Perbedaan Bukanlah Terjadi Karena Perpecahan

Di dalam sejarah Kekristenan sampai hari ini kelihatannya ada banyak sekali perpecahan yang terjadi. Ratusan tahun yang lalu, Kekristenan lahir karena adanya perpecahan. Perpecahan tersebut dicetuskan oleh seorang tokoh bernama Martin Luther. Ia menjadi sosok dibalik peristiwa Reformasi Kekristenan. Dia membuat dan menempelkan 95 tesisnya di depan sebuah gereja berisikan perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh para petinggi gereja Katolik dan kemudian memilih untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik. Dari kejadian ini memunculkan tokoh-tokoh reformasi lainnya seperti John Calvin, John Knox, Zwingli, dan masih banyak tokoh lainnya. Tokoh-tokoh reformasi menjadi pelopor yang membawa semangat kembali ke Alkitab.

Dari banyaknya tokoh-tokoh yang terus bermunculan, Kekristenan terus berkembang dan kemudian muncul berbagai aliran dari tokoh-tokoh tersebut sehingga tercipta berbagai denominasi sampai hari ini. Lalu kita sebagai umat Kristiani menjadi bertanya-tanya, mengapa bisa kita yang menyembah Tuhan yang sama tetapi memiliki perbedaan mengenai doktrin untuk menyembah-NYA?

Seolah-olah adanya denominasi gereja terjadi karena adanya pertentangan antara denominasi yang satu dengan yang lainnya yang menunjukkan bahwa denominasi menjadi bukti perpecahan di dalam Kekristenan. Namun, benarkah demikian? Benarkah denominasi adalah bukti perpecahan gereja Kristen? 

Dalam 1 Korintus 12:12-31, Paulus sendiri mengandaikan antara jemaat satu dengan yang lainnya itu sebagai anggota tubuh yang banyak dan berbeda-beda tetapi berada dalam satu tubuh. Paulus sadar bahwa perbedaan di antara jemaat tidak bisa dihindari dan tentu perbedaan itu akan menjadi masalah yang besar di dalam kesatuan tubuh Kristus. Gereja pada awal mula-mula terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda. Gereja terbentuk dari berbagai suku bangsa, bahasa, latar sosial ekonomi serta karunia yang dimiliki oleh umatnya dalam melakukan pelayanan. 

Peredaan memang ada dan memang dibutuhkan di dalam tubuh Kristus. Jika semua sama, maka tidak bisa terbentuk sebagai satu tubuh Kristus. Jika ada anggota yang sakit, maka anggota ikut merasakan sakit, jika ada anggota yang dihormati maka anggota lain akan bersukacita. Jadi Alkitab tidak menentang adanya perbedaan di dalam tubuh Kristus, tetapi anggotanya harus saling memperhatikan satu sama lain. 

Tapi bukannya denominasi yang ada di Indonesia itu menunjukkan perbedaan-perbedaan di dalam tubuh Kristus? Bahkan di dalam satu gereja pun, pasti anggota-anggotanya memiliki perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya. Perlu dimengerti bahwa perbedaan yang ada justru adalah anugerah dari Allah. Setiap denominasi Kristen adalah murid Kristus yang berada di bawah satu pimpinan yang agung, yaitu Yesus Kristus.

Dalam 1 Korintus 13, Paulus juga menjelaskan bahwa kasih adalah kunci dari cara agara agar jemaat dapat saling memperhatikan di dalam kesatuan tubuh Kristus. Dengan adanya kasih, semua perbedaan dapat diterima dengan lapang dada dan anggota yang berbeda dapat terus setia saling memperhatikan. Kasih nyata dalam tindakan Allah yang mengutus anak-NYA yaitu Yesus Kristus. Dari hal ini relasi atau hubungan manusia menjadi terjalin lagi dengan Allah. Ini menjadi dasar bagi kita untuk menjalin relasi dengan sesama orang percaya lainnya.             

Denominasi Kekristenan memang menunjukkan adanya perbedaan. Namun, perbedaan ini lah yang menunjukkan anugerah Allah dalam satu kesatuan tubuh Kristus. Setiap anggota saling menjaga dan memperhatikan satu dengan yang lainnya di dalam kasih. Sungguh adalah suatu anugerah yang indah. Allah mengizinkan denominasi Kekristenan ada justru patut dijadikan kesempatan untuk kita menunjukkan kasih yang nyata di tengah perbedaan-perbedaan yang ada.

Sikap yang Benar Terhadap Denominasi

Kita tidak boleh mengabaikan denominasi ataupun memisahkan diri dari gereja dan beribadah memuji Tuhan dengan seenaknya. Melainkan sebagai umat-NYA kita harus tergabung dalam gereja di mana disanalah Firman Tuhan diberitakan. Sebagai orang percaya, mungkin memang ada doktrin-doktrin berbeda dasar yang berbeda dan memilih untuk berpegang teguh pada keyakinan kita, namun diluar dari itu kita memiliki kebebasan dan dapat memilih mengenai cara kita kita untuk beribadah dan melayani. Di sinilah seharusnya letak perbedaan dari denominasi, sehingga denominasi-denominasi yang ada seharusnya merupakan sebuah keragaman dan bukan perpecahan. 

*****

Bagi penulis, denominasi bukan merupakan bukti dari pecahnya Kekristenan. Denominasi bisa dijadikan sebagai bukti nyata dari kasih Allah untuk kita anak-anak-NYA yang merupakan bagian-bagian dari satu tubuh Kristus untuk menjalin relasi dengan sesama umat-NYA yang lain yang merupakan bagian dari anggota tubuh lainnya yang berbeda di dalam Kekristenan. Penulis percaya denominasi adalah anugerah Allah yang memberikan kita kesempatan untuk saling mengasihi dan menjaga serta saling memperhatikan sebagai satu kesatuan di dalam tubuh Kristus.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *