MATA IMAN #1828
Senin, 31 Maret 2025
Bacaan: Amsal 10:13-21
Nas: Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, ia berakal budi. (Ayat 19)
SAK DAWA-DAWANE LURUNG ISIH DAWA GURUNG
Sepanjang-panjangnya lorong masih panjang tenggorokan. Piwulang atau pelajaran dari falsafah Jawa ini maksudnya, untuk mengurangi bicara, karena kalau banyak bicara, apa yang mau disampaikan sudah dibumbui oleh macam-macam hal, seperti: persepsi, gossip, dan sebagainya. Akhirnya fakta bisa berubah ke hoax. Ibaratnya pagi cerita ketemu kadal, sore sudah berubah ketemu buaya.
Bahaya dari perilaku banyak ngomong ini sudah disadari sejak dulu. Oleh karena itu Salomo mengajarkan, untuk menahan diri jika mau bicara. Disaring dulu di dalam pikiran, apakah hal ini perlu saya omongin atau lebih baik tidak. Orang bijak dan berakal budi akan memikirkan dulu apa yang akan diomongin. Berdiam diri kadang lebih baik, daripada bicara banyak hal yang mempunyai kecenderungan salah bicara.
Sobat Cengkir, bagaimana dengan Anda? Kalau saya tipe orang yang cenderung banyak bicara, dan berdasarkan pengalaman, ada hal yang merugikan saya pribadi di kemudian hari. Marilah kita saling mendukung untuk lebih bijak dalam bicara. Mohon pencerahan dari Roh Kudus agar kita sanggup mengendalikan lidah kita agar tidak terpeleset pada hal-hal yang negatif. Terus belajar lebih baik, lebih bijak, lebih berakal budi di dalam perkataan kita. (ENO)
ORANG BIJAK TIDAK MENGATAKAN SEMUA YANG DIPIKIRKANNYA, TETAPI DIA MEMIKIRKAN SEMUA YANG DIKATAKANNYA. (Aristoteles)
—————
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by http://wa.me/6281388901368
Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat GKI Kelapa Cengkir

