Mata Iman #120: Seperti Dulu Lagi

MATA IMAN #120

Bacaan: Lukas 18:15-17

Nas: Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (ayat 16-17)

SEPERTI DULU LAGI

Kenangan masa kecil kadang membuat kita kepengen balik kaya’ dulu lagi. Apalagi sambil dengerin Taylor Swift menyanyikan Never Grow Up (2010).

Oh darling don’t you ever grow up, don’t you ever grow up. Just stay this little

Saat balita dulu, setiap ada yang memanggil nama kita, tanpa pikir panjang kita menoleh dan mendekat. Tiada rasa curiga, ini siapa dan ada maksud apa. Dulu, kita juga mudah percaya, tak punya pertanyaan kritis, logis dan skeptis. Apa yang dijanjikan oleh orangtua, kita yakin pasti akan terpenuhi bagaimanapun caranya.

Ketika TK dan SD, kita bisa bermain dengan siapa saja, bergaul tanpa merasa risih, kuatir atau berprasangka. Semua adalah kawan. Sebagai bocah, kita belum punya sikap diskriminatif atas atribut demografis dan stereotype dari teman yang berbeda, kita tidak pilih-pilih siapa yang pantas diakrabi, cukup kenal saja, atau dijauhi; karena beda SARA, beda pendapat atau kisaran pendapatan, beda tingkat pendidikan, hingga beda cara makan bubur: diaduk dulu atau tidak; atau beda selera makan cokelat: langsung atau didinginin dulu di kulkas. Jadi sungguh tepat, ketika Yesus menyatakan bahwa barangsiapa seperti anak-anak, dialah yang empunya Kerajaan Allah. Kualitas iman yang seperti anak-anak yaitu percaya sepenuhnya, taat, menyukai persahabatan dan mudah memaafkan.

Kalau ada teman yang bikin salah atau nyebelin, dulu kita juga pernah berantem, atau ledek-ledekan manggil teman sekelas dengan nama ortunya setelah ngintip dari raport-nya, atau ngasi nama julukan lucu; mungkin ada yang tersinggung, tapi tidak terus-terusan jadi bermusuhan sampe gede, jika pernah ribut pun cepet baekan lagi, trus main bareng lagi. Kalau sekarang? Ternyata setelah dewasa, untuk saling memaafkan prosesnya bisa lama dan belum tentu bisa jadi seakrab dulu lagi ya. Itulah sebabnya Yesus menyukai sikap seperti anak kecil dari kita. (YOD)

=
Sementara kita mencoba mengajarkan kepada anak-anak kita mengenai kehidupan, anak-anak kita sedang mengajarkan kepada kita mengenai arti kehidupan. (Angela Schwindt)

==

Selamat Hari Anak Nasional!

———————————
Informasi seputar GKI Kelapa Cengkir dapat diakses melalui :
Whatsapp by (081388901368)
Website (http://gkikelapacengkir.org)
Instagram (@gkikelapacengkir)

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *