Bersyukur untuk yang Berlalu, Berdampak dalam Pembaruan

Pergantian tahun menjadi momen yang dinanti oleh banyak orang untuk bisa berkumpul dengan keluarga besar ataupun dengan banyak teman-teman. Sobat Cengkir pun tentu masih mengingat pergantian tahun kerap dirayakan bersama melalui pemaknaan dalam Ibadah Tutup Tahun dan Ibadah Awal Tahun.

Dengan semangat yang sama, untuk memaknai penyertaan Tuhan selama setahun yang telah berlalu dan setahun yang akan dilalui, GKI Kelapa Cengkir mengadakan Ibadah Pergantian Tahun yang dilangsungkan melalui Youtube GKI Kelapa Cengkir.

Memang kenyataan tahun 2020, bukanlah tahun yang mudah. Tutur Pdt. Gatot Pujo Tamtama, tahun pertamanya berada di wilayah Kelapa Gading penuh kejutan, di mana awal tahun telah mendapatkan banjir, sehingga Kebaktian Awal Tahun ditiadakan. Begitupun Kebaktian Transfigurasi pun dibatalkan karena banjir besar kedua di wilayah Kelapa Gading tahun 2020. Dan sejak Maret, di mana virus Corona mulai menyebar di Indonesia, GKI Kelapa Cengkir beserta GKI lainnya yang berada di wilayah Kelapa Gading mengalihkan ibadah secara online hingga kondisi pandemi mereda.

Pandemi pun juga berdampak bukan hanya perihal pengalihan bentuk peribadatan, melainkan juga kondisi bersosialisasi dalam keluarga. Dalam salah satu cuplikan video dalam Kebaktian Pergantian Tahun, diceritakan bahwa kegiatan pembelajaran dan pekerjaan yang dialihkan ke rumah (Pembelajaran Jarak Jauh dan Work Form Home) menyebabkan konflik di keluarga. Mulai dari hal kecil, seperti koneksi internet yang tidak stabil, pekerjaan rumah (mengambil jemursan, mencuci piring kotor, dll) yang tetap dilakukan oleh anggota keluarga karena ART dirumahkan, serta banyak hal dapat memantik emosi. 

Ibarat pepatah, “Adoh ambu wangi, cidek ambu tai,” intensitas pertemuan akan menyebabkan konflik yang juga akan bertambah. Namun, apakah kita akan menghindari konflik dengan melarikan diri dari rumah? Tentu kita tidak bisa selamanya menghindari atau mengabaikan konflik, melainkan kita perlu mengelola konflik, sehingga keributan menciptakan kerukunan.

Dalam drama panggung boneka, Sobat Cengkir juga diingatkan bahwa ada beberapa hal positif yang dapat kita ambil dari kondisi pandemi ini. Sadar atau tidak, kita perlahan menjadi pribadi yang lebih sadar akan kesehatan, kebersihan dan higienitas. Cara berpikir yang lebih efektif pun mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita pun belajar untuk lebih mengasihi orang-orang yang ada di sekitar kita, menjaga merawat orang yang berusia senja maupun rentan terhadap penyakit.

Efektivitas dalam segi kehidupan pun juga kita terapkan dalam pekerjaan. Hal ini diungkapkan melalui drama rekan-rekan dewasa yang menceritakan dampak pandemi dalam kehidupan bisnis dan pekerjaan mereka. Dalam usaha untuk bekerja secara efektif tersebut, relasi dengan rekan-rekan adalah hal yang penting agar mengetahui bahwa kita perlu berjuang bersama.

Dalam renungan menutup tahun 2020, Pdt. Winner Pananjaya menyampaikan refleksi dari bacaan Mazmur 23:1-6. Sebagian dari kita mungkin tidak asing dengan nats tersebut, karena liriknya kerap digubah menjadi sebuah lagu pujian yang menenangkan kita 

Di balik lagu yang bernuansa menyejukkan hati ini, Raja Daud sebagai inisiator pembuat puji-pujian di kitab Mazmur sejatinya berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Oleh beberapa penafsir, diperkirakan Daud merefleksikan pengalaman gelapnya ketika ia berada dalam kejaran Absalom. Daud tidak mengabaikan adanya kondisi yang tidak baik. Dia mengakui adanya lembah kekelaman, tapi dia berusaha memekakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya.

Pdt. Winner Pananjaya pun menyampaikan bahwa tahun 2021 mungkin juga menjadi misteri, kita tidak tahu akan menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk. Namun kita akan merasa lebih baik ketika kita bisa menyongsong dengan kesadaran Allah menyertai kita dan menguatkan kita di setiap langkah kehidupan kita.

Dilanjutkan dengan Pdt. Gatot Pujo Tamtama dengan membawakan renungan awal tahun yang terambil dari bacaan Wahyu 21: 1-6. Dijelaskan bahwa kitab Wahyu merupakan sastra apokaliptik, bukan ramalan-ramalan akan masa mendatang, melainkan penguatan agar jemaat berpengharapan kepada Allah.

Disampaikan oleh Pdt. Gatot Pujo Tamtama bahwa jemaat di Asia kecil, sebagai penerima tulisan dari Yohanes tersebut, mengalami konflik:

  1. Konflik merespons adanya ajaran sesat dalam kekristenan itu sendiri;
  2. Konflik dengan orang yahudi, karena orang Kristen dianggap penyimpangan;
  3. Konflik dengan pemerintah karena menolak menyembah Kaisar Domisianus.

Tentu kesulitan yang dialami oleh jemaat Kristen di Asia kecil zaman itu memberikan dampak yang besar dalam kehidupan mereka maupun dalam berkomunitas di gereja. Namun dengan adanya tulisan tersebut, Yohanes memberikan penguatan kepada jemaat di sana.

Penguatan tersebut pun juga berlaku bagi Sobat Cengkir maupun semua pengikut Kristus di zaman ini. Pandemi yang kita alami membuat konflik antar keluarga makin tinggi, harapan banyak gagal tercapai, banyak mereka yang mengalami sakit secara fisik dan psikis, bahkan ada yang dipanggil kembali kepada Allah. Bagi kita yang masih bertahan di tahun 2021 ini, Allah berfirman melalui tulisan rasul Yohanes agar kita tetap tabah, tetap setia dan tetap menjadi saksi Kristus dalam kehidupan kita di masa yang sukar.

Mari, Sobat Cengkir, kita mensyukuri penyertaan Tuhan melalui tahun 2020 yang telah berlalu. Dan kita pertegap langkah kita agar berdampak dalam pembaruan, memberikan kesaksian akan kebaikan Tuhan di tahun 2021 ini kepada mereka yang lemah.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *