Hal yang Perlu Dilakukan Saat Stres: Melepaskan Diri

Sebelumnya, kita berbicara tentang gerakan “menuju” dan “menjauhi”. Saat kita terpancing oleh pikiran dan perasaan yang sulit, kita cenderung “bergerak menjauh” dari nilai-nilai kita. Mungkin kita berkelahi, bertengkar, atau berseteru. Atau kita menarik diri dan menjauhi orang-orang terkasih. Atau banyak berbaring di tempat tidur.

Jadi, hari ini kita akan belajar tentang melepaskan diri kita dari pikiran dan perasaan yang sulit. 

Saat sedang dihadapkan dengan masalah dan merasakan hal-hal berat mengganggu pikiran, seringkali bertanya apakah pikiran dan perasaan sulit tersebut akan hilang? Wajar kalau kita ingin semua itu hilang. Tetapi apakah realistis kalau kita berpikir bisa begitu saja menghilangkannya?

Sebagian orang setidaknya mencoba berbagai macam cara untuk melepaskan itu semua seperti membentak, mencoba tidak memikirkannya, menghindari orang, tempat, atau situasi sampai mencoba bahan-bahan terlarang bahkan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Tapi apakah itu benar menghilangkan perasaan itu? Bisa, tetapi tidak lama. Semua itu segera kembali. Bahkan, sebagian besar dari cara itu malah menarik kita menjauh dari nilai-nilai kita. Jadi, saat mencoba menghilangkan pikiran dan perasaan hidup kita biasanya menjadi lebih buruk.

Bukannya mencoba menjauhkan semua itu, kita justru berhenti berjuang melawannya. Dan setiap kali kita terpancing lepaskan diri kita lagi. Ini yang dinamakan “Melepaskan Diri”.

Bagaimana cara melakukannya?

Pertama kita merasakan suatu pikiran atau perasaan yang memancing kita. Kemudian, beri nama perasaan itu. Menamai diawali dengan berkata dalam hati, “Ini pikiran” atau “Ini perasaan” Namun, jika kemudian kita tambahi frasa, “saya merasa”, biasanya kita bisa menjadi sedikit lebih terlepas. Mengapa bisa seperti itu? Itu karena pikiran dan perasaan memancing kita saat kita tidak menyadarinya.

Saat kita berbicara dengan teman, memperhatikan yang dikatakannya tiba-tiba terpancing. Tiba-tiba, kita tidak lagi mendengarkan teman yang berbicara. Hanya separuh mendengarkan. Kita tidak memberi teman kita perhatian penuh. Mengapa? Karena kita terpancing oleh pikiran dan perasaan kita sendiri.

Setelah “Merasakan” bahwa kita sudah terpancing dan “Menamai” apa yang memancing kita, langkah berikutnya adalah “Berfokus Kembali” pada kegiatan kita. Beri perhatian penuh kepada orang di sekitar kita, siapa pun itu, dan kegiatan kita, apa pun itu. Walaupun sedang terpancing, coba berikan lagi perhatian itu pada makanan yang sedang kita makan. Walaupun sedang emosi, kembalilah bermain dengan anak-anak dengan riang.

Jadi, untuk melepaskan diri dari pikiran dan perasaan, semakin banyak kita melatihkan cara ini, kita akan semakin terampil. Pastikan kita dapat melatihkan cara ini terus-menerus, sepanjang hari saat kita menjalankan kegiatan kita sehari-hari.

Setiap kali merasa terpancing, jalankan langkah-langkah ini:

1. Rasakan pikiran dan perasaan itu

2. Namai itu semua dalam hati

3. Fokuskan kembali pada kegiatan yang dilakukan

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *