Buku Not Yet Married oleh Marshall Segal – Memaknai Jomblo, Pacaran, Maupun Menikah dengan Tepat

Manusia adalah makhluk yang selalu memproduksi makna di tiap aktivitas hidupnya – contohnya, paket McDonald’s edisi BTS yang membuat geger sampai McD Artha Gading pintu masuknya diblokir mobil polisi. Mengapa kita mau membayar 50 ribuan untuk 7 keping nugget, kentang dan minuman bersoda? Tentu karena kita memaknainya sebagai adorasi untuk figur idola yang dipresentasikan. 

Bagaimana kita memaknai status menjomblo, berpacaran, dan menikah di hidup kita saat ini? Berbagai makna telah disematkan pada institusi yang bernama “pernikahan” – bagi sebagian kita yang bekerja di sektor penata acara pernikahan, mungkin itu adalah industri. Untuk yang mengikuti berita mengenai insiden pemerkosaan beberapa waktu lalu, menikahkan korban dengan pelaku dianggap menjadi solusi. Ada pula kasus influencer, Ratu Rizky Nabila, dan back Persija, Alfath Fathier, yang bisa kita ambil hikmahnya. 

Satu yang paling bikin saya miris, sejak COVID19 banyak siswa SMA dan SMK meminta dispensasi nikah dari sekolahnya, padahal usianya belum legal (ini sudah terjadi sebelum gaduh soal sinetron Zahra ya). Alasannya? Bosan dengan hidup yang stagnan karena pandemi. 

Bagi kita yang merasa bingung dalam memaknai fase hidup kita saat ini, baik yang sedang menjomblo, berpacaran, maupun menikah, buku ini sangat baik untuk meng-kalibrasi kompas kehidupan kita. Buku ini terbagi dalam dua bagian besar, yaitu bagian untuk kita yang sedang menjomblo dan kita yang sedang berpacaran.

 

Bagi yang sedang menjomblo…

Masa lajang = masa mengasihani diri sendiri? Jangan sampai kita terteror oleh kelajangan kita sendiri, Marshall Segal mengingatkan, “Yesus mungkin meminta banyak dari kita selama kita hidup, tapi dia tidak peduli kita menikah atau tidak.” 

Mungkin dalam hidup ini, kita pernah merasakan kekosongan yang tidak kunjung terisi oleh apapun. Kita merasa hampa ketika jomblo, tapi juga merasakan kesepian yang aneh di dalam relasi pacaran. Rasa hampa itu didefinisikan Segal sebagai lapar akan belas kasih, sebuah naluri yang Ia tanamkan di diri kita untuk membawa kita kepada Allah. Ia ingin kita selalu dekat dengan-Nya, jadi jangan sampai menikah jadi satu-satunya goal hidup kita. Allah menciptakan kita untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari hanya sekadar menikah. Seperti kata pendeta di akhir kebaktian Minggu, “Arahkanlah hatimu kepada Tuhan…”

Menurut Segal, kesalahan terbesar kaum lajang adalah berasumsi kalau pernikahan bisa memenuhi kekosongan dalam hidup. Rencana dan mimpi kita bisa jadi berhala – ya, termasuk pernikahan, yang disebut penulis sebagai, “Pemberian yang baik sekaligus berhala yang mengerikan.”

Maka untuk kita yang sedang menjomblo, belajarlah untuk mengasihi hidup yang kita miliki bersama Allah, meski itu adalah hidup yang tidak kamu inginkan. Kekristenan bukan sebagian dari hidupmu, kekristenan adalah hidupmu. Nyatanya, di dunia ini, kita semua sedang menjalani masa lajang. Kita semua sedang menantikan pernikahan yang kelak akan terjadi, di dalam kekekalan bersama Tuhan kita. 

 

Bagi yang sedang berpacaran…

Pernikahan layak diawali dengan pacaran yang benar. Dan seks seharusnya datang dengan rasa aman yang besar, rasa dikasihi dan diterima, yang ada dalam sebuah institusi pernikahan. Segal mengingatkan, pernikahan itu intinya ada pada komitmen, bukan kesesuaian; dan berpacaran adalah fase persiapan. “Hadiah terbesar dalam pernikahan adalah keintiman yang berpusat pada Kristus, dan hadiah terbesar dalam berpacaran adalah kejelasan yang berpusat pada Kristus,” tulis Segal dalam bukunya.

Pertanyaan menarik yang diangkat di buku ini, jika semua usaha pacaran kita adalah untuk mengarah pada pernikahan, mengapa banyak dari kita berpacaran justru jauh sebelum kita siap menikah? Jangan izinkan pikiran kamu menikahi dia, sebelum keseluruhanmu bisa menikahinya. Pacaran dan seks bisa berjalan benar-benar baik dan indah dalam konteks perjanjian. Jadi sama seperti mereka yang menjomblo, ketika berpacaran, berharaplah lebih kepada Yesus daripada ke pernikahan. Bahkan Segal menegaskan, jangan berpacaran dengan orang yang lebih mencintaimu ketimbang Tuhan.  

Kultur individualisme, konsumerisme dan karierisme telah menjual murah nilai dan pentingnya pernikahan – seakan menikah hanya hiasan sosial bagi mimpi atau ambisi seseorang. Saya sangat mengapresiasi kejujuran Marshall Segal kepada para pembacanya; ia menjadikan hidupnya sebagai contoh yang tidak sempurna, karena ia pun pernah jatuh dalam masa lajang yang dimaknai tidak tepat, dan masa pacaran yang diisi dengan seks. Buku ini membawa kita runut mengikuti transformasi pola pikirnya, hingga menemukan makna yang sejati di dalam Tuhan. 

Buku yang sangat direkomendasikan untuk Sobat Cengkir baca, di berbagai musim kehidupanmu saat ini!

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *