
Titik Nol: Kesadaran Akan Siapa Kita di Hadapan Allah
Titik nol adalah kesadaran penting dalam hidup manusia—kesadaran bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan Allah. Sebagian orang memahami titik ini sebagai saat lahir ke dunia, yang lain melihatnya sebagai momen kelahiran kembali secara rohani: saat seseorang bertobat dan berserah sepenuhnya pada Tuhan. Apa pun pemahamannya, satu hal tetap: di hadapan Allah, segala gelar, status, dan harta tidak membuat kita lebih berarti. Kita datang tanpa membawa apa-apa, dan kita bergantung sepenuhnya pada anugerah-Nya.
Miskin Karena Dosa, Bukan Karena Harta
Awal pertobatan sejati adalah ketika seseorang menyadari bahwa kita ini miskin secara rohani. Tidak peduli seberapa banyak harta yang kita miliki, di hadapan Allah, semua manusia setara karena dosa. Dalam 2 Korintus 8:9 dijelaskan bahwa Yesus Kristus, yang memiliki segalanya, rela menjadi miskin demi menyelamatkan manusia. Ia lahir dalam kesederhanaan, diletakkan di palungan, dan dikunjungi para gembala—melambangkan bahwa keselamatan itu diberikan kepada semua, bukan hanya yang berkedudukan tinggi. Jelaslah bahwa berkat duniawi bukanlah hasil dari kesalehan, dan Tuhan tidak membenci orang miskin, Mazmur 69:34 menyatakan bahwa Ia justru mendengarkan mereka.
Status Dunia Tidak Menyelamatkan
Banyak orang menyandarkan diri pada titel, jabatan, dan kekuasaan. Namun semua itu hanya hiasan hidup yang tidak mampu menyelesaikan persoalan dosa. Kita sering kali lupa bahwa semua manusia tetaplah orang berdosa yang membutuhkan keselamatan dari Tuhan. Gelar akademis atau jabatan tinggi tidak membedakan seseorang di hadapan Allah. Keselamatan hanya ada melalui Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12). Jika Tuhan memberi kita kedudukan, gunakan itu untuk melayani dan memuliakan-Nya, bukan untuk menyombongkan diri.
Hidup yang Tidak Berangkat dari Kesadaran Diri
Saat seseorang tidak memulai hidup rohaninya dari sikap rendah hati dan berserah, maka Kekristenannya menjadi dangkal. Ia tampak religius, tetapi hidupnya tak mencerminkan Kristus. Inilah sebabnya banyak orang non-Kristen merasa tidak tertarik kepada iman Kristen. Mereka melihat gaya hidup sebagian orang Kristen yang tidak berbeda dengan dunia—bahkan kadang menjadi batu sandungan. Karena itu penting bagi kita untuk memurnikan kembali iman kita, bukan dengan membanggakan dunia, tetapi dengan bersandar pada kasih karunia Allah semata.
Penutup: Kembali ke Titik Nol
Tidak ada jalan lain untuk hidup dalam kebenaran selain kembali ke kesadaran semula—kesadaran bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Biarlah kita meninggalkan segala kesombongan, dan hidup dalam ketulusan, rendah hati, serta iman yang sejati. Saya tidak tahu dari mana perjalanan hidup Anda dimulai, tapi hari ini, izinkan saya mendorong Anda: kembalilah kepada kesadaran dasar itu. Mulailah dari hati yang kosong, terbuka kepada Tuhan. Di sanalah awal dari hidup yang baru.
– Pdt. Em. A. Kermite

