MATA IMAN #2064
Sabtu, 22 November 2025
Bacaan: 1 Raja-Raja 19:1-8
Nas: Tetapi, ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan. Ia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya, “Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambilah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku.” (Ayat 4)
SAMBAT KEPADA TUHAN
Apakah Anda memiliki teman yang kerap mengeluh hampir setiap hari, tetapi tetap mengerjakan tugas tanggung jawabnya? Atau Andakah orang tersebut?
Kebiasaan tersebut dalam budaya Jawa disebut sambat, di mana orang itu mengeluh, merintih dan meratap. Lantas yang perlu kita perhatikan, kepada siapakah kita sambat.
Hari ini, kita membaca kisah Nabi Elia yang sambat kepada Tuhan. Ia mengalami depresi karena akan dibunuh oleh Izebel yang sangat marah kepadanya.
Elia menyatakan kelelahan dan ketakutannya kepada Tuhan. Ia minta Tuhan mengambil nyawanya, tetapi Elia tidak seketika melakukan tindakan bunuh diri, ia berusaha melanjutkan hidup.
Ikatan yang kuat antara Elia dan Tuhan, membuat Elia yakin bahwa ia tidak perlu mengakhiri hidupnya. Ia yakin bahwa dengan berserah kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengangkat kelelahannya lewat cara-Nya. Lantas, maukah kita sambat kepada Tuhan tentang kesesakan hidup kita? (AS)
RISAUKAH ‘KAU AKAN KEMATIAN? SAMPAIKANLAH KEPADA TUHANMU;
KAR’NA KRISTUS, BANYAKKAH KELUHAN? SAMPAIKAN TANPA JEMU.
(Nyanyikanlah Kidung Baru 137 bait keempat)
—————–
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by http://wa.me/6281388901368
Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat GKI Kelapa Cengkir

