Binasa Bila Meninggikan Diri

(Yeremia 14:7-10, 19-22 ; Mazmur 84:2-8 ; 2 Timotius 4:6-8, 16-18 ; Lukas 18:9-14)

Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu menawarkan kemewahan, kenikmatan dan popularitas sehingga banyak orang tergiur dengan tawaran dunia. Namun semua itu tidak ada yang free, melainkan ada harga yang harus dibayar dan semua dinilai dengan uang.

Selagi kita memiliki uang banyak atau harta kekayaan kita pun dapat memiliki apa yang kita mau. Dan tanpa disadari, tidak sedikit orang Kristen yang merasa diri kaya, pandai, punya kedudukan mapan, sukses dalam bisnis dimana mereka mencerminkannya dalam kehidupan keseharian mereka dengan menggunakan atribut2 keagamaan dan kebangsaan. Banyak orang-orang saleh, pribadi-pribadi yang merasa dekat dengan Tuhan, dan orang-orang yang nasionalistis – inklusif dan eksklusif yang meninggikan diri mereka.

Dibacaan kita menurut Lukas 18: 9 – 14 kita melihat sikap yang meninggikan diri yang ditunjukkan oleh orang Farisi dalam bacaan Injil. Tanpa sadar dalam doanya, ia sudah meninggikan dirinya di hadapan Allah dengan membandingkan dirinya sendiri dengan orang-orang lain. Ia mengungkapkan pencapaian dirinya di hadapan Allah tanpa melihat dan menyadari kekurangan dirinya. Ia menilai dirinya dengan standar penilaian dirinya sendiri. Orang seperti ini perlu mengintrospeksi diri. Maka perlu kita ingat: Pertama, doa merupakan saat dimana manusia berbicara dengan Tuhan. Ketika berdoa pikiran dan hati manusia hanya terarah kepada-Nya, bukan kepada diri sendiri. Kedua, tidak ada orang yang dapat dibenarkan di hadapan Allah. Apa yang manusia lakukan tidak membuat dirinya benar di hadapan Allah, tetapi oleh kasih karunia-Nya yang melalui Tuhan Yesus Kristus yang membuat manusia dibenarkan.

Sebagai gereja yang terlahir di bumi nusantara ini maka kita sebagai bagian dari Gereja Kristen Indonesia kita perlu mempraktekan spiritualitas yang menjunjung kesetaraan, keadilan hak dan tanggung jawab dengan berperan aktif di kegiatan kebangsaan seperti hubungan lintas iman dan membangun komunikasi di lingkungan sekitar. Dengan demikian maka kita sebagai saksi Kristus selalu memberikan cotoh dengan merendahkan hati sehingga memberikan ruang yang inklusif dengan saudara disekitar kita dengan berbagai latar belakang yang berbeda pula, amin.

(RSW, 27-10-2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *