Anti Toxic Positivity: Jujur kepada Diri Sendiri

Kerapuhan merupakan bagian dari proses iman. Mulailah bersikap jujur terhadap diri sendiri dengan membuka diri untuk berproses di dalam kasih karunia Allah. 

Jujur terhadap Emosi: Menghindari Toxic Positivity

Jujur aja, nih, sesuatu yang positif dapat menjadi toxic, mengganggu, atau meracuni. Terus, mengapa dicap “positif”? Hal yang positif menjadi tidak baik jika disalahgunakan. Hal demikian membuat kita mengabaikan emosi negatif. Yap! Maksudnya, tuh, kita seakan ngga boleh merasakan perasaan takut, bimbang, bingung, dsb. Sederhananya, toxic positivity adalah keyakinan yang tidak wajar bahwa kita harus berpikir positif dalam situasi apapun.

Pemahaman Alkitab seri "Toxic" pada minggu keempat di bulan Agustus ini mengambil tema Toxic Positivity yang dilayani oleh Pdt. Daniel K Gunawan (GKI Coyudan).

Jujur: Menyemangati atau Menentang?

Sobat Cengkir, mungkin pernah mendengar perkataan orang lain seperti Penderitaanku belum ada apa-apanya sama yang lain. Harus kuat! Harus bisa dihadapi”.

Toxic Positivity: Kamu Merasa Bersalah Memiliki Emosi

Dua contoh kalimat di atas seakan-akan sebagai kalimat penghiburan yang dapat menjadi penghakiman bagi orang yang ditimpa kemalangan. Lalu, korban toxic positivity ini jadi beranggapan “Oh, ngga boleh, ya aku lemah”, “Oh, ngga boleh, ya aku sedih”, atau “Oh, ngga boleh, ya aku rapuh”. Padahal, secara realita, kesedihan itu wajar terjadi sebagai bagian dari pengalaman hidup kita. 

Toxic jika Mengabaikan Emosi: Emosi itu Manusiawi

Meneladani kisah Ayub di dalam Alkitab, ia yang kehilangan harta dan anak-anaknya sempat mengalami kondisi naik turun serta hampir menyerah terhadap hidup yang dijalani. Namun, dia bertanya terus kepada Allah, maka ia menemukan Allah. “Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.” (Ayub 12:3).

toxic positivity

Jujur: Kewajaran Merasakan Gundah

Michael Yaconelli menulis buku Messy Spirituality atau Kerohanian yang Kacau. Buku tersebut menceritakan tentang Michael Yaconelli yang mana sebagai pendeta mengkritik gereja yang tutup mata terhadap kerapuhan umatnya. Akhirnya, ia menerima umat yang memiliki kehidupan berantakan, seperti pecandu narkoba, PSK, atau seseorang yang senang berhalusinasi. Sedangkan, gereja-gereja lain kerap tidak mau menerima kerapuhan jemaat-Nya. Michael dalam bukunya berkata, “Jujurlah terhadap kekacauan yang dihadapi. Iman sejati berawal dari kejujuran tentang kekacauan dan ketidakberdayaan kita menghadapi situasi.” 

toxic positivity

Jujur = Jalan, instead of toxic with “always been okay”

Kesimpulannya, kalau kita berpikiran harus selalu positif justru kita mengabaikan kejujuran diri atas emosi negatif yang dialami. Saat kita mengakui kerapuhan kita, justru dengan itu kita akan menemukan Allah dalam kerapuhan kita. Ia selalu menyertai proses kita di dalam kehidupan ini. 

Disunting oleh Ezra Epiphania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *