MATA IMAN #949
Kamis, 3 November 2022
Bacaan: Roma 14:1-23
Nas: Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. (Ayat 1).
BOLEH MAKAN ATAU TIDAK?
3 November ditetapkan sebagai Hari Kerohanian, dengan tujuan membangun toleransi antar umat beragama, yang relatif lebih mudah dipraktikkan oleh penganut yang berbeda. Yang rumit, jika agama sama, namun beda aliran sehingga beda penafsiran, atau kadang diistilahkan “Seiman tapi tidak se-amin”. Lapo (Kedai Batak) adalah salah satu lokasi yang kerap jadi ranah diskusi: Bolehkah makan darah?
Surat Rasul Paulus ditulis pada awal Kekristenan, saat itu ada dua kalangan, bangsa-bangsa lain, dan Yahudi – yang masih berpegang kepada Taurat, mengenai aturan kosher (makanan yang bersih atau boleh dikonsumsi). Penebusan Yesus adalah dasar iman bahwa Taurat telah digenapi sehingga tidak ada lagi haram atau halal; seperti juga penafsiran dari penglihatan Petrus saat akan mengunjungi Kornelius (Kisah Para Rasul 10). Ayat renungan mengingatkan, agar kita tidak saling menghakimi, merasa lebih suci, baik yang meyakini boleh atau tidak boleh mengenai makanan.
Karena yang lebih utama adalah ucapan syukur, untuk apa yang kita pilih konsumsi atau tidak (Ayat 6). Namun, jika karena makan atau minum, yang disaksikan mereka yang punya pandangan berbeda, bisa menjadi sandungan atau memicu perselisihan, sebaiknya itu tidak dilakukan (Ayat 21). Upayakanlah apa yang mendatangkan damai sejahtera dan berguna untuk saling membangun (Ayat 19).Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.(Ayat 17). Jadi gimana, Bang? Pesan saksang yang margota atau sopola gota (pakai darah atau tanpa darah)? (YOD)
==
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11)
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir
dapat diakses melalui :
https://linktr.ee/gkikelapacengkir
Whatsapp by wa.me/+6281388901368

