Mata Iman #2282: Antara Iman dan Logika

MATA IMAN #2282

Kamis, 2 Juli 2026

Bacaan: Yohanes 20:24-31

Nas: “Karena engkau telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ayat 29b)

ANTARA IMAN DAN LOGIKA

Yesus mengajak kami semua kembali ke Yudea, mengunjungi Lazarus yang sakit parah. Sudah beberapa kali kulihat Yesus menyembuhkan orang sakit, itu sudah biasa. Namun, kami kan baru saja dari sana, dan untungnya bisa lolos dari lemparan batu. Kembali lagi? ide gila! Tapi, saat kami ketakutan di perahu, Yesus bisa meredakan badai, jadi kuucapkan, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama dengan Dia.” (Yohanes 11:16) Itu adalah iman yang logis, bersama Dia kami aman, tapi kalau harus mati bersama, aku siap! Faktanya, kami terlambat, Lazarus sudah empat hari dimakamkan. Ini yang sulit diterima logika, orang yang sudah mati dihidupkan kembali oleh-Nya!

Malam terakhir kami, Yesus menceritakan tentang Rumah Bapa. Kucoba membayangkan bentuk bangunannya, dan berharap Dia akan memberikan peta. Aku bertanya, dan Yesus mengatakan Ia sendiri adalah jalan, kebenaran dan hidup. Setelah kupikirkan, ini masuk akal, Yesus berasal dari Rumah Bapa, dan tentu saja Ia mengetahui lokasinya. Percaya dan terus saja ikuti Dia hingga nanti sampai ke sana. (Yohanes 14:4-6)  

Setelah lewat sepekan, jasad-Nya tidak ditemukan, ada beberapa orang mengaku telah bertemu dengan-Nya. Aku tidak langsung percaya. Yesus membangkitkan Lazarus, itu sudah pernah kulihat langsung, tapi benarkah Yesus membangkitkan diri-Nya sendiri? Saat keraguanku memuncak, Yesus datang khusus untukku, Dia memintaku memeriksa bekas luka di tangan dan perut-Nya.  Telah kutemukan jalan, kebenaran, dan hidup itu, sehingga aku menyambut-Nya “Ya, Tuhanku dan Allahku!” (YOD)

“AKAL BUDI KITA TERBATAS UNTUK MEMAHAMI APA YANG DISINGKAPKAN MELALUI PEWAHYUAN YANG SUMBERNYA DARI ALLAH DAN DAPAT DITERIMA MELALUI IMAN. IMAN DAN AKAL BUDI TIDAK SALING BERTENTANGAN, KARENA KEDUANYA MERUPAKAN KARUNIA DARI ALLAH.”

(inspirasi dari pemikiran Thomas Aquinas, yang dirumuskan oleh penulis Armand Maurer dalam bukunya, Faith, Reason and Theology, 1987)

—————–

Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by http://wa.me/6281388901368

Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat GKI Kelapa Cengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *