Rendah Hatilah

Bahan bacaan: Yeremia 14:7–10, 19–22; Mazmur 84:2–8; 2 Timotius 4:6–8, 16–18; Lukas 18:9–14

Rendah hati bukanlah berendah diri, melainkan kita yang mampu menguasai diri dari segala perbuatan yang sebenarnya dapat merugikan diri kita sendiri.

14:7 “Sekalipun kesalahan-kesalahan kami bersaksi melawan kami, bertindaklah membela kami, ya TUHAN, oleh karena nama-Mu! Sebab banyak kemurtadan kami, kami telah berdosa kepada-Mu. 

84:2 “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.”

18:9 “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 18:10Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.’ 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: ‘Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.’ 18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Rendah Hati

Tuhan Yesus Kristus menghendaki agar setiap murid-Nya mempunyai karakter rendah hati. “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14).Bagaimana mewujudkan rendah hati di dalam kehidupan keluarga?

Pupuklah Ketiga Hal Berikut

1. Belajarlah untuk mendengarkan

Ingatlah bahwa Tuhan memberikan dua telinga dan satu mulut kepada manusia.

2. Belajarlah untuk mengakui kesalahan

Kita pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak menunjuk kambing hitam, melainkan meminta maaf ialah langkah luar biasa.

3. Belajarlah berterima kasih.

Ternyata, terdapat banyak peran penting pihak-pihak di sekitar kita selama proses bertumbuh dan berkembang. Kebaikan kecil mampu memupuk kedewasaan seseorang. Hargai setiap bentuk kebaikan orang lain.

(Ringkasan Khotbah Pdt. Gatot Pujo Tamtama pada Ibadah Umum 27 Oktober 2019)

Disunting oleh Ezra Epiphania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *