Persekutuan dengan Allah: Dasar Persekutuan dengan Sesama

Dalam liturgi GKI, ada yang disebut dengan “salam damai” yang mana maksudnya ialah “kita tidak hidup terpisah-pisah akibat dosa, melainkan kita hidup berdamai dengan sesama kita.” Jelas sekali bahwa hidup berdamai dengan sesama itu dimungkinkan karena karya pengampunan dosa yang dikerjakan oleh Allah sendiri. Oleh karena pengampunan dosa oleh Allah melalui salib Kristus inilah kita dimungkinkan hidup dalam persekutuan dengan-Nya serta memungkinkan kita hidup dalam persekutuan dengan sesama. Beberapa bentuk persekutuan dengan sesama, yaitu sebagai berikut.

PERSEKUTUAN KELUARGA: Melalui Pernikahan

Di GKI Kelapa Cengkir, terdapat tindakan simbolik dalam kebaktian Peneguhan dan Pemberkatan Pernikahan, yakni dua lilin kecil menghidupkan satu lilin besar, kemudian dua lilin kecil itu dimatikan. Tindakan simbolik ini hendak mengatakan bahwa di dalam pernikahan terdapat dua pribadi yang berbeda dijadikan satu di dalam Kristus. 

Alkitab memberikan aturan bagaimana hidup sebagai suami-istri (Efesus 5: 22–28).

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala  jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 5:28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.

Dari perkawinan seperti inilah terbentuk keluarga. Harus dikatakan bahwa keluarga adalah bentuk persekutuan manusia yang paling kecil. Sesudah keluarga, gereja, kemudian masyarakat, dan negara.

PERSEKUTUAN PEKERJAAN: LINGKUNGAN KERJA

Bentuk persekutuan dengan sesama yang lain adalah lingkungan kerja. Rasul Paulus dalam Efesus 6:5–9  menasihati bagaimana seharusnya sikap seorang majikan terhadap buruhnya, begitu pun sebaliknya. Bahkan dalam surat Filemon, Paulus mendesak Filemon untuk menerima kembali Onesimus yang telah melarikan diri dan berbuat kesalahan pada tuannya (Filemon).

MASYARAKAT

Dalam Yeremia 29:4–7 sangat jelas bahwa melalui Yeremia, Allah memerintahkan umat-Nya yang sedang berada dalam pembuangan untuk berbaur dengan rakyat. Perjanjian Baru juga memberi perhatian kepada kehidupan masyarakat. Berbuat baik, menghormati, mengasihi dengan tetap takut kepada Allah menjadi apa yang ditekankan (1 Petrus 2:12–17).

(Matius 5:13–16) dalam semua bentuk persekutuan antarsesama, menjadi berkat pada semua bentuk persekutuan yang terpenting. Ia tidak boleh diam, tetapi sebaliknya, harus berfungsi dengan baik. Ia harus menjadi pelopor dan memberikan sumbangan yang berharga kepada masyarakat. Oleh karena itu, ia harus peka dengan masalah-masalah yang ada di masyarakatnya dan bertindak dengan tepat. Di lain pihak, ia harus secara kritis menghadapi perkembangan dan pengaruh kebudayaan modern di masyarakatnya. Tuhan Yesus memberkati.

sumber: Aguskermite@yahoo.com

Disunting oleh Ezra Epiphania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *