Kecerdasan Interpersonal

“Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan.” (Amsal 16:21)

Kecerdasan Interpersonal

Empat kandidat Manajer Pemasaran duduk di hadapan Manajer HRD. “Kalian adalah empat teratas yang lulus tes tertulis dan wawancara. Hanya satu yang kami rekrut. Hari ini penentuannya, kalian siap?” Mereka mengangguk. “Di samping kursi saya ada seorang bapak, tugas anda adalah membuatnya keluar dari ruangan ini. Siapa mau coba mulai?”

Kandidat pertama “Pak, silakan anda keluar.” Direspon: Anda siapa? “Saya calon manajer di sini.” Bapak itu menyahut Saya diminta HRD menyaksikan seleksi akhir dan memutuskan siapa yang diterima. Maaf, saya harus tetap di sini. Nada bicara anda arogan. Bahkan anda tidak mencoba berkenalan dulu. Silakan, calon berikutnya.

Kandidat kedua mulai dengan berakting ketakutan “Kebakaran! Kebakaran! Ayo Pak, kita keluar ruangan.” HRD dan bapak di sampingnya menahan tawa, “Kamu bohong, tidak ada asap atau bunyi alarm. Untung di sini kedap suara.” Kandidat menjawab “Boleh saya bunyikan alarmnya?” HRD menghampiri dan menjabat tangannya “Jangan, nanti semua panik. Terima kasih sudah mengikuti seleksi, silakan pulang.”

Kandidat ketiga memulai dengan perkenalan, saling menyebut nama dan setelah ditanyakan, bapak tersebut berkata Saya Dirut perusahaan. “Pak, keluar cari makan yuk.” Dijawab Saya belum lapar dan ini masih jam kerja Tak menyerah ia lanjut “Nanti saya traktir, bapak bebas pilih menu apa saja.” Dijawab Anda pikir saya tidak sanggup bayar sendiri? “Bukan begitu Pak, maksudnya supaya kita bisa ngobrol hal penting tapi suasananya lebih santai.” Kalau ada yang mau dibahas penting, sekarang di sini saja, saya baru bisa keluar setelah proses seleksi ini Setelah itu hening, si kandidat habis bahan obrolan, akhirnya ia menyerah, bersalaman dan pamit.

Kandidat terakhir “Pak, saya sudah menyaksikan yang lain gagal padahal kualifikasi dan pengalaman mereka jauh di atas saya, tapi izinkan saya tetap mencoba ya.. perkenalkan nama saya … ” Lanjutnya, “Saya yakin sanggup bekerja di posisi ini, namun saya akui tidak sanggup melakukan segala hal, juga tidak semuanya ada dalam kendali saya. Bapak punya kepentingan untuk tetap ada di ruangan ini, juga mana berani saya baru calon karyawan menyuruh Dirut keluar ruangan. Keputusan saya diterima atau tidak, tergantung anda Pak, oleh karenanya, kalau anda menilai saya orang yang tepat, Saya mohon maukah bapak berdiri lalu keluar ruangan sebentar? Lalu silakan bapak masuk lagi.”

Sang Dirut berdiri, melangkah keluar ruangan, menutup pintu lalu membukanya lagi dari luar dan kembali masuk. HRD menutup proses seleksi, “Kamu diterima!”

“Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang.” (Amsal 25:15)

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Fatal error: Uncaught wfWAFStorageFileException: Unable to save temporary file for atomic writing. in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:34 Stack trace: #0 /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(658): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/u7049137/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 34