Mata Iman #103: Jagat Anyar Kang Dumadi

MATA IMAN #103

Bacaan: Ratapan 2:10-13
Nas: Mataku kusam dengan air mata, remuk redam hatiku; hancur habis hatiku karena keruntuhan puteri bangsaku, sebab jatuh pingsan kanak-kanak dan bayi di lapangan-lapangan kota. (ay 11).

JAGAT ANYAR KANG DUMADI

Di masa pandemi ini, Soimah Pancawati merilis lagu yang berjudul seperti judul renungan ini. Lagu yang melankolis dan dilantunkan dari hati yang remuk meratap. Sungguh menyentuh hati.

Jeriting panandhang oh Gustiku.
Suworo tangis kang kelayung.
Trenyuh sak jroning ati
Angadhepi pacoban iki
Manungsa tan bisa anyelaki.
Pepati kang nggegirisi.
Titah tanpa daya
Angadhepi pacoban iki
Aduh Gusti amung pasrah ing pesthi
Aku percaya langit tan mendhung
Ilang tangis kang melung-melung
Gusti mesthi bakal mungkasi
Surya sumunar hamadhangi
Urip kang sayekti
Jagat anyar kang dumadi. *)

Kitab Ratapan ditulis oleh Yeremia, berisi ratapan puitis tentang kehancuran Yerusalem, termasuk Bait Sucinya, serta pembuangan rakyatnya ke Babel. Yeremia duduk di tengah abu dan menangis. Ratapannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi tawanan yang tinggal dalam kemiskinan. Kelima puisi membentuk sebuah lagu pemakaman bagi kematian Yerusalem. Ia mencari Allah bagi pemulihan Yerusalem di masa mendatang.

Jeritan lagu ini mewakili jeritan umat manusia di masa pandemi ini. Air mata sudah terkuras habis karena penderitaan akibat wabah covid-19. Kita menantikan dunia baru, yang tidak sekadar normal baru. Dunia dengan tatanan baru, yang mengedepankan kasih untuk saling peduli dan menciptakan keadilan di bumi. Bumi ini untuk semua bukan untuk segelintir orang. Keserakahan menyengsarakan yang lain. Kita mempunyai kewajiban menghadirkan Yerusalem baru di bumi ini. (ENO)

AIR MATAKU TERUS-MENERUS BERCUCURAN, DENGAN TAK HENTI-HENTINYA, SAMPAI TUHAN MEMANDANG DARI ATAS DAN MELIHAT DARI SORGA. (Ratapan 3:49-50).

*) Terjemahan:
Jeritan penderitaan oh Tuhanku
Suara tangis yang menyedihkan
Terharu di lubuk hati
Menghadapi cobaan ini
Manusia tak bisa menghindari
Kematian yang mengerikan
Umat tiada daya
Menghadapi cobaan ini
Ya Tuhan hanya berserah kepada takdir-Mu
Aku percaya langit tak selamanya berawan
Hilang tangis yang mengalun panjang
Tuhan pasti akan mengakhiri
Mentari bersinar menerangi
Kehidupan yang sesungguhnya
Dunia baru yang menjadi.

———————————
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
Whatsapp by (081388901368)
Website (http://gkikelapacengkir.org)
Instagram (@gkikelapacengkir)

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *