Air Bah, Kisah Nuh atau Epik Gilgamesh?

Pernahkah Sobat Cengkir menonton film bertemakan disaster atau bencana seperti “2012”, “Awake”, “Don’t Look Up”, “The Day After Tomorrow”, “Japan Sink 2020” dan berbagai film sejenis lainnya? Mungkin kita merasakan kengerian karena banyaknya korban dan menanti keajaiban seperti apa yang akan terjadi. Salah satu film lawas yang membawakan film bencana dengan balutan komedi adalah Evan Almighty. Dengan membawa alur terjadinya banjir bah dan keselamatan pada beberapa orang terjadi melalui bahtera besar, sebagian dari kita mungkin teringat akan tokoh di Alkitab, yaitu Nuh.

Kemiripan terkait kisah air bah ternyata juga terjadi di cerita masa lampau, yaitu Nuh dan Epik Gilgamesh. Berbeda dengan Nuh yang menjadi sebuah narasi tertulis di Alkitab, Epik Gilgamesh merupakan satu puisi dengan beberapa kisah di dalamnya dan diperkirakan berasal dari Sumeria, Mesopotamia selatan, sekitar 2.100-2.000 S.M. Dalam kelas pembinaan GKI Kelapa Cengkir di bulan Mei, kita diajak untuk memahami berbagai cerita mitologi dunia dan Alkitab, seperti Ishtar dan Ester, Hercules dan Simson, Ziggurat Nimrod dan Babel, serta Banjir Gilgamesh dan Nuh. Sebagai penutup dari rangkaian kelas tersebut, GKI Kelapa Cengkir mengundang Pdt. Robert Setio, Ph.D, dosen Perjanjian Lama dari Fakultas Filsafat Teologi UKDW Yogyakarta yang memberikan wawasan terkait cara memandang kesamaan dan perbedaan dari berbagai kisah mitologi. 

Mengenal Kisah Banjir Gilgamesh

Dalam Epik Gilgamesh, Utnapishtim adalah seorang laki-laki yang ditugasi oleh dewa Ea (Enki) untuk membuat sebuah bahtera yang besar karena akan ada banjir besar. Banjir tersebut merupakan kesepakatan sembunyi-sembunyi dari para dewa tetapi dibocorkan oleh dewa Ea kepada Utnapishtim. Bahtera tersebut dibuat dari balok yang utuh dan ketika disusun tidak ada celanya sama sekali sehingga sinar matahari tidak dapat masuk, ketika pintunya ditutup, tidak ada celahnya sama sekali.

Ukuran dari bahtera Utnapishtim memiliki kesamaan untuk panjang, lebar dan dalamnya dengan bahtera Nuh, yaitu 60 meter dan bertingkat 6. Bedanya, bahtera Utnapishtim diselesaikan pembuatannya dalam 5 hari dengan melibatkan banyak tukang kayu dan suasananya seperti pesta perayaan tahun baru (banyak makan minum). Setelah selesai, Utnapishtim memasukkan sanak keluarganya, para tukang kayu pembuat bahtera, binatang-binatang di padang dan hutan serta padi-padian ke dalam bahteranya. Dia juga membawa emas dan perak.

Setelah 12 hari berada di tengah banjir besar, Utnapishtim melabuhkan bahteranya di lereng gunung Nisir selama 7 hari dan melakukan pemeriksaan dengan cara mengeluarkan burung, seperti yang Nuh lakukan. Setelah air mereda, Utnapishtim memberikan persembahan korban. Tetapi salah satu dewa, yaitu dewa Enlil, marah karena seharusnya tidak ada yang boleh selamat dalam banjir besar itu. Singkat cerita, kemarahan dewa Enlil mereda karena Utnapishtim sujud menyembahnya; dewa Enlil pun juga memberkati Utnapishtim dan keluarganya serta memberikannya kedudukan sebagai dewa.

Perbedaan Kisah Nuh dan Banjir Gilgamesh

Kita dapat melihat kisah terkait banjir bah dengan tokoh Nuh dalam Kejadian 6:9-15 serta kejadian 7:1-5. 19-24. Jika kita membandingkan, terdapat tiga perbedaan tekanan dari kedua kisah tersebut. Yang pertama adalah penyebab banjir besar, di mana dalam puisi Epik Gilgamesh terjadi karena rencana para dewa yang merasa bising akan perilaku manusia, sedangkan dalam kitab Kejadian terjadi karena kejahatan manusia.

Perbedaan yang kedua adalah sikap dari entitas tertinggi dari pembuat air bah. Dalam Epik Gilgamesh, para dewa seolah tidak sependapat; para dewa ingin semua manusia mati, kecuali dewa Ea. Begitu pun ketika Utnapishtim selamat, dewa Enlil merupakan satu-satunya dewa yang awalnya geram. Berbeda dengan kisah air bah dalam kitab Kejadian, Allah dalam keesaan-Nya yakin dengan keputusan-Nya untuk memusnahkan bumi kecuali Nuh dan keluarganya karena Nuh adalah orang yang saleh seutuhnya. Allah pun juga berjanji tidak akan melakukan bencana air bah kembali.

Penekanan perbedaan ketiga terdapat dalam penghargaan pada tokoh. Dalam Epik Gilgamesh, Utnapishtim dijadikan dewa dan dikisahkan selanjutnya akan bertemu dengan tokoh yang bernama Gilgamesh. Berbeda dengan Nuh dalam kitab Kejadian, ia tetap menjadi manusia biasa yang tinggal di bumi, bahkan ia pun dapat jatuh dalam kesalahan, mabuk hingga telanjang.

Pembelajaran dari Kedua Kisah mengenai Air Bah

Dalam perbedaan kedua kisah air bah tersebut, kita dapat menjimpit beberapa pesan bagi kehidupan kita masa kini.

  • Kita perlu memiliki kesadaran akan adanya bencana besar dalam kehidupan manusia dan alam;
  • Setelah terjadinya sebuah bencana besar, kita perlu belajar merespons kehidupan dengan cara yang positif yaitu munculnya peradaban baru yang lebih baik daripada sebelumnya;
  • Penghukuman perlu dilakukan bila dirasa terjadi sebuah kesalahan dan kebenaran perlu ditegakkan;
  • Kita perlu mengakui kemampuan manusia, walaupun memiliki kecerdasan, manusia tetap memiliki keterbatasan sehingga memerlukan Allah;
  • Terlebih dalam Alkitab terdapat gagasan pengampunan, di mana Allah tidak akan menghukum dan menghapuskan segala kehidupan sekalipun manusia berlaku jahat.

Sebuah Cara Pandang Melihat Kesamaan Cerita Mitologi Dunia dan Alkitab

Dalam sesi diskusi, Pak Robert Setio menyampaikan agar kita patut berhati-hati untuk tidak menyamakan cara berpikir modern yang kita miliki dengan cara berpikir orang-orang di masa lalu; salah satunya adalah pemahaman terkait copy-paste atau isu plagiarisme. Di masa lalu saling memakai ide dari orang lain bukanlah hal yang patut dipermasalahkan seperti masa kini dengan gagasan hak cipta. Cerita masa lalu di daerah Asia Barat Daya Kuno, termasuk di Israel dan wilayah sekitarnya, sangat wajar memiliki kemiripan, hal ini diibaratkan dengan ilustrasi khotbah yang wajar untuk disampaikan satu sama lain dengan tujuan menyampaikan pesan positif bagi pendengarnya.

Dengan berbagai kisah mitologi yang mungkin mirip dengan narasi yang tertulis di Alkitab, kita perlu memahami bahwa setiap penyaduran dan penggunaan cerita mempunyai maksud tersendiri. Orang-orang di masa lalu mungkin tidak mempersoalkan kemiripan satu kisah dengan kisah lainnya, karena yang diprioritaskan adalah pesan yang ditempatkan dengan konteks kehidupan mereka.

Dengan ketekunan kita untuk bertumbuh memahami firman Allah, termasuk melalui kelas pembinaan yang diadakan GKI Kelapa Cengkir, kita akan dapat melihat masing-masing kisah dengan spesifik sehingga dapat melihat pesan yang beragam dan kita mendapatkan pemaknaan Alkitab. Mari kita merenungkan makna dari setiap kisah yang tertulis dalam Alkitab dengan terang hikmat dari Allah.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *