Sebelum Memasuki Tri Hari Suci…

Apa sih Kamis Putih? Merayakan Trihari Paskah, Buat Apa

Bagi sebagian Sobat Cengkir yang telah lama berjemaat sebagai anggota GKI, mungkin pernah mengalami fase di mana GKI hanya merayakan Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Kristus dan Pentakosta. Hal yang sama juga dialami oleh beberapa aliran gereja lainnya. Lantas apa yang mendasari penambahan Hari-hari Besar Gerejawi lainnya? Apakah sekadar ikut tradisi yang dijalankan oleh rekan-rekan Katolik?

Menilik Sejarah GKI dan Perkembangannya

GKI atau yang dulunya bernama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) awalnya terdiri dari tiga gereja yang berbeda, yaitu THKTKH Jatim, THKTKH Jateng dan THKTKH Jabar. Ketiga gereja ini pun berkembang dan mengubah namanya menjadi GKI. Sejak 27 Maret 1962 usaha penyatuan GKI dilakukan hingga akhirnya mengikrarkan diri menjadi satu gereja yang bernama GKI pada tanggal 26 Agustus 1988.

Tata Gereja GKI, sebagai sarana organisasional gerejawi diberlakukan pada tanggal 26 Agustus 2003. Di dalam Tata Gereja tersebut diatur bahwa Kebaktian Hari Raya Gerejawi didasarkan pada penetapan hari-hari raya gerejawi, yaitu: Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Yesus Kristus, dan Pentakosta. Sebagai gereja yang terus bertransformasi, Tata Gereja GKI telah diperbarui dan diberlakukanlah Tata Gereja dan Tata Laksana GKI sejak November 2009.

Dalam Tata Laksana GKI tersebut diatur bahwa agar umat dapat merayakan peristiwa-peristiwa Kristus sepanjang tahun gerejawi, maka diselenggarakan Kebaktian Hari Raya Gerejawi pada: Minggu-minggu Adven, Malam Natal, Natal, Minggu Epifani, Minggu Baptisan Tuhan Yesus, Minggu Transfigurasi, Rabu Abu, Minggu-minggu Prapaskah, Kamis Putih, Jumat Agung, Paskah, Minggu-minggu Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus Kristus, Pentakosta, Minggu Trinitas, dan Minggu Kristus Raja.

Dengan adanya Kebaktian Hari Raya Gerejawi tersebut, diharapkan umat semakin memaknai perjalanan hidup Kristus untuk dapat dirayakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Makna Trihari Paskah

Di dalam kehidupan gereja sejak akhir abad ke-4, terdapat istilah Pekan Suci, yang terhitung sebagai satu pekan untuk mengenang cinta kasih Kristus yang rela menebus manusia yang berdosa. Pekan Suci dimulai dengan Minggu Palmarum (Minggu Palem) di mana umat mengenang momentum Yesus Kristus datang di Yerusalem, sama seperti banyak orang yang menantikan kedatangan-Nya dengan melambaikan daun palma. Sangat disayangkan, orang-orang Yerusalem kala itu memaknai kehadiran Yesus sebagai Mesias yang membebaskan mereka dari penjajahan Kekaisaran Romawi, bukan sebagai Mesias yang menebus umat manusia. Di momen inilah kita perlu memaknai ulang harapan yang kita letakkan pada Kristus, apakah Dia hanya sebatas Allah yang memenuhi kebutuhan jasmani kita ataukah Allah yang menyelamatkan kita dan menjadi Raja di dalam kehidupan kita?

Minggu Palmarum dilanjutkan dengan Trihari Paskah, di mana terdapat Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi serta diakhiri dengan hari raya Paskah. Momen Kamis Putih merupakan pengenangan peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya yang melakukan perjamuan terakhir. Dalam perjamuan tersebut kita memahami makna merendahkan diri dengan membasuh kaki orang lain, memahami arti tubuh dan darah Sang Anak Domba Allah lewat roti dan cawan serta memaknai setiap ajaran yang Yesus sampaikan serta karya-Nya. Peristiwa tersebut dilanjutkan dengan Yesus yang berdoa di Taman Getsemani serta peristiwa penangkapan-Nya. Dalam Kamis Putih, umat diajak untuk merefleksikan setiap ajaran dan keteladanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jumat Agung merupakan perayaan yang penting bagi umat Kristen. Dalam perayaan ini, umat diajak untuk mengenang Yesus Kristus yang diadili, didera siksaan, disalibkan hingga kematian-Nya. Semua itu menjadi bukti kasih-Nya kepada seluruh ciptaan. Untuk memaknai peristiwa ini, kita perlu melakukan penyesalan yang mendalam atas segala dosa kita dan menerima keselamatan yang Dia berikan serta bersedia untuk memperbarui diri terus menerus.

Setelah ibadah Jumat Agung, gereja tetap menjaga keheningan dan memperingati Yesus Kristus yang sendirian berada di makam-Nya. Hal itu disebut sebagai Sabtu Sunyi. Berbeda dengan para murid Yesus pada waktu itu yang kehilangan pengharapan  karena penyaliban dan kematian-Nya, umat Kristen di masa kini mengimani bahwa Yesus Kristus bangkit dari kematian. Oleh karena itu, keheningan dalam Sabtu Sunyi diisi dengan berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkannya. Kita dapat merefleksikan makna dan tujuan hidup kita yang diinspirasi oleh kasih dan karya Tuhan Yesus Kristus.

Puncak dari Trihari Paskah adalah perayaan Paskah, di mana kita memperingati kemenangan Tuhan kita, Yesus Kristus atas maut. Realitas kematian yang terjadi pada setiap manusia bukanlah akhir dari segalanya bagi umat yang percaya, karena melalui kebangkitan Kristus, Allah menyediakan kehidupan yang penuh dalam kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, setiap umat yang percaya kepada Kristus menjalani kehidupan ini dengan penuh pengharapan. Momen Paskah menjadi penegasan bahwa kita menyembah Allah yang hidup dan yang membawa kehidupan bagi kita semua yang menerima-Nya. Melalui peristiwa Paskah, umat diajak untuk hidup dalam harapan dan membawa harapan tersebut dengan hidup dalam semangat mengasihi sesama manusia dan seluruh ciptaan-Nya.

Memasuki dan Memaknai

Setiap Hari Raya Gerejawi tentu memiliki makna dan tujuan masing-masing, termasuk Minggu-minggu Prapaskah, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Paskah yang telah dan akan kita jalani. Kiranya kita bisa menyiapkan keseluruhan hidup kita untuk mengarah hanya kepada Allah sehingga kita menjadi berkat bagi sesama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *