IMAN KRISTEN ADALAH IMAN YANG BERKEMBANG

Iman Kristen bukanlah iman yang mandeg, dia terus berkembang menuju kepada kedewasaan iman, kalau mandeg dia bukan iman Kristen (Efesus 4:13 bandingkan dengan 2 Korintus 10:15 juga 2 Tesalonika 1:3). Karena itu iman Kristen tidak sama dengan benda mati yang bisa disimpan dan tetap menjadi milik orang yang menyimpannya, ia dihayati dalam hati dan dinyatakan dalam hidup. Ia selalu Nampak dalam kehidupan sehari-hari (Yakobus 2:18 bandingkan dengan Yakobus 2:20). Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, bisakah iman Kristen itu hilang? Kalau kita konsekuen dengan pengertian bahwa iman Kristen adalah sesuatu yang hidup, apalagi iman Kristen bukan benda mati yang bisa dimiliki dan disimpan, memang iman Kristen itu sendiri tidak pernah hilang, ia tetap ada, tetapi orang yang memiliki iman itu bisa kehilangan atau dengan kata lain ia tidak lagi menjadi orang beriman (2 Yohanes 8 walaupun memang dalam ayat itu tidak disebutkan“kehilangan iman”), tapi syukurlah dalam injil Yohanes 6:39 Tuhan Yesus memberi jaminan, artinya Tuhan Yesus sendiri akan menjaga agar kita yang percaya tetap percaya (sekali lagi konteksnya tentang keselamatan).
11 health and fitness podcasts for all the motivation you need primobolan dosage SportzBits – Sports and Fitness Advice
IMAN KRISTEN TIDAK HANYA HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH TETAPI JUGA HUBUNGAN KITA DENGAN SESAMA

Iman Kristen memang sering dimengerti secara sempit yaitu masalah hubungan kita dengan Allah. Memang pertama-tama iman adalah hubungan kita dengan Allah. Tetapi kalau hal ini terlalu ditekankan apalagi iman dipahami hanya sebagai hubungan kita dengan Allah maka orang menjadi sangat munafik, hubungan dengan sesama diabaikan yang penting percaya kepada Allah, karena itulah Yakobus dalam Yakobus 2:18-20 memberi peringatan yang sangat penting. Iman memang tidak hanya masalah kita dengan Allah, iman malah sering nampak dalam kehidupan sesehari yaitu dalam hubungannya dengan sesama. Hubungan dengan sesama inilah yang justru menunjukkan kita munafik atau tidak, palsu atau sungguh-sungguh. Walaupun iman pertama-tama bicara tentang hubungan atau mungkin lebih tepat sikap mengiyakan janji-janji Allah atau lebih jelas lagi kepercayaan kita terhadap Allah, tetapi iman juga mengatur hubungan kita dengan sesama. Bahkan tidak berlebihan jikalau dikatakan bahwa sikap kita terhadap sesama kita akan menunjukkan mutu iman kita.

IMAN KRISTEN ADALAH SESUATU YANG HIDUP

Seperti yang telah dikatakan, iman adalah sesuatu yang terus berkembang. Iman Kristen tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu terkait dengan yang lain (2 Petrus 1:5-7), itulah sebabnya iman Kristen adalah sesuatu yang hidup. Ia sangat dinamis. Orang yang memilikinya tidak dengan sendirinya akan terus berkembang menuju kepada kedewasaan, si pemilik harus terus berusaha mengembangkannya. Si pemilik harus terus menambahkan imannya dengan kebajikan dan kepada kebajikan. Pengetahuan dan seterusnya. Jika tidak demikian, iman itu tidak hanya mandeg tetapi malahan orang akan mundur dan pada akhirnya akan kehilangan imannya (Ibrani 5:11-6:12). Dan Firman Tuhan memainkan peranan yang sangat penting untuk pertumbuhan iman Kristen ini.

IMAN KRISTEN TIDAK LEBIH BESAR DARI ALLAH

Memang benar iman Kristen luar biasa. Dalam Matius 17:20 dikatakan bahwa iman Kristen membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tuhan Yesus berkata bahwa iman sebesar biji sesawi (sangat kecil) dapat memindahkan gunung, tetapi jangan salah paham iman Kristen selalu tidak lebih besar dari Allah. Allah selalu lebih besar dari apapun dan dari siapapun. Artinya sekalipun iman Kristen ada pada kita, kita tidak bisa seenaknya memerintah Allah, seakan-akan oleh iman Kristen yang ada pada kita, Allah tunduk pada kita. Iman Kristen adalah iman yang membuat kita tunduk kepada Allah dan kehendakNya dan bukan membuat Allah tunduk kepada kita dan kehendak kita

IMAN KRISTEN HARUS DIAJARKAN DAN BUKAN TERJADI DENGAN SENDIRINYA

Hal lain yang harus jelas bagi kita adalah bahwa iman Kristen harus diajarkan. Ia tidak boleh kita harapkan terjadi dengan sendirinya. Itulah sebabnya orang Kristen yang membaptiskan anaknya mempunyai tanggung-jawab untuk mengajarkan iman Kristen kepada anaknya. Mengapa orang tua? Karena anak lebih lama dengan orang tuanya daripada dengan sekolah atau sekolah minggu atau katekisasi oleh gereja (katekisasi harus disadari bukan segala-galanya, akhir katekisasi bukan dan tidak boleh kita harapkan menjadi akhir dari pengajaran iman Kristen). Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mengajarkan iman Kristen kepada anaknya? Mengajarkan iman Kristen kepada anak kita adalah secara konvensional yaitu melalui dogma yang kita miliki dan melalui teladan kita. Melalui dogma itu berarti melalui kata-kata, secara sengaja dan sungguh-sungguh kita mengajarkan pengajaran yang ada pada kita. Tentu saja ini membutuhkan waktu khusus. Saya kira ini merupakan kekurangan kita. Kebanyakan kita berharap anak atau anak-anak kita belajar sendiri atau mungkin mempercayakan pengajaran itu kepada sekolah minggu. Kita cenderung menyekolahkan anak atau anak-anak kita kesekolah favorit ketimbang lebih menekankan kepada pendidikan iman Kristen. Melalui teladan, itu berarti sikap dan pola hidup kita sangat menentukan apakah anak atau anak-anak kita akan juga menjadi orang Kristen atau tidak. Ada cukup banyak orang tua Kristen yang justru menjadi batu sandungan bagi anak atau anak-anak mereka, karena sikap dan pola hidup mereka bertentangan dengan iman Kristen

IMAN KRISTEN TETAP ADA DIDALAM HIDUP KITA ADALAH PERJUANGAN

Akhirnya agar di dalam hidup ini kita tetap memiliki iman Kristen (apalagi iman Kristen yang berkembang) tentu bukanhal yang mudah, ia membutuhkan perjuangan, karena memang tidak terjadi dengan sendirinya (1 Korintus 9:27 walaupun kata iman tidak terdapat dalam ayat ini, tapi jelas digambarkan adanya suatu perjuangan untuk tetap memiliki Injil yang menyelamatkan). Di dalam Lukas 22:32 Tuhan Yesus sendiri memperingatkan hal ini (bandingkan dengan Roma 4:19; 2 Korintus 13:5; Kolose 1:23; lihat juga Filipi 1:27). Dengan iman itulah kita boleh menantikan langit dan bumi yang baru. Yakinlah perjuangan kita tidak sia-sia, karena yang menjamin kemenangan adalah Allah sendiri (1 Korintus 15:57). Bahkan rasul Paulus di dalam Filipi 1:6 mengatakan: “Sebab Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada akhirnya, pada hari Kristus Yesus”. Semoga sama seperti tulisan saya yang lain, tulisan inipun menjadi berkat bagi anda semua.

Sumber: Pdt. A. Kermite – aguskermite@yahoo.com

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *