Sola Scriptura Versi GKI: Apakah Alkitab Saja Cukup?

Sola Scriptura Versi GKI: Apakah Alkitab Saja Cukup?

Dalam tradisi Protestan, kita mengenal prinsip Sola Scriptura, hanya Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran iman. Namun, bagaimana GKI memahami prinsip ini dalam kehidupan berjemaat dan bergereja, serta dalam menghadapi tantangan zaman digital yang dipenuhi dengan berbagai tulisan rohani?

Berkaca dari Pemahaman Firman

Bacaan pertama, Yohanes 1:1-4

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Sang Firman tersebut bukan merujuk pada Alkitab, melainkan kepada Kristus, pribadi Allah yang mencerminkan kasih Allah dan menjadi serupa dengan manusia. Dalam Kristus, manusia kembali mengenal pribadi Allah dengan benar. Lantas, apa itu Alkitab?

Bacaan kedua, 2 Timotius 3:16 

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Alkitab berisikan teks yang diilhami oleh Allah kepada para penulisnya yang berada di tempat dan era yang berbeda dan isinya menjelaskan tentang Sang Firman tersebut. Allah berkenan umat-Nya mengenal Allah melalui pengalaman, tradisi dan akal budi. Dalam Alkitab, penulis mendapatkan pengalaman mengenal Allah dan karya-Nya; begitupun dengan orang-orang yang melakukan kanonisasi bahkan juga dalam setiap manusia dengan segala keberagamannya.  Allah berkenan juga memperkenalkan diri-Nya melalui tradisi gereja, yaitu trinitas Allah, yaitu pribadi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus

Mengapa penting memahami adanya ruang misteri dalam mengenal Allah?

Allah yang Mengandung Misteri

Kita perlu menyadari bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh misteri. Bila Anda berpikir tentang misteri yang sulit dan banyak dijauhkan, jawabannya bukan. Maksud “misteri” di sini menyangkut Pribadi-Nya yang penuh kuasa dahsyat melampaui akal manusia. Ia adalah Allah yang Maha Kasih dan Maha Kuasa. Sebagai manusia yang terbatas, kita tidak mungkin dapat memahami Allah secara utuh dan sempurna. Kita hanya bisa mengenal Allah sejauh Ia menyatakan diri-Nya kepada kita. Bahkan ketika Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman, kita tetap tidak bisa memahami sepenuhnya karena keterbatasan kita sebagai manusia.

Alih-alih berhenti karena ‘misteri’ itu, kita diajak untuk terus-menerus menggali, merenungkan, dan menjalin relasi yang lebih dalam dengan Allah. Proses mengenal Allah adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Pembacaan Alkitab secara pribadi setiap hari, maupun bersama secara komunal dalam Persekutuan Alkitab (PA), menjadi sarana bagi kita untuk mengenal Dia yang menyatakan diri-Nya melalui Firman.

Peran Roh Kudus dan Tradisi Gereja

GKI mengakui bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah firman Allah yang menjadi dasar dan norma satu-satunya bagi kehidupan gereja. Alkitab adalah sumber ajaran yang utama dan tidak tergantikan. Namun GKI juga mengajak seluruh warga jemaat untuk membaca dan memahami Alkitab dengan bimbingan dan pertolongan Roh Kudus. Tanpa bimbingan Roh Kudus, kita bisa terjebak dalam kecenderungan membenarkan segala sesuatu hanya karena “ada ayatnya.” Kita bisa saja menarik ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan pendapat atau kepentingan tertentu, yang pada akhirnya justru menyimpang dari maksud asli firman Allah.

Oleh karena itu, selain pertolongan Roh Kudus, kita juga perlu melakukan check and recheck terhadap ajaran yang kita terima dengan memeriksa tradisi iman gereja. GKI mengakui pengakuan-pengakuan iman historis seperti Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Athanasius, serta Konfesi GKI tahun 2014 sebagai acuan dalam menimbang berbagai ajaran atau tulisan rohani yang beredar, termasuk yang banyak ditemukan di dunia maya.

Bagaimana kita menilai buku atau tulisan rohani yang banyak beredar?

Memilah Buku-Buku Rohani

Banyak buku dan tulisan rohani beredar luas, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Sebagai warga gereja, kita diajak untuk bersikap bijak dan kritis dalam menyikapi berbagai bahan bacaan tersebut. Penting untuk membedakan mana tulisan yang benar-benar bersumber dan sejalan dengan ajaran Alkitab serta pengakuan iman gereja, dan mana yang tidak.

Kriteria yang dapat digunakan untuk memilah antara lain:

  • Apakah tulisan tersebut sesuai dengan isi dan semangat Alkitab?

  • Apakah tulisan tersebut sejalan dengan pengakuan iman dan pengajaran gereja?

  • Apakah tulisan itu membangun iman, kasih, dan pengharapan dalam Kristus?

  • Apakah tulisan tersebut menempatkan Kristus sebagai pusat pewartaan?

Apa sikap GKI terhadap kitab-kitab Deuterokanonika?

Pandangan GKI terhadap Deuterokanonika

Mengenai kitab-kitab Deuterokanonika, GKI, sebagai bagian dari tradisi Gereja Protestan—memandang bahwa tulisan-tulisan tersebut memiliki bobot yang berbeda dibandingkan dengan 66 kitab kanonik yang secara eksplisit diakui sebagai firman Allah.

Kitab-kitab seperti Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, atau Makabe, tidak digunakan sebagai dasar pemberitaan firman atau khotbah dalam GKI. Kita tidak mengucapkan, “Demikianlah sabda Tuhan,” setelah membacanya sebagaimana kita melakukannya untuk kitab-kitab seperti 1 Raja-raja, Kitab Samuel, atau surat-surat Paulus. Namun demikian, GKI tidak melarang anggota dan simpatisannya untuk membaca tulisan-tulisan Deuterokanonika. Silakan jika ingin membacanya sebagai bagian dari kekayaan literatur rohani. Namun perlu disadari bahwa bobotnya tidak sama dan tidak setara dengan kitab-kitab kanonik.

Penutup: Dalam perjalanan iman, Alkitab menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105). Namun kita tetap perlu rendah hati dalam memahami firman, membuka diri terhadap bimbingan Roh Kudus, dan berdialog dengan tradisi gereja yang hidup. Allah yang penuh misteri itu tidak bisa dikurung dalam rumus dan logika manusia. Sebaliknya, Ia mengundang kita untuk terus mengenal-Nya, berjalan bersama-Nya, dan mengalami kasih-Nya dalam keseharian hidup kita. Tuhan Memberkati. Amin

Pdt. Gatot Pujo Tamtama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *