Persekutuan itu harus diupayakan

Persekutuan yang dalam bahasa aselinya adalah “koinonia” yang merupakan salah satu tugas panggilan dari “tri tugas” gereja, pasti sebenarnya tercipta di dalam gereja, tapi dalam kenyataannya tidak terjadi dengan sendirinya.

Manusia, walaupun mahluk sosial, yang berarti tidak bisa tidak membutuhkan orang lain, cenderung untuk hidup sendiri dan menyendiri dimana dia tidak mempedulikan sesamanya bahkan cenderung untuk mengabaikan atau paling tidak menyalahkan sesamanya. Kecenderungan seperti ini adalah salah satu penyebab terjadinya perpecahan dalam jemaat (Roma 14:13-20).

Itu berarti persekutuan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia harus diupayakan. Jemaat cenderung terpecah bukan hanya karena anggota ingin hidup sendiri dan menyendiri, tetapi juga karena dalam jemaat ada bermacam-macam keberagaman. Ada perbedaan-perbedaan warna kulit, status sosial, pria-wanita dan sebagainya. Kemudian perbedaan-perbedaan itu sengaja dipertajam supaya menjadi sebab terjadinya perpecahan dalam jemaat.

Belum lagi kalau jemaat itu mempunyai lebih dari satu pendeta (Efesus 2:17-22; 1 Korintus 1:10-13). Keberagaman ini makin jelas ketika gereja digambarkan sebagai “tubuh Kristus” dan Kristus adalah “kepala gereja” dimana tubuh selalu terdiri atas banyak anggota. Tapi walaupun ada banyak anggota yang berbeda-beda, rasul Paulus tetap sampai kepada kesimpulan bahwa keperbedaan itu tidak boleh menjadi alas an untuk perpecahan (1 Korintus 12:12-31).

Mengapa, karena sungguhpun ada banyak anggota yang berbeda-beda, tubuh Kristus hanya satu. Ini sama persis dengan falsafah Indonesia yaitu: “bhineka tunggal ika” atau “berbeda-beda tapi satu juga”.

Tapi di lain pihak harus segera dikatakan bahwa persekutuan Kristen atau bersekutu bukanlah usaha manusia semata, dasar persekutuan adalah iman kepada satu Allah, yaitu Allah Tritunggal, Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *