IMAN KRISTEN DAN BUDAYA PERNIKAHAN

Pada 12 Oktober 2021 kemarin GKI Kelapa Cengkir melaksanakan Pendalaman Alkitab (PA) dengan tema “Iman Kristen dan Budaya Pernikahan” yang dibawakan oleh Pdt. Winner Pananjaya melalui via Zoom Meeting. 

Budaya adat di Indonesia terutama suku Jawa sangat dekat dengan alam atau hasil bumi, seperti pisang raja, daun sirih ayu, kembang telon, tembaga, dll. Setiap proses yang dilakukan dalam pernikahan adat penuh dengan makna dan setiap simbolnya memiliki arti. Menurut orang Jawa, orang yang melakukan perkawinan adalah seperti menapaki dunia baru. Dunia baru yang dimaksud adalah dunia yang terdiri dari dua dimensi. Dimensi pertama adalah dunia gaib/mistis dan dunia real, dimensi yang kedua adalah jagat alit yang, yaitu manusia itu sendiri, dan jagat gede yang yaitu masyarakat. Setiap dimensi ini tidak berjalan sendiri-sendiri, namun berjalan berdampingan untuk menggapai harmoni. 

IMAN KRISTEN DAN BUDAYA PERNIKAHAN

Jika disimpulkan, pernikahan budaya adat Jawa ini adalah sebuah perjalanan spiritual dan kultural yang dekat dengan masyarakat dan memiliki makna yang dalam. Sama halnya dengan pernikahan adat Tionghoa. Namun, pada zaman ini pernikahan adat Tionghoa sudah banyak pemakluman atau modifikasi yang dilakukan, seperti tradisi menata kasur untuk malam pertama dan yang lainnya. Pada tradisi pernikahan adat Tionghoa lebih terfokus pada orang tua, penghormatan, dan memohon restu. 

Penentuan hari baik juga sangat erat hubungannya dengan penentuan tanggal pernikahan, lamaran, bahkan tanggal kelahiran seseorang. Bagaimana kita sebagai orang Kristen menanggapi hal ini? Pada Galatia 4:8-11, Paulus memberikan kritik kepada jemaat di Galatia agar hidupnya tidak lagi diperhamba oleh roh-roh dunia. 

Pada Kejadian 1:31, Allah mengatakan semuanya itu sungguh amat baik, begitu juga dengan hari-hari yang ada. Tidak ada hari yang lebih baik atau lebih buruk, semua hari baik, bahkan ketika disaat kita sakit sekalipun. Maka kita harus percaya dan tertuju pada Tuhan, bukan kepada hari yang dianggap “baik”.

Pada adat pernikahan juga ada unsur berdoa kepada leluhur. Keluaran 20:3-5 tertulis, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.”

IMAN KRISTEN DAN BUDAYA PERNIKAHAN

Hal di atas adalah termasuk roh leluhur yang di dalam tradisi adalah orang terdekat, seperti orang tua, kakek, dan nenek. Jika iman kita tegas, maka iman kita hanya kepada Kristus walaupun kita menjalani tradisi-tradisi budaya. 

Komunikasi adalah kunci dalam berelasi. Mengapa hal ini penting? Jika terjadi suatu masalah di kehidupan rumah tangga kedepannya, maka hal yang tidak dikomunikasikanlah yang dijadikan alasan dalam masalah tersebut. Relasi harus tetap ada, dan hal ini merupakan kunci saat terjadi benturan budaya yang berbeda. Komunikasi menjadi jembatan di saat kita berelasi dengan budaya pernikahan yang pada zaman ini. 

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *