Bersaksi—hal yang pernah dibicarakan dalam artikel sebelumnya. Bersaksi bukan hanya salah satu tugas panggilan gereja, melainkan hakikat gereja itu sendiri.
Di dalam Matius 28:19 yang dikenal sebagai Amanat Agung, Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk bersaksi kepada seluruh bangsa. Tujuannya adalah menjadikan segenap bangsa sebagai murid Kristus. Dengan demikian (walaupun tidak secara eksplisit) bersaksi adalah tanggung jawab sekaligus hakikat. Kita juga harus ingat bahwa bersaksi dapat dilakukan oleh gereja sebagai satu persekutuan (seperti misalnya oleh Komisi) juga dilakukan oleh perorangan (setiap orang Kristen tanpa terkecuali, entah bagian dari Komisi atau bahkan Majelis Jemaat).
BENTUK-BENTUK KESAKSIAN
Kehadiran-Nya
Kehadiran gereja yang berusaha menghadirkan damai sejahtera dan mewujudkan kasih Allah di tengah-tengah dunia (Yohanes 17: 14–19). Itulah sebabnya gereja tidak boleh mengisolasi atau menutup diri serta acuh-tak acuh terhadap masalah-masalah dunia yang terjadi di sekeliling. Melalui itu, dunia akan tahu bahwa karya keselamatan Allah terhadap dunia ini di dalam dan melalui Yesus Kristus, tidaklah hanya keselamatan Rohani, tetapi juga untuk manusia seutuhnya. Inilah yang mendorong dan sekaligus menjadi dasar bagi gereja untuk bersaksi di tengah dunia yang semakin menjurus kepada egoisme.
Pemberitaannya
Gereja harus dengan setia memberitakan firman Tuhan. Ada 2 macam kesaksian gereja dalam pemberitaan firman, antara lain:
a) melalui pemberitaan lisan
Mengajak orang untuk menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani atau memberi kesempatan kepada orang lain mendengar radio atau televisi di mana Firman Tuhan diberitakan. Mengundang orang untuk hadir dan mendengar firman Tuhan yang sedang diberitakan dalam kesempatan ulang tahun atau resepsi.
b) melalui pemberitaan tertulis
Menyalurkan Alkitab, menerbitkan buku-buku tentang agama Kristen, majalah Kristen yang tentunya mengetengahkan masalah aktual dari sudut pandang Kristen, juga dengan mengulas topik-topik tertentu dari sudut pandang Kristen dalam buku-buku umum.
c) keterlibatan dalam masalah masyarakat
Bentuk ini mirip dengan bentuk yang pertama. Yang terakhir ini lebih menekankan solidaritas (Roma 12:15), doa syafaat untuk masalah-masalah dunia, surat-surat pastoral untuk masalah-masalah masyarakat, dan keterlibatan secara aktif pada masalah-masalah masyarakat sampai terwujudnya “shalom” di tengah-tengah masyarakat.
Bersaksi yang dilakukan perorangan selalu menekankan tentang hidup orang yang melakukan kesaksian. Kesaksian yang benar adalah kesaksian dengan seluruh kehidupan. Sikap hidup, perkataan, dan tingkah laku orang yang melakukan kesaksian itu harus mencerminkan kesaksiannya. Tidak boleh kesaksian itu diberikan dengan kata-kata saja. Kehidupan orang yang bersaksi tidak boleh bertentangan dengan apa yang ia saksikan (Kolose 4:5–6; 1 Petrus 2:12).
ISI KESAKSIAN DALAM BERSAKSI
Isi kesaksian/bersaksi setidak-tidaknya meliputi dua (2) hal berikut.
1. “Kabar Baik” bahwa di dalam dan melalui Yesus Kristus Kerajaan Allah sudah datang. Di dalam dan melalui Yesus Kristus, kita boleh melihat bawa ada kasih, keadilan dan damai-sejahtera, serta setiap pengikut Kristus harus memperjuangkan kehadiran kasih juga keadilan dan damai-sejahtera tersebut (Lukas 10:9; 11:20).
2. “Kabar Baik” bahwa di dalam dan melalui Yesus Kristus, Allah telah mengampuni dosa-dosa kita (Matius 26:28; Yohanes1:29; 1 Petrus 2:24; 3:18; 1 Yohanes 1:7; 1 Yohanes 2:12).
Tuhan Yesus memberkati.
Sumber : Pdt. Em. A. Kermite (aguskermite@yahoo.com)
Disunting oleh Ezra Epiphania

