
HARAPAN
Memang karya penyelamatan Allah sudah selesai dengan penderitaan, penyaliban, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Karena itulah tepat kalau Tuhan Yesus Kristus menjelang kematianNya di atas kayu salib mengatakan: “Sudah Selesai”, yang dicatat dalam Yohanes 19:30. Dengan kata-kataNya itu Tuhan Yesus mau mengatakan bahwa misiNya, yaitu misi penyelamatan yang dibebankan oleh BapaNya kepadaNya telah Ia kerjakan hingga tuntas. Melalui penderitaan, penyaliban, kematian dan kebangkitanNya dosa-dosa manusia telah dibayar lunas dan manusia telah diselamatkan. Tetapi ini tidak berarti bahwa semuanya telah menjadi beres dan lengkap. Melalui penderitaan, penyaliban, kematian dan kebangkitanNya tidaklah kemudian dunia dengan sendirinya menjadi sorga. Tidaklah kemudian Penderitaan manusia berdosa dengan sendirinya lenyap. Itulah sebabnya karya penyelamatan Allah tidak berhenti dengan penderitaan, penyaliban, kematian dan kebangkitan Kristus, sekalipun harus diakui bahwa pengorbanan Kristus adalah karya penyelamatan Allah yang maha hebat, Ia masih terus berkarya di dalam dunia yang penuh dengan dosa ini. Allah mengundang dan memanggil manusia berdosa untuk bertobat memahami karya penyelamatanNya di dalam dan melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Petrus menyebutnya sebagai masa kesabaran Allah (2 Petrus 3:15. Dia member kesempatan kepada manusia berdosa untuk bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya sebelum Dia membinasakan segala macam kejahatan sampai keakar-akarnya, dan menggantikannya dengan “langit dan bumi baru” (Wahyu 21:1).
“Langit dan bumi baru” inilah harapan bagi umat Kristen. Dia disebut “harapan” karena ia belum ada walaupun tidak boleh kita berpikir bahwa itu hanya sekedar impian kosong. Memang belum, tetapi “langit dan bumi baru” itu pasti akan datang. Itulah sebabnya ia disebut sebagai sebuah harapan. Dan dasar dari harapan ini adalah kebangkitan Tuhan Yesus (1 Korintus 15:14 bandingkan dengan 1 Petrus 1:3}. Bahkan dalam Wahyu 22:5 dikatakan bahwa orang percaya akan memeritah bersama dengan Tuhan Yesus yang telah dibangkitkan itu.
LANGIT DAN BUMI BARU
Memang kalimat “langit dan bumi baru” mudah menimbulkan kesalah-pahaman bahwa “langit dan bumi lama” telah lenyap sama sekali. “langit dan bumi baru” sesungguhnya adalah kelanjutan dari “langit dan bumi lama” yang telah diperbaharui dimana segalanya telah berubah sama sekali. Ketidak-adilan, penderitaan dan dosa dihancurkan. Semuanya akan diperbaharui, sehingga disebut “langit dan bumi baru”. Hal-hal yang harus dihindari adalah:
1 Penafsiran yang spekulatif, sehingga kita menyimpang jauh dari apa yang dimaksud oleh Alkitab.
2 Perhitungan tentang waktu datangnya langit dan bumi baru (Kisah P. Rasul 1:7) seperti yang dibuat oleh gereja-gereja tertentu.
3 Sifat tubuh setelah kebangkitan. Rasul Paulus hanya berbicara sedikit pada 1 Korintus 15:42-46. Rasul-rasul yang lain tidak membicarakan, bahkan Tuhan Yesus tidak pernah membicarakan. Rasul Paulus hanya ingin menekankan bahwa tubuh setelah kebangkitan adalah tubuh yang sempurna. Kalaupun rasul Paulus memakai istilah “manusia jasmani” ketika dia hendak membedakannya dengan “manusia rohani”, maka rasul Paulus hendak berbicara manusia lama dan manusia baru. Rasul Paulus sama sekali tidak hendak menganggap hina jasmani. Sangat berbeda dengan ajaran aliran kebatinan, Hindu atau Budha yang membedakan badan manusia atas “badan halus” dan “badan kasar”. Tujuan hidup adalah mempersatukan diri dalam badan halus atau zatillahi, yang bukan jasmani. Berbeda juga dengan ajaran Plato bahwa roh manusia itu akali. Roh ini terperosok kedalam tubuh dan terpenjara didalamnya. Karena itu, menurut Plato, tujuan hidup manusia adalah kematian, agar roh kembali lagi ketempatnya yang abadi, yaitu dunia ide.
Yang pasti “langit dan bumi baru” pasti terwujud, kapan? Kita tidak tahu persis. Kita tidak perlu berspekulasi dengan melampaui apa yang Tuhan beritahukan kepada kita melalui Alkitab.
ARTINYA BAGI KITA
Pertanyaannya sekarang adalah apakah pengharapan akan langit dan bumi baru itu punya arti bagi kita sekarang ini dan disini? Bagi gereja dan orang Kristen dulu, langit dan bumi baru sangat nyata dan karena itu punya dampak bagi kehidupan mereka sehari-hari. Pertanyaannya adalah, bagaimana untuk kita sekarang? Bagi gereja dan orang Kristen sekarang ini kebangkitan Kristus diakui sebagai sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri, tapi kuasanya mungkin sudah tak terlalu dirasakan lagi. Tuhan Yesus telah naik ke Surga yang sangat jauh dari kita, karena itu bagi sebagian besar gereja dan orang Kristen sekarang kuasa kebangkitan Kristus sudah sangat tipis kalau tidak mau dikatakan sudah tidak ada artinya lagi. Sikapnya terhadap langit dan bumi baru pun sama. Karena itu langit dan bumi baru bagi gereja dan orang Kristen sekarang ini hanya ada dalam pengakuan di mulut dan hamper tidak kelihatan dalam hidup sehari-hari. Di sinilah kita melihat bahwa banyak gereja dan orang Kristen sekarang harus sungguh-sungguh bertobat, yaitu bukan sekedar mengakui di mulut bahwa langit dan bumi baru itu adalah harapan Kristen yang pasti akan terwujud. Ia bukan sesuatu yang secara otomatis akan terwujud sendiri, melainkan harus diperjuangkan dalam hidup dan tindakan, sehingga orang lain yang belum percaya juga yakin bahwa langit dan bumi baru akan menjadi kenyataan di dalam sejarah ini. Kalau kita berbicara tentang hidup dalam langit dan bumi baru kita sedang berbicara tentang hidup yang akan datang, dan hidup yang akan datang harus dicerminkan pada kehidupan sekarang ini dan disini. Karena itu yang harus diperjuangkan sekarang ini dan disini adalah keadilan, kesejahteraan jasmani dan rohani melalui pemberantasan segala penyakit dan kebodohan serta pembinaan iman terus menerus. Melalui semua ini hendak dibuktikan bahwa pengharapan kita akan langit dan bumi baru bukan suatu pengharapan yang membuat kita pasif, melainkan harus aktif dengan memperjuangkan kerajaan Shalom. Marilah kita menantikan terwujudnya langit dan bumi yang baru dengan bekerja keras didalam hidup sekarang ini dan disini. Seperti tulisan yang lalu, semoga tulisan ini pun menjadi berkat bagi kita.
Ditulis oleh Pdt. Em. Agustinus Kermite

