Dalam iman Kristen kita yang percaya kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat, berlaku waspada terhadap ajaran sesat yang membawa pada perpecahan diperlukan agar kekudusan dan persatuan tidak tergerus olehnya.
Definisi Bidat
Bidat (dalam konteks Kristen) mengacu pada kepercayaan atau ajaran yang secara sengaja dan sadar bertentangan dengan doktrin-doktrin iman yang sudah mapan, seperti yang didefinisikan dalam kredo-kredo historis dan pengakuan-pengakuan iman (seperti yang berasal dari Nicea atau Khalkedon). Bidat bukan sekadar kesalahan atau ketidaksepakatan, tetapi penyimpangan serius dari kebenaran-kebenaran dasar yang mendefinisikan Kekristenan ortodoks.

Kriteria yang Mendefinisikan Bidat
Bagaimana Bidat—disebut juga bidah itu disadari berdasarkan cirinya?
1. Pertentangan Doktrin Inti
Sebuah ajaran dianggap bidat jika ajaran tersebut menyangkal atau merongrong prinsip utama ortodoksi Kristen. Doktrin-doktrin inti ini biasanya adalah doktrin-doktrin yang diartikulasikan dalam kredo-kredo ekumenis awal (misalnya, keilahian Kristus, Trinitas, kebangkitan). Ketidaksepakatan mengenai isu-isu sekunder atau tidak esensial bukan merupakan bidah.
2. Penyimpangan yang Disengaja
Bidah melibatkan penolakan yang disengaja dan didasari pengetahuan terhadap pengajaran ortodoks. Seseorang menjadi bidah bukan hanya karena memegang kepercayaan yang salah, tetapi secara sadar mengajarkan atau mempromosikan ide-ide yang bertentangan dengan iman yang sudah mapan, terutama setelah dikoreksi oleh otoritas yang tepat. Kebingungan atau ketidaktahuan yang jujur tidak termasuk bidah
3. Mengajarkan dan Menyebarkan Kesesatan
Seseorang biasanya dicap sesat ketika mereka secara aktif mengajarkan atau menyebarkan keyakinan sesat dalam komunitas agama mereka, tidak hanya dengan secara pribadi memiliki pandangan seperti itu. Prosesnya sering kali melibatkan orang lain yang diberitahu. Adapun tentang kesalahan mereka telah ditegur oleh otoritas gereja bahwa ajaran tersebut bertentangan dengan ortodoksi. Namun, bertahan dalam mengajarkannya meskipun sudah dikoreksi merupakan bukti bahwa mereka sadar, tetapi tetap melanjutkannya.
4. Otoritas Kitab Suci dan Tradisi
Doktrin ortodoks pada akhirnya diukur berdasarkan Kitab Suci dan tradisi yang diterima oleh gereja. Ketika pengalaman, nalar, atau tradisi bertentangan dengan Kitab Suci, Kitab Suci dianggap sebagai otoritas terakhir. Ajaran yang meninggikan pengalaman pribadi atau wahyu pribadi di atas Kitab Suci lebih rentan terhadap bidah.
5. Buah dari Ajaran
Ajaran sesat sering kali mengarah pada hasil yang merusak—baik secara spiritual, etis, maupun komunal. Ajaran yang mendorong dosa atau merusak kesehatan moral dan spiritual gereja juga dapat dianggap sesat karena ajaran tersebut membawa kehancuran daripada keselamatan.
Langkah Praktis untuk Mengenali dan Membedakan
- Bandingkan ajaran tersebut dengan kredo-kredo dan pengakuan iman yang utama (contoh: Pengakuan Iman Nicea, Definisi Kalsedon, dll.)
- Teliti apakah ajaran tersebut merupakan kontradiksi yang disengaja terhadap pasal-pasal iman yang mendasar.
- Mintalah penilaian dari otoritas atau konsili gereja yang diakui karena ajaran sesat bukanlah masalah pendapat pribadi, melainkan masalah penilaian bersama.
- Menilai tanggapan guru terhadap koreksi. Penolakan yang gigih dan terinformasi untuk menarik kembali setelah dikoreksi adalah penanda utama dari ajaran sesat.
- Mengevaluasi dasar kitab suci dari ajaran tersebut. Ajaran palsu sering kali memutarbalikkan atau mengabaikan ajaran Alkitab yang jelas yang bertujuan untuk penafsiran pribadi atau penafsiran baru.
Tabel Ringkasan Ajaran Sesat dan Tidak Sesat
| Kriteria | |
| Ajaran Sesat | Ajaran Tidak Sesat |
| Bertentangan dengan doktrin inti | Tidak bertentangan dengan doktrin inti |
| Disengaja dan disebarkan | Ketidaksengajaan atau kekeliruan |
| Tidak menerima koreksi oleh otoritas | Menerima koreksi oleh otoritas |
| Tidak berdasarkan kitab suci | Berdasarkan kitab suci |
| Buah (hasil) bersifat merusak, memecah, berdosa | Buah (hasil) membangun, mempersatukan, kudus |
Kesimpulan
Untuk menentukan apakah suatu ajaran tertentu itu sesat, kita harus menilai apakah ajaran tersebut dengan sengaja dan sadar bertentangan dengan doktrin-doktrin inti iman Kristen, diajarkan kepada orang lain, tetap bertahan setelah dikoreksi oleh otoritas yang berwenang, dan merongrong fondasi kitab suci dan tradisi gereja. Tidak semua kesalahan adalah bidah—karena bisa saja ada yang merupakan kekeliruan. Bidat bersifat menyerang jantung iman dan disebarkan dengan sengaja yang memenuhi ambang batas yang serius ini.
Efesus 5: 11, 15–16 “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”
Referensi:
https://www.harmonychurchofgod.org/spiritual-faqs/how-do-i-recognize-false-teaching
https://www.desiringgod.org/interviews/do-bad-ethics-qualify-as-heresy
https://www.crossway.org/articles/8-ways-to-spot-false-teachers/
Ditulis oleh Ezra Epiphania

