Pengantar Masa Raya Paskah 2025

Masa Perayaan Paskah 2025 yang telah dilalui merupakan kesempatan untuk kita merenungi kasih Tuhan bagi umat-Nya yang percaya. Sebelum merayakan kemenangan akan kebangkitan-Nya, kita memasuki pekan Prapaskah yang dimulai dengan Rabu Abu, Kamis Putih, lalu Jumat Agung. Mari kita mengingat kembali rangkaian kegiatan sepanjang Masa Raya Paskah yang telah berlalu.

Prapaskah di GKI Kelapa Cengkir

Pernahkah kita mendapatkan pertanyaan dari orang lain atau bertanya-tanya sendiri untuk merenungi apa makna Paskah yang dimulai dari masa Prapaskah hingga setelahnya, bagi umat Kristiani?

Pertanyaan yang muncul berbunyi seperti:

– Apa itu Minggu Palmarum?

– Mengapa ada daun palma?

– Bagaimana puasa yang dijalankan?

Awal Masa Raya Paskah

Masa Raya Paskah diawali dengan Rabu Abu. Dari mana asal abu yang melekat pada Rabu Abu?  Abu tersebut berasal dari daun palma yang telah kering pada perayaan Rabu Abu tahun lalu. Momen ini juga menjadi awal dari masa berpuasa dan berpantang bagi umat.

Puasa sebelum Paskah

Berpuasa sendiri menggambarkan bagaimana niat yang kita miliki untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus. Melalui pertobatan, kita diajak untuk menyadari dan meminta pengampunan atas dosa kita sebagai umat manusia. Selama berpuasa, Sobat Cengkir dapat melakukan kegiatan berhemat dan berpantang mengonsumsi serta melakukan hal lain yang ditentukan oleh pribadi yang menjalankannya. Jika biasa mengonsumsi gula, garam, dan pangan yang kurang sehat di setiap harinya, kita dapat mengurangi, bahkan menjauhi itu semua—termasuk berpesta dan aktivitas lain yang meriah.

Minggu-minggu Prapaskah kemudian diakhiri dengan Minggu Palmarum –  hari Minggu terakhir masa PraPaskah yang menjadi titik awal penghayatan kesengsaraan Kritus. Pada Minggu ini, kita diingatkan perihal pekan terakhir dalam hidup-Nya ketika Ia mulai masuk ke Yerusalem dan akan disalibkan untuk menebus dosa kita.

Simbol daun palma ini tentu bukan sebagai jimat, melainkan peringatan untuk terus memperbaharui diri melalui pertobatan kepada Tuhan Yesus.

Menerima & Mengasihi Sesama Manusia Melalui APP

GKI Kelapa Cengkir melalui program Uluran Kasih untuk SLB Surya Wiyata mengajak untuk mendukung anak-anak, yakni peserta didik berkebutuhan khusus dalam rangka APP 2025 ini. Dukungan tersebut berupa pengadaan sejumlah alat pendukung terapi dan alat penunjang belajar.

Dengan demikian, hasil dari berpuasa yang telah dijalankan mampu bermanfaat, selain untuk diri sendiri dan untuk kemuliaan Tuhan, melalui puasa kita, saudara-saudari terkasih juga merasakan berkat tersebut.

Sebuah Perjalanan Iman dalam Tiga Hari Suci

Triduum Paskah—sebuah istilah yang mungkin masih asing bagi sebagian orang. Dalam tradisi Kristen, Triduum (berarti “tiga hari” dalam bahasa Latin) adalah rangkaian ibadah yang merenungkan peristiwa-peristiwa terpenting dalam iman kita: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Bukan sekadar ritual, Triduum adalah pengalaman spiritual yang membawa jemaat menyelami makna terdalam kasih Allah. Di GKI Kelapa Cengkir, Triduum tahun ini dirayakan dengan khidmat dan penuh makna.

– Kamis Putih: “Ikutilah Kristus yang Merendahkan Diri”

Hari pertama Triduum dimulai dengan Ibadah Kamis Putih, mengingatkan kita pada perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Saat itu, Sang Guru membasuh kaki para pengikut-Nya—sebuah tindakan yang biasanya dilakukan oleh hamba. “Jika Aku membasuh kakimu, kamu pun harus saling membasuh kaki,” sabda-Nya (Yoh. 13:14).

Di tengah lantunan pujian dan renungan, jemaat diajak merenung: Bagaimana kita mewujudkan kasih Kristus dalam pelayanan sehari-hari? Kamis Putih juga mengajak kita merenungkan pergumulan Yesus di Taman Getsemani—saat Ia dengan rendah hati menyerahkan diri pada kehendak Bapa.

– Jumat Agung: “Ikutilah Kristus yang Setia”

Layar hitam menggantung di mimbar –  dalam ibadah yang penuh khidmat ini, jemaat diajak mengingat kembali jalan salib Yesus—pengkhianatan, penyiksaan, hingga kematian-Nya di Golgota. Namun, di balik duka, ada harapan: Kematian bukan akhir. Sebab tiga hari kemudian, kubur yang kosong akan berseru tentang kemenangan!

– Paskah Pagi dan Sore:  “Hidup Baru dalam Kebangkitan-Nya”

Triduum mencapai puncaknya dalam sukacita Paskah. Lilin Paskah dinyalakan, simbol terang Kristus yang mengalahkan maut. Ibadah sore mengajak umat merenung lebih dalam: Bagaimana hidup baru dalam Kristus mewujud dalam keseharian?

Triduum bukan sekadar seremonial tahunan. Ia adalah undangan untuk masuk ke dalam kisah kasih teragung sepanjang masa. Bagi warga GKI Kelapa Cengkir, tiga hari suci ini menguatkan keyakinan: Kristus yang merendahkan diri, setia hingga salib, dan bangkit dengan mulia—adalah jalan, kebenaran, dan hidup.

Ditulis oleh Ezra Epiphania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *