Selamat datang di GKI Kelapa Cengkir. Untuk informasi lengkap mengenai kegiatan gereja dalam pekan ini, silakan membaca warta jemaat edisi 22 September 2024 berikut ini:
YANG TERBESAR, YANG MELAYANI
(Yeremia 11:18-20; Mazmur 54; Yakobus 3:13-4:3, 8; Markus 9:30-37)
Di dunia yang dipenuhi kegiatan media sosial saat ini, hasrat manusia untuk dikenal, dipuji, dihormati, diutamakan, dilayani, dimintai pendapat sangat didambakan banyak orang. Saat ini pencobaan seperti ini bahkan lebih besar daripada pencobaan kekayaan. Mereka menganggap bahwa terkenal adalah jalan menuju kepada kekayaan dan kemakmuran sehingga banyak orang mencoba menjadi terkenal dengan cara apa pun.
Ketika seseorang terjebak dalam pemusatan diri sendiri atau memperhatikan kepentingannya sendiri, ia juga akan cenderung berbenturan dengan orang lain. Bila setiap orang menganggap kehidupan dunia ini sebagai ladang persaingan yang harus dimenangkan, ia akan menganggap orang lain sebagai musuhnya, atau paling tidak menganggap orang lain sebagai saingan yang harus disisihkan atau disingkirkan. Pemusatan diri sendiri, mau tidak mau, meniadakan orang lain. Akibatnya tujuan hidupnya bukan lagi untuk menolong dan melayani orang lain, melainkan menyisihkan orang lain.
Tuhan Yesus mengajarkan dan mengingatkan murid-muridnya setelah beberapa kali melihat para murid Yesus bergumul dalam kontestasi kekuasaan. Mereka berlomba lomba menjadi protos (yang terkemuka) seperti yang diigambarkan dalam Yakobus 3:13 – 4:3. Murid-murid Yesus ternyata belum memahami dan masih menganut Kerajaan dalam konsep duniawi. Pada zaman itu mengikuti kelompok atau orang yang berkarisma atau berpengetahuan untuk menaikkan derajat seseorang adalah sesuatu yang umum terjadi. Para murid Yesus yang berasal dari kalangan bawah memiliki harapan yang sama terhadap Yesus.
Dengan mengikuti-Nya, mereka berharap akan ‘naik kelas’ bahkan memerintah layaknya penguasa dunia.
Oleh karena itu Yesus kembali mengingatkan dalam Markus 9:31 : “Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit”. Yesus lebih lanjut menjelaskan kepada murid-muridnya bahwa “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya” (Markus 9:35). Dalam hal ini, Yesus tidak sedang mengartikan bahwa ia menolak ambisi justru sebaliknya ia membungkus dan memperbarui makna ambisi menjadi lebih bernilai. Ambisi untuk memerintah diganti menjadi ambisi melayani. Ambisi untuk dilayani orang lain menjadi ambisi untuk melayani orang lain. Orang yang terbesar dan dikenang dunia ialah mereka yang melayani dan rela memberikan diri bagi orang lain.
Hal ini menjadi peringatan bagi kita:
1. Apakah kita cenderung untuk menyahabati orang orang yang terkenal dan berkuasa daripada menyahabati orang-orang kecil, rendah dan biasa saja yang baginya kita bisa melakukan sesuatu ?
2. Apakah kita terjebak dalam kontestasi kekuasaan yang berujung pada pementingan dan kekuasaan sendiri?
3. Apakah kita siap dengan risiko-risiko saat terpanggil melayani? Memang tidak mudah untuk melayani dan menolong orang lain apalagi di tengah keegoisan yang menjadi-jadi pada saat ini. Ketika kepedulian dan bela rasa sudah sulit dicari, apakah kita masih mau setia untuk melayani seperti yang sudah Yesus teladankan?
(Pnt. Aroem Naroeni untuk Warta Jemaat 22 September 2024)
Dapatkan informasi mengenai kegiatan gereja dan pengumuman lainnya melalui warta jemaat dan linktree dari GKI Kelapa Cengkir

