There’s A First Time For Everything

Dalam beberapa hari di awal bulan Mei ini, twitter heboh oleh karena cuitan seorang selebriti bernama Nessie Judge lewat media Twitter. Di cuitan pertama, ia baru pertama kali melihat secara langsung orang yang memakan indomie bersama nasi putih. Esok harinya, cuitan muncul di mana ia pertama kalinya memakan seblak. Mungkin bagi beberapa di antara kita, hal tersebut adalah hal yang biasa, tetapi sangat mungkin ada hal yang baru bagi beberapa orang.

Bagi sebagian orang Kristen yang berasal dari keluarga Kristen, momen Natal, Paskah dan Hari Besar Gerejawi lainnya mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun bagaimana dengan beberapa orang yang baru pertama kali mengalami perjumpaan dengan Kristus? Tentu momen tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Hal tersebut juga dituliskan dalam kitab Lukas. Mulai dari kelahiran Yesus Kristus, gembala-gembala yang dianggap sebagai masyarakat kelompok bawah kemudian pergi menemui bayi Yesus; mereka pun pulang dengan sukacita dan memuji Allah. Begitu pun pada Maria dari Magdala, Yohana Maria ibu Yakobus dan perempuan-perempuan di mana mereka awalnya berduka, lalu menjadi bingung, terkejut dan kaget ketika melihat batu dari makam Yesus terguling dan mayat-Nya tidak ditemukan. Ketika mereka termangu-mangu, sosok malaikat hadir dan mengingatkan mereka akan ucapan Yesus bahwa Ia bangkit pada hari yang ketiga. Hal ini membuahkan keyakinan, sukacita dan keberanian untuk menceritakan kepada yang lain.

Momen kebangkitan Yesus di mana para perempuan menjadi saksi pertama tentu memiliki sebuah maksud. Baik kelompok gembala yang dianggap rendah dalam struktur sosial perempuan pun juga dipandang sebelah mata; kesaksian seorang perempuan hanya dianggap setengah dari kesaksian seorang lelaki. Namun pertemuan mereka dengan Kristus yang hidup membawa perubahan besar bagi hidup mereka. Mereka bukan hanya menjadi saksi, tetapi mereka juga turut bersaksi kepada para murid lainnya. Walaupun para murid yang saat itu mendengar belum percaya, namun kita dapat melihat bahwa Kerajaan Allah dinyatakan. 

Yesus telah menyatakan Kerajaan Allah dalam hidup-Nya, lewat kasih dan pengorbanan hingga mati di kayu salib. Kerajaan Allah memutar balikkan konsep kerajaan dunia yang berisikan perebutan kuasa, perang dan intrik.  Kerajaan Allah menyatakan pengampunan, penerimaan kepada setiap orang. Dan Yesus Kristus pun juga ingin kita yang telah merasakan pertemuan ilahi penuh kasih dengan-Nya, turut menyatakan Kerajaan Allah bagi seisi dunia.

Jika kita pernah atau saat ini merasakan bahwa Paskah menjadi pertemuan pertama atau pertemuan kembali dengan Pribadi Ilahi yang mengasihi kita, maka ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk pertama kali dan sekali lagi menyatakan Kerajaan Allah.

Berita paskah sesungguhnya bukan hanya untuk kehidupan spiritual pribadi, tapi juga bagaimana kita menyatakan kehidupan yang bangkit dari penindasan, ketidakadilan dan diskriminasi.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Fatal error: Uncaught wfWAFStorageFileException: Unable to save temporary file for atomic writing. in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:34 Stack trace: #0 /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(658): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/u7049137/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 34