Mengasihi, Sebuah Mandat Etika bagi Kita

Mengasihi keluarga, kekasih ataupun sahabat mungkin bukanlah hal yang sulit untuk kita lakukan. Lantas bagaimana jika dengan orang yang membawa murka bagi kita?

Kalimat di atas tentu menjadi sebuah pertanyaan reflektif yang kerap kita gumulkan hingga akhir hidup. Sangat mungkin Sobat Cengkir pernah atau akan bertemu dengan orang yang tidak mau diatur, suka seenak egonya sendiri, berujar kasar dan berbuat tindakan yang menyebalkan kepada diri kita. 

Mungkin di tempat kerja, Anda memiliki atasan yang semena-mena memberikan tugas menumpuk di luar jam kerja. Atau Anda sebagai pengusaha, ada saja klien yang telat membayar tagihan dengan berbagai alasan yang tak masuk akal. Di gereja pun, mungkin juga Anda akan bertemu dengan orang-orang yang hobinya bergosip kondisi dari jemaat lainnya. Atau mungkin anggota keluarga Anda justru yang membuat Anda menangis karena sikap yang tidak menghormati atau menghargai Anda. Lalu apa yang harus kita perbuat jika bertemu dengan orang yang kerap mendukakan hati kita seperti di atas?

Layaknya pencopet yang berteriak orang lain sebagai pencopet, sejatinya, kita pun mungkin adalah orang yang juga buruk bagi sesama kita. Dan hal yang pasti, sejatinya kita sebagai manusia adalah ciptaan yang hina di hadapan Tuhan karena sering dan selalu menyakiti hati-Nya. Siapa sih yang hidupnya tak lepas dari dosa? Mungkin kita terlihat sebagai orang yang saleh di depan banyak orang, tapi apakah Anda yakin apa yang ada di benak maupun tindakan di kala kita seorang diri tetap dalam kekudusan? Dengan keberdosaan hidup kita, seharusnyalah kita menjadi seteru Tuhan.

Tuhan kita, justru menunjukkan tindakan yang berbeda dengan kita. Ketika kita memahami mata ganti mata, gigi ganti gigi sebagai tanda pembalasan akan sebuah kesalahan, Yesus Kristus justru menunjukkan sikap yang berbeda dengan merendahkan diri dan mengasihi manusia. Perjamuan terakhir menjadi salah satu momentum di mana Yesus Kristus mau membasuh kaki para murid, yang Ia tahu bahwa mereka akan mengkhianati-Nya, menjual-Nya, menyangkal-Nya dan melarikan diri ketia Ia dalam sengsara.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Yohanes 13:34

Kamis Putih, atau yang lebih tepat dikenal sebagai Maundy Thursday, merupakan malam di mana Yesus Kristus memberikan contoh mengasihi dan juga menyampaikan mandat untuk saling mengasihi. Mengasihi bukanlah sebatas emosi dan afeksi yang hanya kita berikan ketika orang lain melakukan hal baik bagi diri kita; mengasihi adalah etika yang bukan hanya sekadar aturan tapi eksistensi kita sebagai manusia.

Mengasihi layaknya yang Yesus Kristus lakukan bukanlah hal yang mudah. Hal ini mungkin disebabkan karena kita kecewa, kita berekspektasi lebih kepada orang lain dan sayangnya ekspektasi tersebut tidak terwujud, atau bahkan sebaliknya. Kekecewaan yang terjadi dalam diri seseorang dan kita pendam dalam hati akan menyebabkan tindakan kejahatan. Yudas Iskariot adalah salah satunya. Sebagai pribadi yang dekat dengan Yesus, berada dalam lingkaran cinta kasih, Yudas berharap Yesus dapat menjadi raja yang membebaskan bangsa Israel dari penjajahan kekaisaran Romawi. Sayangnya Yesus menunjukkan kerajaan-Nya adalah kerajaan Kasih, yang berbeda dengan apa yang ada di benak Yudas, sehingga ia kecewa dan mengkhianati Yesus.

Walaupun Yesus mengetahui Yudas akan mengkhianati-Nya, Yesus tetap menunjukkan Kasih Ilahi sebagai etika yang seharusnya dihidupi oleh umat Tuhan. Yesus tidak menghukum Yudas atau menghalang-halangi tindakan Yudas; sebaliknya ia masih membasuh kaki Yudas seperti kepada murid-murid lainnya. Kasih Ilahi timbul bukan karena kita diperlakukan baik, tetapi menerima apapun kondisi mereka yang melakukan perbuatan tidak baik. Sangat disayangkan, kematian Yudas merupakan konsekuensi memilih hidup di luar Kasih Ilahi. Yudas menghukum dirinya sendiri karena merasa hidupnya sangat gelap di luar Kasih Yesus.

Mengasihi “orang-orang sulit” layaknya Yesus, juga dapat dilakukan oleh kita yang juga telah menerima Kasih-Nya. Renungkan dan terapkan langkah berikut:

  1. Mulailah dengan menyangkal diri, karena kita mengasihi dengan “harus” bukan hanya “mau” dan “bisa”. 
  2. Taruhlah kepentingan orang lain sebagai keutamaan dalam kacamata Tuhan, bukan sekadar kepintingan dan ego diri sendiri. 
  3. Kenali apa yang menjadi kebutuhan orang yang kita ingin bantu, belajar mendengarkan dan memahami orang dengan berbagai dinamikanya dengan meniadakan stereotype. 
  4. Pahami situasi yang terjadi sehingga kita tidak menjadi superior dan berbesar hati, tanda kita tetap menghamba di hadapan-Nya.

Yesus merupakan contoh nyata dan pemberi mandat bagi kita untuk harus mengasihi sebagai etika dalam hidup kita. Tentu banyak hal terjal yang terjadi, tetapi dengan mengenang kebaikan Tuhan, kiranya kita selalu diberdayakan mengasihi satu sama lain seperti yang Yesus perbuat.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *