Siapa, sih di sini yang mental health-nya engga bermasalah setelah merasakan semua perasaan galau, sedih, stres, bahkan depresi karena trauma? Kali ini kita akan belajar bersama-sama tentang kesehatan mental serta bagaimana cara menyembuhkannya.
Trauma Duka: Apa itu Grief?
Grief adalah rasa sakit akut dari trauma yang menyertai karena kehilangan. Kita semua pernah merasakan apa itu kehilangan, baik barang tersayang maupun makhluk hidup yang kita kasihi—entah itu kehilangan sahabat, pasangan, hewan peliharaan, tanaman kesayangan, dan lainnya. Namun, saat kita merasakan grief, kita juga merasakan emosi yang tidak stabil seperti merasa bersalah ataupun kebingungan “kenapa ini bisa terjadi sih?”

Berapa Lama Suatu Trauma Memudar?
Sebernarnya, “grief” dari berduka ini berapa lama, sih? Menurut Harvard Edu, berduka itu sekitar 6–12 bulan, tapi ini bukan patokan bahwa kita harus berduka selama itu karena kita juga bisa merasakan berduka bisa 1–2 tahun atau dapat lebih cepat maupun dapat lebih lama. Kedukaan yang melebihi 1 tahun bisa menganggu kesehatan kita secara jasmani dan rohani. Kedukaan yang berkepanjangan dapat menjadi gangguan kompleks yang persistant hingga berisiko masuk menjadi “persistent complex bereavement disorder”.
Tahap Berduka yang Berat
Ketika seseorang telah masuk ke dalam tahap duka terberat baginya, seseorang dapat menjadi tidak fokus karena emosi yang tidak teratur. Hal seperti ini berpengaruh pada kegiatan sehari-hari berdampak negatif bagi lingkungan sekitar ataupun relasi ke teman dan keluarga. Orang tersebut dapat menjadi seorang yang pendiam dan tidak seaktif sebagaimana dahulu dirinya.

Duka yang Lain
Grief pun bukan hanya datang dari kehilangan seseorang ataupun anggota keluarga, tetapi bisa dari keadaan setelah di-PHK yang menyangkut kepada hal-hal lain yang menjadi beban pikiran dan emosi seseorang. Terlebih, masalah-masalah lain yang datang sehingga fokusnya terbagi-bagi untuk menemukan solusi yang satu dan solusi yang lainnya.

Pandangan Alkitab: Kesehatan Mental bukan Hal Tabu
Apa pandangan Alkitab terhadap orang-orang yang sedang mengalami duka hingga kesehatan mental?
Sebagai seorang Kristen, kita percaya bahwa di setiap musibah pasti ada kebahagiaan di baliknya. Dalam Alkitab tercatat banyak ayat-ayat yang menyangkut tentang kehilangan serta bagaimana Ia menyampaikan emosi yang manusia rasakan dengan berjuang untuk kesehatan mental. Berikut beberapa referensi ayat-ayat mengenai kehilangan.
- Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur (Matius 5:4)
- Dalam dunia kamu akan menderita penganiayaan (Yohanes 16:33)
- Tuhan membawa kebaikan dalam kehidupan orang Kristen melalui penderitaan dan kehilangan (Roma 5:3–4, 8:28; Yakobus 1:2–4)
Menyikapi Trauma Duka
Dalam kasus kesehatan mental seperti ini, bagaimana sikap orang-orang sekitar terhadap seseorang yang sedang berduka atau mengalami masalah “grief” ini? Kita bisa mengajak seseorang itu untuk ngobrol, bahkan ajak ia untuk melakukan seuatu kegiatan yang bisa mengalihkannya sejenak dari kesedihan.
Bagian yang Dilalui oleh “Trauma”
Grief sendiri terbagi menjadi 5 bagian (Denial, Anger, Bargaining, Depression, and Acceptance).
- Denial, sikap menyangkal atau tidak menerima bahwa sesuatu itu terjadi untuk melindungi diri dari rasa terluka.
- Anger, marah yang dimaksudkan di sini bukan marah yang seperti kita marah seperti pada umumnya, melainkan amarah karena tumpukan emosi yang terendap.
- Bargaining, tawar-menawar dengan Tuhan agar merasakan kembali hal-hal sebelum duka itu datang.
- Depression, merasakan pedih yang mendalam hingga depresi dan memutar kembali memori yang tersimpan.
- Acceptance, hal terakhir saat berada dalam 5 stages of grief, penerimaan bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi dan tidak dapat kembali lagi.
Jadi, bagaimana pendapatmu tentang mental health? Apakah sepenting itu untuk menyembuhkan mental health seseorang? Hal-hal di atas dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk lebih memperhatikan kesehatan mental seseorang karena itu penting untuk dirinya dalam menjalani hari-hari. Sebagai orang Kristen, peduli terhadap sesama sudah diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan memperhatikan keberadaan orang lain dan membuat mereka tidak merasa sendiri.
Disunting oleh Ezra Epiphania

