Mata Iman #1: Memercayakan Hidup

Mata Iman #1:
Memercayakan Hidup

Bacaan: Yesaya 7:1-9

Nas: …dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya. (ay 4).

Merasa khawatir, takut, kecut adalah manusiawi di tengah merebaknya virus Corona yang kita tidak tahu cepat atau lambat teratasinya. Apalagi di Jakarta semakin banyak yang menjadi korban, yang lebih miris lagi, di sekitar kita. Sebagai orang beriman, apa yang Tuhan kehendaki untuk kita sikapi?

Marilah kita belajar dari bangsa Yehuda. Yehuda di bawah kepemimpinan Ahas menghadapi ancaman koalisi Israel dan Aram, ini membuat kecut Ahas. Terlintas di pikirannya untuk minta bantuan Asyur. Iman Ahad sedang diuji. Akankah ia bersandar penuh kepada Tuhan atau mencari penyelamat alternatif? Yesaya mengingatkan Ahas bahwa musuh Yehuda akan segera redup dan mati.

Memang iman kita akan tergelincir kalau kita memandang hidup sesempit pandangan mata jasmani kita. Berbagai tantangan hidup termasuk ancaman Virus Covid-19 di depan mata. Namun kita, umat tebusan Kristus, memiliki mata iman. Iman sejati tidak mencari alternatif untuk menyelesaikan masalah, tetapi sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Pegang janji dan jaminan-Nya: Dia akan menyertai kita sepanjang perjalanan hidup kita. (ENO).

IMAN ADALAH BAGAIMANA MEMERCAYAKAN HIDUP INI KEPADA TUHAN, SANG PEMBERI HIDUP.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *