“Di Setiap Gelombang, Allah Hadir Untukmu”

ALLAH HADIR: DI TENGAH ANGIN, GELOMBANG, DAN KEGELISAHAN

Bacaan : 1 Raja-raja 19:9-18 ; Roma 10:5-15 ; Mat 14:22-33

Allah Hadir, Tapi Sering Kita Lupa

Allah hadir? Ya, namun sering kali kita lupa akan hal itu—terutama saat kita merasa gelisah, khawatir, bahkan takut. Ketika sendirian atau berada di luar zona nyaman, rasa gentar itu semakin kuat. Namun sebenarnya, pesan utama dari firman hari ini bukan tentang rasa takut, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih penting dan menguatkan: kehadiran Allah sendiri.

Ketakutan Para Murid: Bukan Karena Badai, Tapi Karena Tidak Mengenal-Nya

Dalam Matius 14:22–33, para murid berada di tengah danau dan diterpa angin sakal. Anehnya, mereka tidak takut selama berada di perahu zona nyaman mereka. Tetapi ketika Yesus datang berjalan di atas air, ketakutan mereka memuncak. Mereka berteriak, “Itu hantu!”

Mengapa? Karena mereka tidak mengenali siapa yang datang. Padahal, yang mendekat itu adalah Yesus sendiri, Sang Tuhan. Maka, Matius menekankan: yang paling berbahaya bukanlah badai kehidupan, tetapi ketidakmampuan kita mengenali kehadiran Tuhan di tengah badai itu.

Fokus yang Salah: Gelombang, Bukan Tuhan

Saat kesulitan datang, kita sering kali terlalu fokus pada gelombang. Kita memusatkan perhatian pada ketakutan dan rasa tidak berdaya, sampai lupa bahwa Allah sedang berjalan mendekat. Kehadiran-Nya tidak selalu tampak jelas di awal, terutama bila kita sedang diliputi kecemasan.

Namun Yesus bersabda, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut.” Dalam bahasa aslinya: “Ego Eimi” — “Aku adalah”. Itu adalah kalimat ilahi yang sama saat Allah menyatakan diri Nya kepada Musa di semak menyala. Ini bukan sekadar perkenalan, tapi deklarasi keilahian: “Aku adalah Aku.” Artinya, Allah yang hadir, Allah yang menyertai.

Allah Tidak Selalu Hadir Secara Spektakuler

Hal ini ditegaskan kembali dalam 1 Raja-raja 19:9–18. Di sana, nabi Elia sedang ketakutan dan merasa sendiri. Ia mencari Allah dalam badai, gempa, dan api. Tapi Tuhan ternyata hadir bukan dalam kekuatan besar, melainkan dalam suara yang lembut. Ini mengajarkan bahwa kehadiran Allah tidak selalu spektakuler, melainkan bisa sangat tenang dan lembut—namun tetap nyata.

Tuhan Dekat dengan yang Berseru

Dalam Roma 10:5–15, Paulus menyampaikan bahwa siapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. Ini berarti: Tuhan tidak jauh. Dia hadir melalui firman-Nya, dalam iman yang hidup di hati, dan dalam pengakuan yang tulus.

Kehadiran-Nya tidak bergantung pada situasi kita entah baik atau buruk. Justru, di saat-saat paling gelap, kita bisa merasakan Dia paling nyata.

Ketika Kita Gagal, Tuhan Tak Pernah Terlambat

Contohnya adalah Petrus. Ketika ia berjalan di atas air, ia baik-baik saja selama matanya tertuju pada Yesus. Tapi ketika ia mulai memperhatikan angin dan merasa ragu, ia mulai tenggelam. Namun luar biasanya, saat itu juga, Tuhan segera mengulurkan tangan Nya dan menolong.

Ini menunjukkan bahwa Allah kita adalah:
Allah yang hadir,
Allah yang menolong,
Allah yang tidak pernah terlambat.

Kesimpulan: Seruan Kecil pun Didengar

Bahkan ketika kita tidak sadar atau merasa sendiri, Dia tetap ada. Dan ketika kita berseru—baik dengan suara atau hanya dalam hati—Dia menjawab. Maka hari ini, mari kita belajar mengenali kehadiran-Nya, bahkan di tengah badai. Jangan takut, sebab “Ego Eimi”  Aku ini. Allah hadir. Selalu.

Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

– Pdt. Winner Pananjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *