Keluargaku

Memilih Yesus Sebagai Pemimpin Keluarga

Menjadikan keluarga kita bahagia adalah pilihan kita sendiri. Ketika kita memilih untuk menghadirkan Yesus dalam keluarga dan menjadikan-Nya sebagai pemimpin, maka kehadiran-Nya akan membawa sukacita dan damai sejahtera. Namun, peran setiap anggota keluarga tetap diperlukan. Kakek, nenek, ayah, ibu, dan anak-anak harus bersama-sama mengambil bagian dalam tugas mulia: memberitakan Injil.

Contoh teladan bisa kita lihat dalam keluarga Timotius. Iman yang tulus dalam dirinya tidak tumbuh begitu saja, melainkan terbentuk lewat bimbingan rohani dari nenek dan ibunya. Setiap anggota keluarga bisa meluangkan waktu 5 hingga 15 menit, baik secara pribadi maupun bersama-sama, untuk berbicara tentang kehidupan dalam Yesus kepada anak atau cucu mereka.

Tanpa Yesus sebagai pemimpin, keluarga bisa terjebak dalam kesibukan masing-masing, hidup untuk diri sendiri, dan kehilangan waktu berharga untuk membangun iman bersama.

Keluarga: Sekolah Iman yang Pertama dan Utama

Keluarga adalah tempat pertama seorang anak belajar tentang iman, karakter, nilai hidup, dan cara berpikir. Keteladanan orang tua, kakek-nenek, serta suasana spiritual dalam keluarga akan membentuk dasar kepribadian setiap anggota keluarga.

Sekali lagi, keluarga Timotius menjadi contoh nyata. Keteladanan dari nenek Lois dan ibunya Eunike membentuk karakter dan pola pikir Timotius, yang kelak menjadi rekan pelayanan Rasul Paulus. Ini membuktikan bahwa pengaruh keluarga sangat besar dalam membentuk pemimpin rohani.

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menekankan pentingnya regenerasi pemimpin yang melayani dengan hati yang tulus. Hal ini tidak hanya tanggung jawab gereja, tetapi dimulai dari keluarga. Anak-anak perlu dipersiapkan sejak kecil agar kelak mampu menjadi pemimpin dalam keluarga mereka sendiri maupun di persekutuan gereja.

Keluarga yang konsisten dalam pembinaan iman akan membawa pertumbuhan yang nyata bagi persekutuan dan gereja. Pelayanan dengan hati yang tulus lahir dari keluarga yang setia memuridkan anak-anaknya dalam kasih Kristus.

Tuhan sebagai Arsitek Utama Keluarga dan Gereja

Mazmur 127 berkata, “Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Demikian juga dengan keluarga dan gereja. Prinsip hidup yang kita terapkan dalam keluarga harus bersumber dari Tuhan, bukan semata-mata dari keinginan pribadi orang tua.

Salah satu prinsip penting adalah bahwa keluarga kita telah dipilih Tuhan. Kita dihargai dan diberi kehormatan untuk mengemban tugas memberitakan hidup dalam Yesus. Untuk itu, kita membutuhkan anugerah: kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, serta tuntunan Roh Kudus. Jangan Menyerah Memberitakan Kristus

Tugas memberitakan hidup dalam Yesus berlaku bagi semua orang, tanpa memandang karakter mereka—baik anak yang manis maupun yang keras kepala, yang sopan maupun yang sering melawan. Kita dipanggil untuk tetap setia. Jangan menyerah, sebab Tuhan sendiri yang akan memampukan kita.

Keluarga Milik Allah, Bukan Milik Pribadi

Keluarga bukanlah milik pribadi ayah dan ibu, melainkan milik Allah. Karena itu, tujuan utama keluarga adalah membangun persekutuan kasih. Waktu bersama untuk berdoa dan membaca firman Tuhan akan membentuk karakter Yesus dalam diri setiap anggota keluarga. Dari sana, akan lahir pribadi-pribadi yang melayani dengan hati nurani yang tulus dan murni.

Hidup yang Diperbarui dalam Yesus

Menjalani hidup dalam Yesus berarti menerima pembaruan dari-Nya—baik bagi anak-anak, orang tua, maupun kakek-nenek. Kehidupan seperti ini dipenuhi dengan doa-doa siang dan malam, memohon agar iman tetap teguh dan tidak goyah. Ketika keluarga percaya kepada kuasa Tuhan Yesus, mereka akan mengalami pemeliharaan yang ajaib. Kasih yang memimpin kehidupan seperti ini akan membawa damai dan pengampunan dalam setiap relasi keluarga.

Kasih Mengubah Cara Kita Berkomunikasi

Ketika kasih Kristus berkuasa dalam keluarga, maka komunikasi pun diperbarui. Tidak ada lagi kata-kata yang melukai, tidak ada lagi sikap yang menghakimi. Orang tua belajar memahami anak, dan anak pun belajar memahami orang tua. Bahkan ketika anak menolak nasihat, orang tua tidak mudah sakit hati, tetapi terus mencari jalan agar firman Tuhan dapat tetap disampaikan.

Mari Membangun Keluarga Bahagia

Sebagai orang tua dan anak-anak, marilah kita melayani dengan tulus untuk membangun keluarga yang bahagia—keluarga yang hidup dalam Yesus, dipimpin oleh-Nya, dan menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia.

Bacaan diambil dari 2 Timotius 1:3-5

-Pdt. Lithos Sitorus Pane

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *