Healing? Duh, bukan sekadar melepas penat dari hiruk-pikuk rutinitas di kota! Yuk, pergunakan waktu untuk mengenal diri—yang mana kita ini buatan Allah, berharga sebagai manusia.Pemuda GKI Kelapa Cengkir baru saja menyelesaikan kegiatan retreat, yakni menarik diri. Untuk apa, sih “menarik diri” yang ini?

Sobat Cengkir masih ingat dengan pengalaman retret yang pernah dilakukan? Memori yang keluar mungkin saja “jalan-jalan”, “menjauh dari ‘habitat’”, “oh, yang ibadah itu!” dan sebagainya.
Pada 27–28 Juni 2025, Y20 GKI Kelapa Cengkir melangkahkan kaki ke kota Bogor, tepatnya di Olè! Suites Hotel, Bogor. Berbagai kegiatan seperti apa, nih yang dilaksanakan selama dua hari itu? Yuk, kita menuju ke ulasan berikut!
Tema besar yang diusung untuk retret ini, yaitu “I AM ME”.

Di balik tema tersebut, terselip maksud retret dilakukan untuk mengajak setiap pemuda berhenti sejenak dari kesibukan agar mampu lebih dalam melihat ke diri masing-masing, betapa berharganya perjalanan hidup ini, bukan?
Sebagai ciptaan Allah, Tuhan membentuk kita dari gambar dan rupa-Nya. Adapun keberagaman yang kita temui bisa datang dari berbedanya proses hidup yang satu dengan yang lain, macam-macam jalan yang dilalui untuk bertumbuh, dan lain-lain.
Selaras dengan kasih Yesus yang mengasihi dan menerima, GKI KeCe mengaplikasikan hal tersebut menjadi tema HUT dan dilakoni melalui (salah satunya) kegiatan retret kali ini.
Hari Perdana Retret – 27 Juni 2025
Sebagaimana umumnya pertemuan individu satu dengan individu lainnya dengan karakter yang berbeda, perlu dieratkan rasa kekeluargaannya melalui aktivitas-aktivitas kecil seperti bermain gim untuk memancing keseruan, makan bersama, hingga sharing section.
Semakin ditelusuri, kita semakin memahami bagaimana latar belakang setiap orang yang berbeda. Manusia punya “kisah”-nya masing-masing. Pada kesempatan diskusi dalam Sesi I yang diisi oleh Kak Seli sebagai Pembicara, para pemuda diajak untuk menyimak tentang SELF CONSCIOUS: FROM BROKEN TO WHOLE. Itulah tema pembicaraan di hari pertama.

Siapa, sih aku?
Keberhasilan, luka, trauma, apresiasi, entah apa yang membentuk seseorang.
Tentu, kita hidup dengan dikelilingi oleh banyak hal, baik itu hal positif maupun negatif. Keberadaan diri kita saat ini merupakan karya Tuhan. Jika pernah terbesit perasaan bertanya-tanya, “mengapa seperti ini, sedangkan yang lain seperti itu?”
Cobalah mengenali diri lebih utuh. Kesadaran diri (self-consciousness) yang sehat: menyadari dan menerima siapa aku sebenarnya, tanpa perlu menjadi orang lain.
Pemuda diajak untuk mengenali diri dan memandang perbedaan diri dengan orang lain bukan sebagai kelemahan, melainkan kekuatan agar saling melengkapi, menghargai, dan menghormati—menelisik lebih dalam keunikan setiap insan.

Hari Kedua Retret – 28 Juni 2025
Sesi II bertemakan SELF GROWTH – SELF LOVE: Being Impactful with My Background yang berlangsung selama dua (2) jam.
Sesi yang diisi oleh Pdt. Gatot Tamtama selaku pembicara diawali dengan forum atau kelompok kecil dengan tujuan saling menyimak. Para pemuda dibebaskan melakukan kegiatan membangun konteks dan menyampaikan isi materi, berefleksi secara pribadi, juga melihat nilai diri dan pertumbuhan rohaninya secara utuh.
Mungkin beberapa atau bahkan banyak dari kita yang sempat berpikir, “Dengan latar belakangku yang seperti ini, mana bisa menjadi seperti blablabla.”
Dengan berbedanya setiap latar belakang seseorang, maka sebanyak itulah ruang untuk memberikan impact atau dampak selama menjalani hidup lewat hari-hari yang Tuhan beri.

Demikian pula dapat terjadi “posisi orang mungkin tidak sama, tetapi kita dapat memuliakan nama Tuhan di mana saja.”
Self-growth adalah kesadaran bahwa diri manusia selalu berada dalam proses (kita menjadi seperti apa di setiap harinya). Manusia tidak berhenti pada satu titik saja, melainkan terus berkembang, baik dalam karakter, wawasan, relasi, maupun kedewasaan rohani. Di dalam diri kita tertanam potensi yang Tuhan percayakan untuk terus digali, diasah, dan diarahkan, itulah maksud bertumbuh.
Self-love bukanlah bentuk kesombongan atau sikap egois yang menutup diri dari orang lain, melainkan untuk memperlakukan diri sendiri sebagaimana Tuhan memperlakukan kita: dengan kasih, pengampunan, penerimaan, dan penghargaan. Ini berarti berani menetapkan batas yang sehat, bersyukur atas hal-hal baik dalam diri, memaafkan kesalahan pribadi, dan tetap percaya bahwa diri kita layak untuk dikasihi.

Pemuda diajak untuk memahami self-growth dan self-love. Ketika seseorang menghargai dirinya, ia lebih mampu menghargai orang lain. Begitu juga dalam bertumbuh, ia semakin siap menjawab panggilan Tuhan dengan kesadaran dan keyakinan.
Mari, kenali diri melalui langkah spiritual dan bertumbuh secara rohani. Begitu pula pandang sesama sebagai manusia berharga di mata Tuhan. “Kasih yang Menerima” sangat hangat didengar, bukan?
Disusun oleh Ezra Epiphania

