MATA IMAN #1969
Selasa, 19 Agustus 2025
Bacaan: Yesaya 55:10-11
Nas: Sebab, seperti hujan dan salju turun dari langit … demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia (ayat 10a dan 11a).
HUJAN
Hujan sering datang tanpa izin, tanpa menunggu kesiapan kita. Ia bisa menjadi musik lembut yang menenangkan atau badai deras yang mengacaukan segala rencana kita. Dalam novel Hujan karya Tere Liye, hujan menjadi saksi bisu perjalanan hidup tokoh-tokohnya: dari kehilangan, kesedihan, hingga menemukan arti melepas. Hujan adalah pengingat bahwa hidup tak selalu berada di bawah langit cerah, namun justru di musim basah itulah kita belajar menerima, merelakan, dan bertumbuh.
Yesaya mengajarkan kita bahwa hujan bukanlah kebetulan. Setiap tetesnya memiliki tujuan: menyuburkan tanah, memberi makan benih, dan menumbuhkan buah. Begitu pula setiap dinamika dalam hidup kita, baik yang kita sambut dengan sukacita maupun yang datang membawa air mata, dapat menjadi sarana Tuhan untuk menumbuhkan iman dan kasih kita.
Hujan mengundang kita untuk melambat. Saat hujan turun, kita belajar berhenti sejenak, menyesuaikan langkah, bahkan mengubah rencana. Dalam spiritualitas, hal itu mengajarkan kita fleksibilitas iman: menerima ritme Tuhan yang seringkali berbeda dengan jadwal kita.
Mungkin hari ini hujan turun di hati kita: rencana tertunda, hubungan retak, atau doa yang belum terjawab. Ingatlah, Tuhan bekerja juga di tengah derasnya air mata. Seperti tanah yang subur setelah hujan, hati yang rela menerima proses akan menghasilkan buah yang lebih indah. (ECO)
LIFE IS NOT ABOUT WAITING FOR THE STORM TO PASS, BUT LEARNING TO DANCE IN THE RAIN. (Vivian Greene)
—————–
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by http://wa.me/6281388901368
Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat GKI Kelapa Cengkir

