
Keprihatinan dan Sikap Diam Kita
Saat ini, kondisi negeri ini cukup memprihatinkan. Radikalisme tumbuh subur, intoleransi merebak, dan diskriminasi berbasis suku, agama, ras, serta antargolongan terjadi di berbagai lini kehidupan. Lebih menyedihkan lagi, banyak orang justru memilih diam saat menyaksikan ketidakadilan dan penyimpangan moral di sekitar mereka. Apakah cukup hanya merasa prihatin dan membahas persoalan ini di kedai kopi tanpa tindakan nyata?
Bahaya Menjadi Mayoritas yang Pasif
Yang terjadi adalah, banyak orang Kristen menjadi bagian dari kelompok silent majority. Mereka memilih diam, bersembunyi dalam kenyamanan, dan enggan menyuarakan kebenaran. Ucapan ini pun sering kita dengar: “Indonesia tidak kekurangan orang baik. Persoalannya, banyak orang baik hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa.”
Bahkan, muncul sindiran di media sosial: “Kalau ‘sing waras ngalah’ terus diikuti, dunia bisa dikuasai orang gila.” Diam dalam konteks ini bukan kebijaksanaan, tetapi bentuk kelalaian moral.
Teguran Alkitab Bagi yang Berdiam Diri
Dalam Yehezkiel 33, Tuhan menunjuk nabi Yehezkiel sebagai penjaga kota, yaitu penjaga moral umat. Ia harus memperingatkan mereka yang hidup dalam dosa. Bila tidak, dan orang itu binasa, maka tanggung jawabnya juga berada pada sang penjaga. Pesannya jelas: diam ketika melihat kejahatan bisa menimbulkan konsekuensi rohani yang serius.
Menegur dalam Kasih, Bukan Menghakimi
Yesus dalam Matius 18 mengajarkan bahwa menegur harus dilakukan dengan kasih dan hikmat. Tujuannya adalah memulihkan, bukan mempermalukan. Rasul Paulus menekankan bahwa waktu (kairos) untuk bertindak benar sangatlah terbatas. Diam terlalu lama bisa berarti melewatkan kesempatan untuk menyelamatkan sesama dari jalan yang salah.
Iman yang Bergerak: Menolak Diam
Sebagai orang yang telah ditebus oleh kasih karunia Yesus Kristus, kita dipanggil untuk bertindak. Bentuk ucapan syukur kita seharusnya adalah keberanian menyuarakan kebenaran dengan kasih. Dunia tidak butuh lebih banyak orang yang hanya mengamati. Dunia membutuhkan orang-orang percaya yang berani bersuara, membawa terang, dan menjadi garam. Jangan lagi kita sembunyi dalam diam.

