orang ketika mereka bersepakat menggotong teman yang lumpuh. Mula-mula harus membawa si sakit sambil menapak tangga, melubangi atap rumah dan kemudian menurunkannya dengan hati-hati ke ruangan, tempat Tuhan Yesus sedang memberitakan Firman. Entah sebelumnya terjadi adu argumentasi atau tidak, yang pasti mereka memiliki tujuan sama, dan berhasil mencapai kata sepakat untuk mencurahkan perhatian dan pikiran, serta mengorbankan waktu, tenaga dan dana agar si teman yang lumpuh sembuh kembali oleh belas kasih Tuhan Yesus.
Ketika berelasi dengan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, kata sepakat tidak selalu hadir. Kita bisa memilih ngotot mempertahankan argumen sendiri, atau bersedia menawarkan prinsip “sepakat untuk tidak sepakat”. Sehingga tak ada yang menang atau kalah, dan mampu menghargai bahwa perbedaan itu indah. (SLS)
KAMU TIDAK BISA MEYAKINKANKU, DAN AKU TIDAK BISA MEYAKINKANMU, JADI MARI KITA SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT. ( Regina Brett, dalam buku “Tuhan Tak Pernah Tidur” )
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir
dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by wa.me/+6281388901368

