
Relasi Iman dan Kebaikan: Menyatakan Kasih Allah Lewat Hidup Kita
Dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat, kita sering menjumpai orang-orang yang belum memiliki pengalaman iman secara personal. Tak jarang, mereka terdampak oleh banyak ajaran yang berbeda dari kekristenan atau pernah mengalami penolakan dalam keluarga dan lingkungan.
Pertanyaan Umat:
“Bagaimana kita merespons orang-orang yang belum punya pengalaman iman pribadi dan terdampak oleh banyak ajaran yang berbeda dari kekristenan?”
Jawabannya sederhana, namun membutuhkan kerendahan hati:
Dengarkan terlebih dahulu. Banyak dari mereka mungkin belum pernah benar-benar didengarkan, hanya dihakimi. Kita dipanggil untuk hadir dan mendengarkan kisah mereka dengan kasih, mencari tahu mengapa pengalaman iman mereka berbeda. Apakah mereka pernah terluka? Apakah mereka merasa dikucilkan? Dalam semua itu, kita menyatakan bahwa mereka tetap dikasihi dan diterima oleh Allah. Kasih adalah bahasa iman yang paling dalam dan menyentuh. Sebagai umat yang telah menerima anugerah-Nya, kita menjadi saluran kasih itu bagi sesama—termasuk mereka yang sedang bergumul dalam pencarian iman.
Iman Kristen dan Perbuatan Baik
Dalam hidup sehari-hari, kita sering diajarkan untuk berbuat baik supaya diterima atau disukai orang lain. Namun, iman Kristen justru menyatakan sesuatu yang berbeda.
Pertanyaan Umat:
“Dalam kekristenan, kita diselamatkan bukan karena berbuat baik. Lantas, bagaimana kita memahami kewajiban berbuat baik secara benar?”
Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia. Kita tidak berbuat baik supaya diselamatkan. Justru karena sudah diselamatkan, kita terpanggil untuk hidup dalam kebaikan. Perbuatan baik adalah buah dari iman, bukan akar keselamatan.
Sebagaimana tertulis dalam Efesus 2:10:
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”
Tugas kita adalah setia dalam kebaikan. Apakah orang akan menyukai kita atau tidak, itu bukanlah tujuan utama. Bila mereka bersyukur atau tersentuh, itu adalah bonus—tetapi bukan motivasi dasar kita.
Iman Terlihat Lewat Perbuatan
Walaupun keselamatan tidak bergantung pada perbuatan, perbuatan kita mencerminkan iman yang hidup. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17).
Pertanyaan Umat:
“Kalau iman terlihat dari perbuatan, apa standar perbuatan baik dalam kekristenan? Dan bagaimana cara tepat menyaksikan iman kepada sesama?”
Standar perbuatan baik bukan diukur dari penilaian manusia, tetapi dari firman Tuhan. Kita diajak untuk hidup dengan prinsip kasih dan integritas.
Ada dua prinsip sederhana namun sangat dalam:
Golden Rule:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Matius 7:12)Bekerja seperti untuk Tuhan:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Dengan dua prinsip ini, kita menjalani hidup bukan hanya demi kepentingan pribadi, tetapi sebagai kesaksian nyata akan iman kita. Setiap tindakan kita bisa menjadi jendela kasih Allah bagi dunia.
Mengelola Anugerah Tuhan
Tuhan telah mempercayakan banyak hal kepada kita—waktu, bakat, pekerjaan, keluarga, dan berkat lainnya. Semua itu bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dikelola dengan setia dan dipersembahkan kembali bagi kemuliaan-Nya.
Pertanyaan Umat:
“Apakah semua orang harus melakukan perbuatan baik yang besar dan terlihat agar imannya nyata?”
Tidak selalu. Kebaikan tidak diukur dari besarnya tindakan, tetapi dari kesetiaan dalam hal kecil. Masing-masing kita dipanggil untuk menyatakan iman lewat bentuk yang berbeda: ada yang melalui pelayanan, pekerjaan profesional, pengasuhan anak, kepedulian sosial, atau sekadar menjadi teman yang setia mendengar.
Penutup: Iman yang Hidup dalam Kebaikan
Relasi antara iman dan kebaikan tidak bisa dipisahkan. Iman adalah akar, dan kebaikan adalah buah. Jika akar itu kuat dalam kasih Allah, maka buahnya pun akan nyata dalam kasih kepada sesama.
Tugas kita bukan membuat semua orang percaya seperti kita, tetapi menyatakan kasih Allah dalam bentuk yang dapat dilihat, dirasakan, dan dihidupi oleh orang lain. Dengan begitu, iman kita menjadi nyata bukan hanya lewat kata, tetapi lewat cara hidup kita yang sederhana, konsisten, dan penuh kasih.
Kiranya setiap dari kita dipakai menjadi saksi yang setia, yang tidak hanya berkata tentang kasih Kristus, tetapi hidup di dalamnya.
Tuhan Yesus Memberkati. Amin.
Refleksi dari Dialog Tanya Jawab Ibadah Pembinaan, Besama Pdt. Shira Budhi Purwosuwito

