Pernah menonton film Conclave yang pernah tayang di bioskop maupun Netflix? Tapi taukah kamu ‘Konklaf’ dalam pembahasan yang nyata? Setiap kali seorang Paus wafat atau mengundurkan diri, para kardinal dari berbagai belahan dunia berkumpul dalam sebuah sidang tertutup di Kapel Sistina, Vatikan, untuk memilih penerusnya. Mari kita pahami secara mendalam!
Pada tanggal 21 April 2025, Paus Fransiskus pemimpin tertinggi Gereja Katolik, telah meninggal dunia dalam usia 88 tahun, di Domus Sanctae Marthae di Kota Vatikan. Hari tersebut menjadi momen duka bagi kawan-kawan Katolik kita.
“Setelah Paus wafat atau mengundurkan diri, tahta kepausan menjadi kosong, yang dikenal dengan istilah sede vacante.”
Lalu, bagaimana proses pemilihan Paus baru untuk menggantikannya?
Proses pemilihan Paus yang baru pun segera dimulai, yang disebut sebagai konklaf. Dalam bahasa Latin, “conclave” berasal dari kata “cum clave“, yang berarti “dengan kunci“. Ini mengacu pada kebiasaan mengumpulkan para kardinal di dalam suatu ruangan yang terkunci. Proses pemilihan Paus baru berlangsung secara rahasia, dan tidak boleh terpengaruh oleh orang lain maupun lingkungan luar. Ada 200 lebih kardinal dari seluruh dunia, akan tetapi yang dapat memilih dan masuk ruangan hanyalah kardinal yang berusia belum mencapai 80 tahun.
*Sebagai informasi: Kardinal dalam Gereja Katolik adalah pemimpin tinggi gereja yang ditunjuk langsung oleh Paus dan menjadi bagian dari Dewan Kardinal, yaitu kelompok penasihat utama Paus.
Prosesi pemilihan diawali dengan misa atau ibadah khusus yang disebut Pro Eligendo Romano Pontifice. Setelah itu, para kardinal akan berjalan menuju Kapel Sistina, tempat mereka kemudian akan dikunci. Proses pemungutan suara pun dimulai, di mana setiap kardinal menuliskan nama calon Paus yang mereka pilih. Sebelum salah satu kandidat memperoleh dua pertiga dari jumlah suara, para kardinal tidak diperkenankan meninggalkan ruangan. Mereka dapat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, namun hanya di dalam area tertutup tersebut, sampai pada selesainya pemilihan suara.
Setiap kardinal akan menuliskan nama kandidat pilihannya pada selembar kertas suara, kemudian meletakkannya ke dalam wadah khusus yang telah disediakan. Setelah seluruh suara dikumpulkan dan dihitung, nama-nama kandidat beserta jumlah suara yang diperoleh akan diumumkan. Kertas suara yang telah digunakan kemudian dibakar, dan asap dari pembakaran inilah sebagai pertanda atau simbol yang dapat terlihat oleh publik.
Asap hitam menandakan bahwa belum ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas, atau belum terpilih Paus baru. Sebaliknya, asap putih menjadi pertanda bahwa seorang Paus baru telah terpilih. Pada saat itu, umat Katolik di seluruh dunia akan menyambut kabar tersebut dengan seruan “Habemus Papam!” yang berarti “Kita memiliki seorang Paus.”
Sebelum diumumkan secara resmi, kepada calon Paus terpilih akan ditanyakan kesediaannya untuk menerima jabatan tersebut. Jika ia bersedia, ia akan memilih nama resmi sebagai Paus. Selanjutnya, Paus baru akan menyapa umat dan memberikan berkat pertamanya dari balkon Basilika Santo Petrus.
Proses pemilihan pemimpin Gereja Katolik ternyata merupakan rangkaian yang sangat sakral dan panjang, ya, Sobat Cengkir. Tentu kita juga tidak lupa mengucapkan selamat atas terpilihnya Kardinal Robert Prevost sebagai Paus baru dengan nama Paus Leo XIV.
Tuhan Memberkati
Referensi: https://www.vaticannews.va/en.html
—————–
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by http://wa.me/6281388901368
Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat GKI Kelapa Cengkir

