Agama itu Candu?

Yesaya 58:1-9, Mazmur 112:1-10, 1 Korintus 2:1-11, Matius 5:13-20

Karl Marx mengatakan “agama itu candu”. Menurut pengamatannya, agama itu membuat orang ketagihan dalam mengalami ketenangan semu, demi diri sendiri dan melupakan masalah bersama. Apakah memang benar demikian? Kenyataannya tidak selalu begitu. Namun kita maklum dengan pandangannya, sebab pada zamannya, ia menyaksikan bahwa agama tidak mengambil peranan penting bagi terbentuknya tatanan hidup yang lebih baik. Orang yang beragama, yang mengakui kekuasaan kasih Tuhan, justru tidak terinspirasi oleh kuasa kasih itu untuk menyatakan kasih kepada sesama.

Minggu ini kita disadarkan melalui pembacaan Alkitab, bahwa domain yang kentara dari agama ialah : “Tuhan, diri sendiri dan orang lain.” Seperti Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus, dengan beragama kita mengakui kekuasaan kasih Tuhan yang memelihara kehidupan kita supaya pada akhirnya kita tidak berpaut pada yang jahat apalagi menjahati sesama, tetapi karena kerajaan, kuasa dan kemuliaan Allah yang dihadirkan Kristus, maka kita menjadi anak-anak Bapa yang ikut serta dalam memelihara bumi ini. Dengan kesadaran bahwa beragama bukan berujung pada ruang domestik saja, maka menjadi penting akal budi didayagunakan secara sehat dalam beragama. Keseimbangan akal yang sehat dan hati nurani yang bersih, karena spiritualitas yang sehat membuat kita dengan utuh menyikapi masalah untuk mencari solusi bagi kebaikan bersama.

Kristus menghendaki hidup kita memberi dampak baik bagi sekitar. Ini terjadi jika spiritualitas kita “sehat” saat memahami “roh” dari hukum agama. Spiritualitas yang sehat itu kentara saat orang yang dekat kepada Allah, menjadi mudah dalam membangun jembatan kasih dengan sesama. Bukan sebaliknya. Kita mesti waspada untuk tidak mengulangi perilaku umat pada zaman nabi Yesaya. Mereka tidak peduli lingkungan sosial dengan mengeksploitasi yang lain. Mereka melakukan tindakan ibadah, tetapi tidak diiringi perubahan hati. Sejatinya, orang yang benar itu adalah orang yang peduli dan berbelas kasihan kepada orang lain, dia selalu percaya Tuhan memberi kekuatan.

Jika Allah mengarahkan kita untuk memeriksa hidup keagamaan kita melalui hikmat Firman-Nya melalui bacaan-bacaan Alkitab ini, apakah kita mau menerima daya ubah dari Allah bagi diri kita? Apakah kita percaya bahwa kelemahan kita dipedulikan-Nya? Dan seiring dengan itu, kekuatan yang kita dapat dari Allah, menjadi dasar bagi kita untuk ikut serta membarui tatanan komunitas kita?

(Pdt. Essy Eisen pada Ibadah 09 Februari 2020)

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *