Liputan Seminar Online Life After Vaccine

Dalam hitungan hari hingga minggu, Indonesia akan melaksanakan vaksinasi untuk penanggulangan pandemi Covid-19. Tentu penyakit yang disebabkan oleh virus bernama SARS-CoV-2 merupakan hal yang baru bagi banyak orang di dunia, sehingga banyak penemuan yang berkembang terus-menerus. 

Untuk menjawab banyak hal yang mungkin belum diketahui masyarakat terkait virus ini dan penanganannya, GKI Kelapa Cengkir mengadakan Seminar Online Life After Vaccine pada Sabtu, 9 Januari 2021. Dengan menghadirkan dr. Karina Anindita, M. Biomed, Sp. PD selaku Internis, Satgas Covid Siloam Hospital Mataram serta Aroem Naroenni, DEA, Ph.D, selaku anggota Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi (PRVKP) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih terkait situasi terkini dari pandemi Covid-19.

Awalnya kita mengetahui orang yang terpapar Covid-19 akan mengalami gejala demam, batuk, sesak nafas dan pusing. Namun seiring perkembangan, terdapat gejala lainnya, seperti diare, kulit merah, dll. Dalam hal ini dr. Karina menjelaskan bahwa dampak yang parah dalam beberapa kasus bahkan hingga menyebabkan kematian, bukan dikarenakan replikasi virus itu sendiri, melainkan respons imun dari tubuh kita. Jika respons imun berlebihan akan terjadi pelepasan sitokin dan kemokin (badai tiroid) yang secara cepat dapat menginduksi ARDS, yang berpotensi menyebabkan kegagalan multiorgan dan kematian.

Mengenai vaksinasi, dr. Karina menyatakan bahwa hal ini penting guna membentuk herd immunity, atau kekebalan dalam komunitas. Tujuan vaksinasi ialah membentuk respons imun dalam tubuh kita ketika terkena virus Covid-19. Dengan banyaknya jumlah orang yang sudah mendapatkan vaksin, maka membentuk imunitas yang banyak juga, sehingga orang yang terinfeksi akan kesulitan untuk mempengaruhi mereka yang imunnya rendah. 

Sebagai seorang virologi, Sdri. Aroem Naroenni, DEA, Ph.D menjelaskan bahwa SARS-CoV-2 merupakan virus RNA yang mudah bermutasi. Salah satunya adalah mutasi virus yang terjadi di Inggris, dan menurut penelitian, belum menunjukkan tanda bahwa lebih ganas daripada virus yang sudah banyak tersebar. Dengan melihat sejarah perkembangan vaksin, maka sangat mungkin kekuatan virus yang semakin bermutasi, maka kekuatannya akan semakin menurun.

Sdri. Aroem menjelaskan bahwa SARS CoV-2 memiliki kecenderungan lebih lama bertahan hidup di berbagai benda. Oleh sebab itu, kita perlu menerapkan prinsip 3M dan melakukan deteksi paparan covid di diri kita. Sejauh ini RT PCR (quantitative reverse transcriptase polymerase chain reaction) berbasis asam nukleat dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2 dengan tingkat akurasi lebih tinggi. Dalam RT PCR kita akan melihat kode genetik virus (RNA) yang masuk dalam tubuh. Sampel yang diambil adalah sampel yang ada di saluran pernapasan seperti usapan (swab) tenggorok dan hidung, sputum (dahak) dan lain-lain. Usapan ini dimasukkan ke larutan VTM (viral transport medium) kemudian RNAnya diambil dan diperbanyak, aplifikasi, menduplikasi kode genetik sehingga semakin banyak dan bisa dilihat.

Sampai saat ini memang terdapat beberapa jenis vaksin yang diadakan. Dan proses vaksinasi yang akan dilangsungkan ialah Sinovac.Dengan berkembangnya mutasi virus yang mungkin terjadi, sejauh ini vaksin Sinovac yang sudah diteliti dan akan dibagikan sudah bisa menjangkau mutasi yang saat ini hadir. Prosesnya pun juga tidak perlu diragukan oleh masyarakat, karena sudah melalui tahapan yang cukup mendalam walaupun dengan waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan vaksinasi pandemi lainnya.

Dalam seminar online yang dihadiri oleh lebih 40 orang, terdapat juga sesi untuk tanya jawab bagi hadirin. Beberapa di antaranya adalah pertanyaan berikut:

 

  • Menolak vaksin maka didenda, bagaimana?

Narasumber belum mengetahui dengan pasti mengenai detil dari aturan denda menolak vaksinasi. Namun Sobat Cengkir dapat cek Perda Nomor 2 Tahun 2020 DKI Jakarta yang mengatur beragam ketentuan penanganan Covid-19. Kedua narasumber menjelaskan bahwa dengan melakukan vaksinasi, kita mewujudkan bentu mengasihi sesama, melindungi orang sekitar kita dari bahaya pandemi ini. Vaksinasi perlu dilakukan agar terjadi herd immunity. Selama tidak ada kontra indikasi, maka lakukan. Kematian karena virus sudah banyak, sedangkan kematian disebabkan vaksin belum ada.

 

  • Golongan darah tertentu yang lebih mudah terinfeksi, benarkah?

Ada kecenderungan seperti itu, tetapi belum ada penelitian yang resmi mengenai keterkaitan golongan darah tertentu. 

 

  • Orang yang terkena penyumbatan jantung apakah termasuk eksklusi terhadap vaksin?

Tidak masalah, selama gula darah terkontrol sehingga respons imun cukup.

 

  • Vaksin pneumonia dan influenza apakah bisa menangani Covid-19?

Ada kekebalan tertentu dari vaksin flue yang bisa mengkover sedikit virus covid, tetapi tidak 100%. Vaksin untuk covid, tentunya memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi untuk membentuk imun terhadap virus covid, dibandingkan vaksin lainnya. 

 

  • Bagi yang memiliki auto imun apakah harus menunggu terjadinya herd immunity?

Yang memiliki auto imun baiknya menunggu rekomendasi uji klinis khusus vaksin bagi auto imun.

 

  • Terkait isolasi mandiri, bagaimana prosedurnya? Bagaimana kontradiksi antara obat-obatan herbal dan obat-obatan berdasarkan rekomendasi dokter?

Memang untuk perawatan rumah sakit saat ini untuk mereka yang bergejala berat. Untuk yang bergejala ringan, bisa melakukan isoman, dengan melaporkan diri ke puskesmas terdekat. Detilnya bergantung puskesmas di tiap daerah. Obat-obatan tentu harus dipastikan efek kesembuhan dan efek sampingnya, perlu ada uji klinis berkali-kali melalui penelitian. Obat herbal kebanyakan berupa opini dari ahli.

 

  • Penerima vaksin, apakah nantinya pasti terbebas dari paparan covid?

Saat ini jawabannya iya, namun kita tidak tahu perkembangan mutasi virus. Hal ini tentunya perlu dilihat melalui studi di kemudian hari. Setelah vaksinasi mungkin masih ada kemungkinan dari paparan virus walaupun persentasenya kecil. Maka dari itu jangan lepas dari 3M. Orang yang terkena covid pun bisa terjadi reinfeksi, maka risiko itu pun tetap ada. Vaksinasi berguna agar infeksi virus tidak menyebabkan risiko paparan menjadi lebih parah.

 

  • Herd immunity terbentuk berapa lama?

Perlu study lagi. Swedia memiliki herd immunity dengan membiarkan masyarakatnya terinfeksi. Belum diketahui dengan pasti 100% mengenai reinfeksi jika sudah terbentuk herd immunity.

 

  • Bagi yang pernah mengalami OTG bagaimana?

Belum ada titer antibodi terlebih dahulu sebelum vaksin. Baiknya swab saja untuk mengetahui kondisi antibodi kita.

 

  • Hypertiroid apakah termasuk eksklusi?

Mungkin sama seperti auto imun lainnya, takutnya vaksin belum mendapatkan respons antibodi yang tepat.

 

  • Bagaimana validasi test swab saliva?

Beberapa publikasi jurnal menyatakan sensitif dan perlu sistem deteksi lain karena saliva belum diakui. 

 

  • Bagaimana solusi bagi ibu menyusui?

Belum bisa diberikan rekomendasi karena belum ada subjeknya. Disarankan menunggu hasil penelitian lebih lanjut dan tetap lakukan 3M.

 

  • Perbedaan dari efiikasi berbagai vaksin apa?

Lebih lengkapnya dapat dilihat pada jurnal di WHO.

 

  • Untuk deteksi paparan covid bagi wilayah perkantoran, manakah yang direkomendasikan?

Screening kantor disarankan rapid antigen dengan sensitivitas lebih tinggi.

 

  • Bagaimana mengetahui antibodi sudah terbentuk setelah terjadi vaksinasi?

Ada uji netralisasi untuk mengetahui bagaimana antibodi yang terbentuk.

 

Maka, Sobat Cengkir, dalam memasuki fase hidup setelah adanya kehadiran vaksin, tentu diharapkan kita memiliki pengharapan yang lebih. Dengan tetap melakukan protokol kesehatan, menerapkan prinsip 3M dan turut berpartisipasi dalam vaksinasi, kita mewujudkan kepedulian dan kasih dalam memutus mata rantai penyebaran virus ini. Selamat menyambut kehidupan di masa setelah vaksin! Bagi Sobat Cengkir yang membutuhkan rekaman dan materi dari Seminar Online Life After Vaccine dapat klik link berikut.

 

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *