
Bacaan: Yesaya 56:1, 6–8; Roma 11:1–2, 29–32; Matius 15:10–28
Pernahkah terpikirkan hal-hal apa saja yang patut disyukuri? Bersyukur menjadi orang Indonesia? Berapa banyak dari kita yang tidak bersyukur menjadi orang Indonesia? Jujur saja, bukankah kita sering ngrasani/nggosipin bangsa sendiri? Mentalnya, KKN-nya, bahkan tak jarang kita menghujat anak bangsa yang telah berprestasi di kancah dunia. Kok, bisa?Syukur dalam “Keuntungan” maupun “Kesengsaraan”
Demikian juga terjadi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus sudah menyembuhkan banyak orang, tetapi justru dikritik soal cara makan! Orang yang tidak bersyukur punya kecenderungan menyalahkan orang lain (dicari-cari kesalahannya). Orang Farisi juga memuliakan Tuhan hanya dengan bibirnya, hatinya? Terasa jauh. Terbukti dari manipulasi hukum adat yang seolah-olah diwajibkan layaknya hukum taurat.
Bacaan ini menjadi menarik karena Yesus sengaja mengkontradiksikan. Sikap orang Farisi dengan Perempuan Kanaan. Yesus mau memperlihatkan bagaimana rasa syukur yang berbanding terbalik.
Perempuan ini begitu bersyukur karena Tuhan menyembuhkan anaknya. Terlihat dari bagaimana sikap perempuan tersebut. Pertama, perempuan ini beriman penuh kepada Yesus dari awal hingga akhir. Kedua, perempuan ini berjuang meskipun di bawah tekanan. Ketiga, perempuan ini menyembah di hadapan Tuhan–merendahkan diri.
Hikmah yang sejalan juga dengan hal-hal negatif yang terjadi dalam bangsa ini, seolah menguatkan rasa gundah ganti ucapan syukur. Konflik, isu, permasalahan seharusnya secara bersama dihadapi dengan solusi, bukan timbunan konflik lain. Hal demikian memerlukan keseluruhan pihak untuk mencapai tujuan bersama. Laksana kesusahan hati yang dihadapi oleh Perempuan Kanaan, melalui apa yang dijalankan sesuai iman dan pengharapannya, Tuhan pasti akan membawa kepada keselamatan. Memang, masih banyak yang harus isu yang harus disuarakan—kembali ke tujuan mengapa hal tersebut diperlukan.
Siapakah diri kita? Orang Farisi atau Perempuan Kanaan? Sudahkah kita bersyukur atau justru kita jumawa terhadap keselamatan Tuhan?
Oleh Pdt. Winner Pananjaya
Disunting oleh Ezra Epiphania

