
Roh Kudus Hadir? Bagaimana demikian? Langit pagi itu belum sepenuhnya terang ketika jemaat mulai berdatangan. Namun suasananya berbeda dari biasanya. Bukan hanya kerinduan yang memenuhi halaman gereja, tetapi juga aroma daun-daun, gemerlap kain adat yang dikenakan dengan bangga, serta alunan alat pujian dengan aransemen musik tradisional dari kejauhan. Di dalam ruang ibadah, sebuah kelir putih telah ditegakkan. Sorotan lampu mulai menyala, menjadi pertanda bahwa sebuah perjalanan rohani yang tidak biasa akan segera dimulai.
Saat Wayang Menuturkan Kisah Roh Kudus
Perayaan Pentakosta kali ini dibuka dengan pertunjukan wayang. Namun bukan kisah Ramayana atau Mahabharata yang dimainkan. Kisah yang diangkat adalah bagaimana Allah bekerja melalui momen Pentakosta. Sejak Perjanjian Lama, Allah memberkati umat-Nya. Ucapan syukur pun dinyatakan melalui persembahan hasil panen. Hal yang serupa dikisahkan dalam Kisah Para Rasul. Saat itu, Roh Kudus turun atas para murid di Yerusalem. Ini menjadi gambaran bahwa Allah menerima buah pertobatan dari orang-orang yang percaya dan bersekutu.
Narasi mengalir dengan lembut, menyatu dengan denting gamelan dan semilir angin. Hembusan itu terasa seperti roh yang berhembus. Bayangan lidah-lidah api tampak menari di atas kepala para murid. Disusul sorak-sorai dalam berbagai bahasa asing yang terucap penuh keheranan. Jemaat terkesima. Bukan hanya oleh keindahan seni, tetapi juga karena kisah suci itu hadir dalam nuansa budaya lokal. Wayang menjembatani jarak sejarah dan geografis. Ia menyatu dengan akar identitas bangsa. Wayang membuka sudut pandang baru. Kisah Roh Kudus tidak hanya dapat disampaikan melalui mimbar atau mikrofon. Ia juga bisa dihadirkan lewat seni kulit, kelir, dan tutur tradisional. Ini menjadi bentuk ibadah yang tidak hanya menggugah telinga. Ia juga menyentuh jati diri sebagai umat beriman Indonesia.
Prosesi Unduh-Unduh: Saat Rasa Syukur Mengalir dari Roh Kudus ke Altar
Begitu layar selesai diturunkan, bunyi lonceng kecil menandai dimulainya prosesi unduh-unduh dari pintu belakang gereja. Perwakilan umat dari berbagai suku berjalan perlahan. Mereka membawa keranjang anyaman berisi hasil bumi: pisang, ketela, beras merah, kacang tanah, hingga cengkeh. Semua ditempatkan di altar dengan rasa hormat dan syukur. Prosesi ini menjadi pengingat sederhana namun kuat. Roh Kudus bekerja bukan hanya di ruang ibadah. Ia juga hadir di ladang yang terpapar matahari, di hujan yang menyuburkan tanah, serta dalam peluh dan jerih payah para petani. Iman tidak berhenti pada doa. Ia hidup dalam kerja dan hasil yang terlihat.
Liturgi dalam Ragam Bahasa dan Nada
Perayaan Pentakosta ini juga menjadi perayaan atas keberagaman yang dipersatukan oleh Roh Kudus. Liturgi dirancang untuk mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Jemaat hadir dengan pakaian adat dari berbagai daerah seperti Batak, Minang, Jawa, Sunda, Papua, dan lainnya. Setiap suara yang terdengar bukan sekadar nyanyian. Ia adalah gema dari kampung halaman yang dibawa dalam hati. Aransemen musik bernuansa tradisional turut mengiringi pujian. Ada melodi bergaya Sunda, notasi ala Bali, dan potongan lagu Betawi dalam intro lagu tertentu. Semua berpadu dalam kidung pujian. Seolah seluruh negeri ikut bersuara: dari gunung hingga laut, dari timur hingga barat, dari desa hingga kota. Dalam keberagaman ini, pesan Pentakosta menjadi nyata. Bahasa roh bukan hanya kemampuan berbicara dalam bahasa asing. Ia adalah kemampuan untuk memahami dan mengasihi di tengah perbedaan. Roh Kudus menyatukan bukan dengan menyeragamkan, tetapi dengan menumbuhkan cinta yang hidup dalam keberagaman.
Sola Gratia dan Suara Anak: Dua Generasi dalam Satu Simfoni Pujian
Suasana ibadah semakin kuat saat Paduan Suara Sola Gratia membawakan lagu “African Spirit Song”. Dengan busana adat yang anggun, mereka menyanyikan lagu ini sebagai bentuk syukur. Syukur atas hadirnya Roh Kudus yang menuntun kehidupan orang percaya serta menjadi terang bagi gereja di tengah dunia. Setelah itu, suasana menjadi lebih lembut. Paduan Suara Anak maju ke depan. Mereka menyanyikan lagu “Happy Ya Ya Ya” dan “Dengar Dia Panggil Nama Saya” secara kanon. Mungkin kita mengingat lagu ini. Sebuah pujian sekolah minggu yang sederhana, namun penuh tentang kasih, damai, dan terang yang tak pernah padam. Dalam perayaan ini, Roh Kudus hadir dalam banyak cara.
Ia hadir dalam pujian penuh penghayatan orang dewasa. Ia juga hadir dalam suara murni anak-anak. Banyak generasi, satu roh. Beragam suara, satu nyanyian syukur yang sama.
Pentakosta: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Napas Kehadiran Roh Kudus yang Hidup
Pentakosta bukan sekadar mengenang satu peristiwa bersejarah. Ia adalah pertemuan antara iman dan budaya, masa lalu dan masa depan, manusia dan Sang Pencipta.
Dari bayangan wayang, hasil bumi yang dipersembahkan, doa-doa dalam berbagai bahasa, hingga suara polos anak-anak, semuanya menjadi ruang tempat Roh Kudus hadir dan bekerja. Inilah kekuatan sejati Pentakosta: kehadiran Roh Kudus yang dirasakan di ruang ibadah, dalam kata-kata agung, dan juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menari di ladang yang baru dipanen. Ia berbisik dalam bahasa leluhur. Ia tersenyum dalam setiap hembusan napas dan nyanyian kita. Pentakosta membawa napas baru. Bukan hanya bagi gereja, tetapi juga bagi dunia. Ia mengajak kita untuk kembali melihat: bahwa kasih tak pernah mati, dan bahwa keberagaman bukanlah penghalang. Justru ia adalah taman tempat Roh Kudus tumbuh dan berkarya.
(PERAYAAN IBADAH GKI KELAPA CENGKIR – MINGGU/08-06-2025)
Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

