Baptisan


Baptisan sering-kali juga disebut dengan baptisan Kudus. Baptis atau Baptisan Kudus bagi GKI adalah salah satu dari 2 Sakramen (yang lain adalah Perjamuan Kudus – Tata Laksana Tata Gereja GKI Bab VIII pasal 20 ayat 1). Melalui Babtisan Kudus ini seseorang menjadi anggota GKI baik sebagai anggota Sidi (kalau yang diterima adalah Babtisan dewasa) maupun sebagai Anggota Baptisan (kalau yang diterima adalah Babtisan Anak). Baptisan dewasa memasukan seseoramg menjadi anggota sidi karena ketika seseorang akan menerima baptisan dewasa, orang itu harus Mengaku Percaya (Sidi) dahulu (Tata Laksana Tata Gereja GKI Bab VIII pasal 21 ayat 1), sedangkan baptisan anak tidak dilakukan.

BAPTISAN KUDUS ADALAH PERINTAH TUHAN YESUS
Baptisan Kudus tidak dilakukan karena keinginan pribadi atau karena kehendak penatua, tetapi karena perintah Tuhan Yesus sendiri (Matius 28:19), baptisan kudus dilaksanakan untuk mengingatkan jemaat tentang kasih Allah di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus, yang telah mencurahkan darahnya untuk manusia berdosa (1 Korintus 11:25)

FORMULA BAPTISAN KUDUS DAN ARTINYA
Formula Baptisan Kudus yang dianggap sah oleh GKI adalah: dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Itu berarti kalau dibaptis tidak dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus oleh GKI tidak dianggap sah. Dipercik dengan air. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa artinya dibaptis dalam nama Bapa, Anak dab Roh Kudus. Sebelum kita membahas apa arti formula baptisan itu, saya ingin menegaskan bahwa seseorang yang dibaptis dipercik dengan air. Saya katakan dipercik karena ada yang mengajarkan bahwa dibaptiskan harus diselamkan kedalam air. Cara tidaklah penting, karena ada yang lebih penting yaitu Iman yang dimiliki oleh orang yang dibaptiskan, iman dari orang yang menerima baptisan yang menjadi dasar dari baptisan itu. Hal ini akan kita bahas nanti. Sekarang kita kembali pada makna formula itu

Dibaptis dalam nama Bapa berarti, orang yang menerima baptis telah masuk dalam lingkungan kasih dan anugerah Bapa. Allah mau bergaul dengannya sebagai Bapa, sampai ia, yang menjadi anak Allah mewarisi Kerajaan yang sempurna dan kekal. Inilah perjanjian yang Bapa buat bagi setiap orang yang menerima baptisan. Dibaptis dalam nama Anak artinya, orang yang dibaptis menerima anugerah dari apa yang telah dibuat oleh Sang Anak yaitu menyerahkan diriNya bagi orang yang dibaptiskan itu. Dengan pengorbananNya, yaitu darahNya terkucur Ia telah membasuh semua dosa orang itu dan melalui itu Ia telah mendamaikan orang itu dengan Allah, sehingga memungkinkannya menjadi anak Allah. Dibaptis dalam nama Roh Kudus berarti, Roh Kudus telah dikaruniakan kepada orang yang dibaptis itu. Dan itu adalah jaminan dari semua yang telah disediakanNya (2 Korintus 1:22).

IMAN MENDASARI BAPTISAN
Kita kembali pada masalah kita, yaitu bahwa Iman adalah hal yang terpenting dalam baptisan, bahkan dapat dikatakan bahwa Iman adalah dasar dari baptisan. Tanpa iman baptisan dengan dipercik air atau dengan selam sama sekali tidak berarti apa-apa. Itu berarti bukan cara kita dibaptis yang penting (diselam atau dipercik) yang penting, tetapi apakah kita mengimani bahwa oleh pengorbanan Tuhan Yesus dimana darahNya terkucur untuk pengampunan dosa dan sekaligus untuk keselamatan kita. Kita dapat dipercik 3X atau diselam 3X, tetapi tetap tidak akan menyelamatkan kita kalau kita tidak mengimani bahwa oleh pengorbananNya dimana darahNya terkucur diatas kayu salib untuk pengampunan dosa dan sekaligus keselamatan kita

Baptis memang berasal dari kata Yunani Baptizo yang artinya diselulupkan atau dibenamkan, nampaknya kata inilah yang menjadi dasar bahwa baptis baru sah kalau di selam. Tadi sudah dikatakan bahwa bukan caranya yang penting tapi iman yang mendasari baptisan itu yang penting. Memang harus diakui bahwa baptisan selam memberi gambaran yang bagus, dimana orang yang dibaptiskan
Mati dari dosa (pada waktu diselamkan) dan kemudian dibangkitkan dalam kehidupan yang baru (pada waktu dikeluarkan dari ketenggelaman) (bandingkan dengan Roma 6:3-4). Dengan demikian bukan caranya (walau baptis selam memberi simbolik yang bagus) bahkan bukan baptis yangmenyelamatkan kita tetapi iman kepada Tuhan Yesus.

Kalau iman begitu penting dan menentukan dalam baptisan maka munculah pertanyaan, mengapa anak-anak yang pasti belum bisa mendasarkan baptisan pada iman, dibaptiskan dan bukan diserahkan seperti yang dilakukan oleh beberapa gereja? Didalam Alkitab sama sekali tidak ada ayat yang mengatakan secara eksplisit tentang baptisan anak.

PERJANJIAN ANUGERAH ADALAH DASAR BAPTISAN ANAK
Yang pertama harus dikatakan adalah bahwa dasar dilayangkan baptisan adalah Perjanjian Anugerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus.Allah dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus berkenan mengikat perjanjianNya dengan manusia. Biasanya perjanjian itu diikat antara dua pihak yang setara. Tetapi Allah dalam Tuhan Yesus Kristus berkenan mengikat perjanjianNya dengan manusia. Allah tentu tidak setara dengan manusia, karena itu perjanjian itu disebut Perjanjian Anuguerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus. (Tata Gereja dan Tata Laksana GKI pasal 22 ayat 1).Pertanyaannya sekarang adalah, apa isi perjanjian itu? Isi perjanjian anugerah itu adalah bahwa Allah mengampuni dosa mereka dan akan menaruh perintah-perintahNya didalam hati dan pikiran umatNya (Yeremia 31:33-34; Ibrani 8:10-12; 10:16-17) dan Allah tidak mengikat perjanjian dengan orang dewasa saja, tetapi juga dengan anak-anak (Kisah Para Rasul 2:39).

Didalam Perjanjian Lama “sunat” yang adalah tanda ikatan perjanjian dilakukan kepada baik orang dewasa maupun kepada anak laki-laki (Kejadian 17:10), kini dalam Perjanjian Baru baptis menggantikan sunat (Kolose 2:11-13), kalau begitu baptispun bukan hanya dilakukan terhadap orang dewasa saja, tetapi juga pada anak-anak. Untuk masalah Iman, Iman orang tuanyalah yang menjadi dasar. Karena itu orang tuanya haruslah orang percaya. Kemudian orang tua yang membaptiskan anak mempunyai tanggung-jawab untuk mendidik anak itu didalam iman Kristen sampai anak itu mengakui imannya sendiri.

BAPTISAN MEMANGGIL ORANG YANG MENERIMANYA UNTUK HIDUP BARU
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa baptisan memasukkan seseorang dalam kematian Kristus (Roma 6:3-4), kemudian orang tersebut yang ‘telah mati’ bagi dosa itu telah dikuburkan bersama-sama dengan Kristus (ini dalam baptisan selam dilambangkan dengan diselamkan) dan kemudian dibangkitkan seperti Kristus telah dibangkitkan (dalam baptisan selam dilambangkan dengan dikeluarkan dari air, semua ini tidak Nampak dalam baptisan percik) dalam kehidupan yang baru, yaitu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (Roma 6: 11), karena itu baptisan memanggil sesorang hidup dalam kehidupan yang baru. Baptisan memanggil seseoramg tidak lagi hidup dalam dosa, tetapi hidup dalam suatu kehidupan yang baru yaitu hidup bagi Allah (Roma 6:11-14).

TIDAK ADA LAGI ‘BAPTISAN KHUSUS’
Yang dimaksudkan dengan ‘Baptisan Khusus’ adalah ‘Baptisan Roh Kudus’. Ada gereja gereja tertentu yang mengajarkan bahwa setelah seseorng menerima baptisan air, ia perlu untuk menerima baptisan Roh Kudus yang ditandai dengan tanda-tanda yang luar biasa (antara lain bahasa Roh). Tadi ketika kita membicarakan ‘formula baptisan’, kita membicarakan bahwa sesorang juga dibaptis dalam Roh Kudus. Dan dikatakan bahwa di baptis dalam Roh Kudus artinya bahwa kepada orang yang telah dibaptiskan itu Roh Kudus telah dikaruniakan. Kalau melalui baptisan air Roh Kudus telah dikaruniakan maka tidak perlu lagi baptisan khusus. Demikian pula ketika kita membicarakan bahwa baptisan mengundang seseorang untuk hidup didalam kehidupan baru, kita juga diyakinkan bahwa kehidupan yang baru itu tidak mungkin oleh usaha sendiri, hidup baru adalah karya Roh Kudus, ini juga mau mengatakan bahwa baptisan khusus tidak perlu.

BAPTISAN MEMASUKAN SESEORANG DALAM PERSEKUTUAN UMAT ALLAH
Di atas juga telah dikatakan bahwa baptisan adalah ‘Pintu Masuk’ menjadi anggota GKI , ini juga mau mengatakan bahwa baptisan memasukan seseorang (yang menerimanya) ke dalam persekutuan umat Allah, atau orang percaya. Itu sebabnya pembaptisan selalu dilakukan di tengah-tengah perhimpunan jemaat (ada Pendeta dan Majelis Jemaat serta anggota jemaat), selanjutnya orang yang telah dibaptis menjadi anggota gereja. Ia menjadi anggota baptisan (kalau yang diterima adalah baptisan kudus anak) atau dia menjadi anggota sidi (kalau yang diterima adalah baptisan dewasa. Kalau ia permah menerima baptisan anak, biasanya ia terlebih dahulu menjalani katekisasi –Tata Dasar GKI pasal 8 ayat 1). Baptisan normalnya dilakukan di gedung gereja, tetapi karena alasan yang bisa diterima, bisa dilakukan di rumah atau di rumah sakit.

You May Also Like

About the Author: gkikelapacengkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Fatal error: Uncaught wfWAFStorageFileException: Unable to save temporary file for atomic writing. in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php:34 Stack trace: #0 /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php(658): wfWAFStorageFile::atomicFilePutContents('/home/u7049137/...', '<?php exit('Acc...') #1 [internal function]: wfWAFStorageFile->saveConfig('livewaf') #2 {main} thrown in /home/u7049137/public_html/wp-content/plugins/wordfence/vendor/wordfence/wf-waf/src/lib/storage/file.php on line 34