Warta Jemaat GKI Kelapa Cengkir – 01 September 2024

Selamat datang di GKI Kelapa Cengkir. Untuk informasi lengkap mengenai kegiatan gereja dalam pekan ini, silakan membaca warta jemaat edisi 01 September 2024 berikut ini:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

HATI SEORANG PEMIMPIN
(Ulangan 4:1-2, 6-9; Mazmur 15; Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-15, 21-23)

Dalam teori kepemimpinan era modern, sering diangkat mengenai dua gaya kepemimpinan. Kedua model kepemimpinan tersebut sering dituliskan Boss vs Leader. Ada alasan mengapa kedua gaya tersebut dituliskan bertentangan, karena dua gaya kepemimpinan yang berbeda itu, ternyata menghasilkan efek yang berbeda juga, bahkan bertolakbelakang pada moralitas dan produktivitas organisasi.

Seorang pemimpin Boss sangat suka mengontrol dan mendominasi bawahannya. Tidak jarang ia menggunakan peraturan sebagai sarana untuk mengendalikan bawahannya dengan cara menciptakan ketakutan akan ancaman hukuman atau sanksi. Tipe ini, sudah tentu tidak suka mendengarkan masukan, apalagi membimbing serta mengayomi bawahannya. Semua ciri tersebut biasanya dilatarbelakangi oleh motivasi mencari keuntungan pribadi, bahkan sebagai cara-cara untuk mempertahankan kekuasaannya.

Sedangkan seorang Leader memberikan arahan, pedoman, bahkan ikut terjun dan bekerjasama dengan pengikutnya. Ia tahu bagaimana cara memotivasi dan membantu para pengikutnya mengaktualisasikan potensi unik mereka. Ia mampu melakukan hal itu, karena sebagai pemimpin ia mau membuka komunikasi dua arah, serta mau mengenal pengikutnya sebagai seorang pribadi. Ia juga tidak pelit memberikan semangat dan menghargai kontribusi pengikutnya. Seorang Leader menempatkan visi dan misi organisasinya di atas kepentingan pribadinya.

Kedua gaya kepemimpinan ini, ternyata sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dan orang-orang Farisi serta para ahli Taurat. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memanfaatkan pengaruh mereka sebagai para pengajar untuk meraup keuntungan dari umat. Mereka juga memberikan aturan-aturan kaku yang dipakai sebagai sarana untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaan mereka atas orang-orang Yahudi. Umat sebenarnya sudah mengetahui kemunafikan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat, namun umat takut untuk mengecam mereka.

Yesus sebaliknya, mencerminkan sikap seorang Leader. Sebagai pemimpin yang mempunyai banyak sekali pengikut, Ia tidak mengumpulkan mereka dengan pengaruh jabatan dan kekuasaan. Orang banyak dengan sukarela mengikut Yesus karena Ia berintegritas, perkataan dan perilakunya sesuai dengan ajaranNya. Ia peduli serta memberikan solusi kepada mereka yang lemah dan menderita, Ia juga memahami tiap murid-Nya dan tahu bagaimana memotivasi mereka sesuai dengan keunikannya masing-masing. Yesus adalah pemimpin yang melayani, orang-orang Farisi adalah pemimpin yang hanya mau dilayani. 

Bersediakah kita mendukung pemimpin seperti yang diteladani Yesus? Maukah kita menjadi pemimpin itu? Menghidupi Firman Allah di dalam hidup berintegritas setiap hari, bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Roh Kudus hadir untuk menolong kita. Kita dipanggil untuk menjadi pemimpin, pertama-tama dimulai dari keluarga kita sendiri, lingkungan tempat tinggal kita, tempat kita bekerja dan bersosialisasi, bahkan di dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Perubahan akan mulai terlihat di dalam bangsa dan negara kita apabila kita sebagai umat Allah mengerjakan bagian kita masing-masing dengan setia.

(Pnt. Yovita W. Tananda untuk Warta Jemaat 01 September 2024)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *